
Suasana bandara Jakarta malam ini cukup ramai. Penerbangan dari Surabaya telah diumumkan mendarat. Dirga sudah bersiap-siap di ruang kedatangan untuk menyambut kedua orang tuanya.
Selang beberapa waktu, kedua sosok yang ditunggunya pun muncul. Dirga menghampiri mereka dan meraih koper yang digeret oleh ayahnya.
Kini mereka sudah berada di dalam mobil. Dirga mengendarai mobil milik Pak Broto.
"Dirga, kemarin Calya menelepon Ibu." Ibu Dirga memulai percakapan.
Mendengar hal itu, Dirga sontak menginjak rem. Menghentikan laju mobilnya.
"Apa, Bu? Calya menelepon? Untuk apa?" tanya Dirga kaget.
"Calya mencarimu. Katanya kau sudah janji untuk segera pulang, tapi sampai kemarin tak jua pulang dan tak memberi kabar," sahut ibunya.
__ADS_1
Dirga mencengkeram rambutnya dengan kedua tangan. Sesaat kemudian dia membenturkan kepalanya ke kemudi mobil.
"Dirga, kamu kenapa, Nak?" Ayah dan ibu Dirga panik melihat perbuatan Dirga seperti itu.
"Dirga tak jujur pada Calya. Dirga sudah membohonginya. Dirga bingung, Bu, Pak. Dirga harus bagaimana. Semua ini seperti buah simalakama. Kenapa ini harus terjadi pada Dirga?"
"Semua ini sudah takdir, Nak. Kamu sudah ditakdirkan untuk memiliki dua istri. Keduanya wanita yang baik. Percayalah, dari kejadian ini pasti ada hikmahnya. Ibu dan Bapak pun menyetujui pernikahan keduamu ini karena percaya bila ini sudah suratan. Apalagi saat kau bilang bahwa Calya menyetujuinya. Dan juga ... ada hal lain yang kami harapkan dari pernikahan keduamu ini," ucap ibu Dirga menenangkan putranya.
"Hal lain apa yang ibu dan bapak harapkan?" tanya Dirga.
Dirga seketika menatap lekat pada ibunya. Sungguh perkataan ibunya sebenarnya menyakitkan baginya. Bagaimanapun di lubuk hatinya tetap tak menerima bila Calya dihinakan. Ucapan ibunya tadi secara tak langsung telah memberikan label pada Calya sebagai wanita tak sempurna.
***
__ADS_1
Sesampai di rumah Pak Broto, kedua orang tua Dirga disambut hangat. Sebuah kamar tamu telah dipersiapkan untuk mereka.
Saat ini, kedua keluarga lengkap telah berkumpul di ruang tamu.
"Pak Edy dan Bu Edy ... sebelumnya maaf ya karena resepsi pernikahan Haira dan Dirga kami adakan di Jakarta, bukan di Surabaya. Karena semua serba mendadak, tak ada waktu lagi untuk mondar-mandir ke Surabaya. Padahal keluarga besar kami pun kebanyakan ada di sana." Pak Broto memulai pembicaraan.
"Tak masalah, Pak. Dimanapun lokasi acara yang penting berjalan lancar," sahut Pak Edy, ayah Dirga.
"Undangan pun tak banyak, hanya keluarga yang ada di Jakarta dan kolega-kolega saja," ujar Pak Broto lagi.
"Bagi kami, yang terpenting juga adalah kebahagiaan yang akan dirasakan oleh Haira dan Dirga, terutama Haira. Kami sudah mengenalnya sejak mereka berpacaran dulu, tapi rupanya saat itu mereka belum berjodoh. Padahal, kami sudah sangat menyukai Nak Haira. Tapi yang namanya takdir memang tak bisa dielakkan. Sudah digariskan oleh Yang Kuasa bahwa Haira memang akan menjadi menantu kami." Ibu Dirga berucap.
Percakapan kedua keluarga terlihat sangat hangat. Aura kebahagiaan yang terpancar melengkapinya.
__ADS_1
Senyum Haira terus merekah. Tatapan mesra dan penuh cinta senantiasa disorotkan pada Dirga, pria yang dicintainya. Keinginan yang telah lama terpendam kini menjadi nyata. Kini dia tak hanya ingin sembuh, tetapi ingin hidup lebih lama lagi bersama suaminya itu.
Namun, di saat semua orang merasa gembira, Dirga hanya dapat terdiam. Hatinya berkecamuk, merindukan Calya. Memikirkan apa yang terjadi pada istrinya saat ini membuatnya tak bisa berkata.