Sengketa Hati (CALYA)

Sengketa Hati (CALYA)
Janji untuk Bertahan


__ADS_3

Menatap jauh ke luar melalui kaca jendela dengan tatapan kosong, Calya perlahan menoleh pada suara yang baru muncul di kamar tidurnya.


"Sayang ... apa kamu baik-baik saja?" Dirga, sang suami berjalan menghampirinya.


"Kamu tahu, saya sedang tak baik-baik saja," sahut Calya.


"Dia ... Haira ... aku juga tidak mengerti kenapa dia sampai berani datang ke kantor, bertemu Pak Bambang dan mengatakan segalanya. Cal ... tetaplah bertahan. Kita akan menghadapi ini bersama. Semua akan baik-baik saja." Dirga kini sudah berada di hadapan Calya.


"Seharusnya saya yang menanyakan tentang sikapmu. Sikap apa yang akan kau ambil menghadapi istri keduamu itu?"


"Dia sungguh sudah keterlaluan. Dia memang berniat menghancurkan rumah tangga kita."


"Kamu baru menyadarinya sekarang? Setelah bercinta dengannya di malam bulan madu kalian?"


"Cal ...."


"Kenapa, Dir? Seandainya saja otakmu waras dan tak pernah menikmati pernikahan itu, kamu pasti tidak akan pernah menyentuhnya. Kamu sudah melanggar janji. Dan sekarang ... ini adalah akibat dari perbuatanmu sendiri. Wanita itu tidak akan berani sampai sejauh ini bila dia tak memiliki senjata untuk menyerangku. Dia memiliki senjata yang bahkan lebih dahsyat dari takdir. Dia mendapatkan cinta kedua orang tuamu. Dan dia ... akan memberikan kebahagiaan padamu melalui anak yang dikandungnya."


Dirga merunduk. Seakan baru saja mendapat hujaman anak panah dari kata-kata Calya.

__ADS_1


"Aku menyesal, Cal."


"Penyesalan memang selalu di belakang, Dir. Sekarang ... semua tergantung padamu."


"Ya, apa pun yang terjadi, hubungan kita akan tetap begini selamanya, Cal. Aku berjanji padamu." Dirga mendekat, meraih kedua tangan wanitanya, lalu memeluk erat tubuh istrinya itu.


***


Keesokan harinya, Calya mendapat telepon dari istri Pak Bambang yang adalah ketua organisasi wanita di kantor Dirga. Ia diminta hadir ke kantor untuk acara pertemuan rutin bulanan. Selain itu, tentu saja Bu Bambang ingin mendengar secara langsung berita tentang pernikahan kedua Dirga dari mulut Calya.


"Aduh Bu Dirga, bagaimana ceritanya bisa begitu?" Bu Dito menyapa Calya yang baru masuk ke ruangan pertemuan itu.


"Itu yang Pak Dirga menikah lagi."


"Bu Dirga ...." Bu Bambang mengambil alih obrolan. "Saya merasa perlu untuk mengetahui kejelasan masalah ini dari Bu Dirga secara langsung, karena meski ini adalah urusan pribadi, tetapi karena wanita yang mengaku sebagai istri kedua Pak Dirga sudah datang ke sini dan menghadap pada pimpinan kantor, maka saya sebagai ketua organisasi wanita di sini pun perlu mendapat informasi yang sesuai."


Calya mengangguk, mengiyakan perkataan Bu Bambang.


"Iya, Bu. Memang benar, Pak Dirga menikah lagi, dan itu atas sepengetahuan saya."

__ADS_1


"Waduh, kok bisa begitu sih Bu Dirga?" Bu Heri menyahut.


"Kok bisa sih mengizinkan suami menikah lagi di usia kalian yang masih semuda ini?" Bu Dito pun menyela.


"Ya, tentu semua ada alasannya. Kami melakukan hal itu dengan alasan kemanusiaan. Istri kedua Pak Dirga mengalami sakit keras dan meminta permintaan pada keluarganya untuk menikah dengan Dirga agar ia mau dioperasi. Hmm ... dahulu mereka memang sepasang kekasih."


"Astaghfirullah ...." Riuh suara ibu-ibu menyahuti pemaparan Calya.


"Lalu Bu Calya mengizinkan?" tanya Bu Bambang.


"Ibu wanita itu datang ke sini dan memohon pada saya, demi keselamatan putrinya. Tak ada pilihan, panggilan untuk menolong sebagai rasa kemanusiaan menggerakkan hati saya untuk memberi izin." Calya berhenti sejenak.


"Bu Bambang, Bu Heri dan Bu Dito tidak perlu khawatir, rumah tangga saya bersama Pak Dirga akan baik-baik saja." Calya melanjutkan.


"Tapi ... dengar-dengar ... istri kedua Pak Dirga sedang mengandung anak Pak Dirga. Apa benar begitu, Bu?" tanya Bu Heri lagi.


Mendengar hal itu, sendi-sendi Calya terasa nyeri. Ia tak menyangka bila berita kehamilan Haira pun sudah menyebar di kantor ini.


Lidahnya terasa kelu. Kaku. Ia tak tahu harus menjawab apa. Bila mengiyakan, hal itu tentu menjadi bumerang baginya. Orang-orang akan menyimpulkan bila Dirga menikmati pernikahannya dengan sang istri kedua.

__ADS_1


***


__ADS_2