Sengketa Hati (CALYA)

Sengketa Hati (CALYA)
Hari Baru dan Bertemu Masa Lalu


__ADS_3

Pagi ini Dirga sudah bersiap untuk ke kantor. Haira yang baru saja bangun memanggilnya dari pintu kamar, tepat di saat Dirga akan membuka pintu ruang tamu.


"Sayang, jangan lupa lho, hari ini kamu harus segera mengurus surat-surat pernikahan kita."


Dirga menengok pada Haira, lalu mengangguk.


"Oh iya, satu lagi, kasur sama lemari baru pagi ini juga harus sudah ada. Semalam aku tidurnya tidak nyenyak karena terus membayangkan kalau kasur itu bekas dipakai sama perempuan lain. Makanya sekarang bangunnya kesiangan gini," gerutu Haira.


"Iya," sahut Dirga singkat.


Kemudian segera membuka pintu dan pergi.


Sementara itu, Haira mengambil telepon genggamnya. Kemudian menghubungi seseorang.


"Halo, Bu Heri ..."


"Eh, Bu Haira," sahut penerima teleponnya.


"Sekarang kan sudah bisa panggil aku Bu Dirga. Sudah resmi sebagai satu-satunya. Iya kan?" gumam Haira.


"Owalah ... iya iya .... Maaf ya Bu Dirga. Hmm ... terus ada apa nih pagi-pagi begini menelepon saya?" tanya Bu Heri.


"Hmm ... begini Bu Heri, aku kan baru masuk di rumah dinas. Terus aku berniat mengganti barang-barang yang ada di sini. Ya, bekas pakai orang lain kan. Aku kan tidak mau kalau sampai suamiku terbayang-bayang perempuan lain karena masih ada barang-barang yang dulu pernah dipakainya. Jadi ... dari pada dibuang, Bu Heri bisa bantu aku tidak untuk ngasih barang-barang itu ke siapa gitu," papar Haira.


"Wah ... barang-barang apa saja, Bu Dirga?" tanya Bu Heri bersemangat.


"Ada kasur, lemari, barang-barang dapur gitu. Hmm sofanya juga kayaknya mau aku ganti deh," sahut Haira.


"Apa? Aduh ... Bu, semua itu kan barang-barang baru. Sayang deh kalau dikasi ke orang lain. Saya juga kan mau," ujar Bu Heri.


"Oh ya sudah, Bu Heri saja yang ambil. Bagi dua sama Bu Dito," ucap Haira.


"Wah dengan senang hati. Siang ini juga kami akan ke sana ya. Terima kasih lho Bu Dirga. Memang, Bu Dirga ini terbaik deh. Tidak rugi Pak Dirga dapat istri yang baik hati seperti Bu Dirga ini," gombal Bu Heri.


"Oke Bu Heri. Kalau begitu aku tunggu nanti siang ya."


Haira pun menutup teleponnya. Sambil menyanyi kecil, ia memulai harinya sebagai nyonya baru rumah ini, beserta dengan status sahnya sebagai seorang istri.


***


Sementara itu, di belahan bumi yang lain Calya memulai harinya dengan bersiap-siap mencari pekerjaan. Mula-mula, ia singgah di sebuah toko percetakan. Menanyakan bila ada penerimaan karyawan di bagian fotocopy atau percetakan undangan. Namun, hasilnya nihil.


Tak putus asa, Calya kembali berjalan, memasuki toko demi toko. Menanyakan hal yang sama. Namun, hingga sinar matahari semakin meninggi, Calya tak juga mendapatkan apa yang ia cari.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, wanita itu tiba di sebuah cafe. Tampak belum begitu ramai. Karena merasa haus, ia pun singgah ke cafe itu untuk sekadar beristirahat dan memesan segelas jus.


Setelah seorang pelayan datang dan mengantarkan pesanannya, Calya pun memberanikan diri untuk bertanya padanya tentang kemungkinan adanya lowongan pekerjaan di cafe ini.


"Hmm kemarin sih ada yang kebetulan berhenti, Mbak. Sampai sekarang belum ada penggantinya. Tapi, saya tidak tahu apakah Pak Bos sedang mencari penggantinya atau tidak," sahut pelayan itu.


"Apakah saya bisa bertemu dengannya?" tanya Calya.


"Hmm ... sebentar ya, Mbak. Saya tanyakan dulu ke bagian dalam," ujar pelayan itu lagi.


Setelah itu, dia pun beranjak meninggalkan Calya. Sampai beberapa menit kemudian, ia kembali dan mengatakan bahwa sang pemilik cafe itu yang akan keluar dan menemuinya.


Calya merasa heran dan sedikit terkejut dengan perkataan pelayan itu. Bagaimana mungkin seorang pemilik cafe yang akan menemuinya, bukan sebaliknya.


Sementara itu, semenjak beberapa menit yang lalu, sang pemilik cafe yang berada di ruang kerjanya sejenak tertegun saat melihat ke arah layar komputer yang menampilkan gambar dari kamera cctv yang terpasang di seluruh bagian cafe.


Matanya beberapa kali membeliak saat melihat sosok seorang wanita berada di dalam cafe miliknya itu. Tentu saja, karena ia mengenalinya. Bahkan pernah sangat mengenalnya.


"Calya ...," desisnya.


Sampai beberapa menit kemudian, seseorang mengetuk pintu ruangannya.


"Masuk!" serunya dari dalam.


"Ada apa?" tanyanya pada pramusaji itu.


"Maaf, Pak. Ada seorang wanita yang datang ke cafe, tadinya dia memesan minuman, lalu setelah saya antarkan, dia justru menanyakan lowongan kerja sebagai pramusaji di sini. Kemarin kan Dini barusan keluar, nah apa Bapak akan menerima penggantinya?" ungkap wanita itu pada sang atasan.


"Wanita? Maksudmu wanita yang ini?" tanya pria itu sambil menunjuk ke arah layar komputernya.


"Iya, Pak. Dia orangnya."


"Hmm ... ya, kita memang membutuhkan seorang pegawai baru," jawab pria itu.


"Jadi ... saya persilakan dia masuk ya, Pak?" tanya pramusaji tadi.


"Tidak usah. Saya yang akan menemuinya di cafe," ujar pria itu lagi.


"Oh, baik, Pak, akan saya sampaikan padanya," ucap pramusaji itu lagi, kemudian pamit untuk meninggalkan ruangan itu.


***


"Permisi, apa Anda sedang mencari pekerjaan?"

__ADS_1


Suara seorang pria dari arah belakangnya, membuat Calya terkejut. Spontan, ia pun membalikkan wajahnya.


Gegau. Calya membelalak. Mendapati pemilik suara itu adalah sosok yang diketahuinya.


Nanar, wanita itu menatap wajah pria yang berdiri di dekatnya itu. Wajah yang pernah mengisi khayalannya selama tiga tahun, sejak kuliah hingga ia bekerja. Beberapa saat sebelum ia berjumpa dengan Dirga.


Wajah itu juga, yang kemudian menghilang tanpa alasan yang pasti. Pergi tanpa pesan. Tak ada kabar berita hingga menyisakan luka di hatinya.


Perlahan, Calya berdiri. Mensejajarkan wajahnya dengan wajah pria itu. Menatap lekat mata yang pernah membawanya masuk dalam cahaya kebahagiaan dan mimpi-mimpi indah.


Lelaki itu ... lelaki yang pernah dicintainya. Mantan kekasihnya.


"Raindra ...," desis Calya.


"Lelaki berwajah tampan dengan rambut gondrong yang terkuncir ke belakang itu menyahut, "Ya."


"Kamu ... masih hidup?" gumam Calya lagi.


"Apa kamu kira yang berdiri ini adalah hantu?"


Calya sedikit membuka mulutnya. Rasa tak percaya masih menyeruak di benaknya. Bagaimana mungkin ia bisa bertemu dengan lelaki itu di kota ini. Sementara mereka sama-sama berasal dari Pulau Sulawesi.


"Maaf, saya harus pergi," ujar Calya sambil meraih tasnya dan melangkah hendak pergi.


Namun, dengan cepat Raindra menarik tangan Calya. Menahan langkahnya untuk maju.


"Tunggu!" seru Raindra.


Calya kembali menoleh pada Raindra. Menatapnya penuh tanya.


"Duduklah, biar kita mengobrol sebentar," ujar Raindra.


"Apa yang harus kita bicarakan?" tanya Calya.


"Bukankah kamu sedang mencari pekerjaan?" gumam Raindra.


Calya hening selama beberapa detik. Menyadari bahwa yang dikatakan oleh pramusaji tadi tentang pemilik cafe yang akan menemuinya adalah pria yang ada di hadapannya ini.


"Sudah tidak lagi," sahut Calya. Kemudian menepis tangan Rainda yang memegangnya.


Setelah itu, ia bergegas keluar dari cafe dan menyusuri jalan di luar sana.


***

__ADS_1


__ADS_2