Sengketa Hati (CALYA)

Sengketa Hati (CALYA)
Masa Lalu yang Pernah Pergi


__ADS_3

"Cal ... Calya!" Raindra meneriakkan nama Calya. Tentu, sambil berusaha mengejarnya.


Calya yang berjalan semakin cepat, tiba-tiba merasakan pusing yang teramat sangat. Terik matahari ditambah perutnya yang lapar membuat tenaganya untuk berjalan berkurang. Apalagi, saat ini ia sedang mengandung.


Calya berhenti berjalan untuk memegangi kepalanya. Namun, bumi seakan semakin berputar. Kepalanya semakin berkunang-kunang.


Tubuh itu pun perlahan mulai terhuyung.


"Calya!"


Tepat di saat itu Raindra sudah berada di belakangnya, menangkap tubuh wanita itu.


Bergegas, Raindra membopong Calya masuk kembali ke cafe miliknya. Di sana ia segera meminta karyawannya untuk membukakan pintu ruangannya.


Di atas sebuah sofa panjang, Raindra membaringkan tubuh Calya.


"Tolong ambilkan minyak angin," ujar pria itu pada bawahannya.


Sambil menunggu, Raindra mengusap lembut wajah Calya. Tampak keringat membasahi pelipis wanita itu.


"Calya ...." Raindra kembali berdesis.


Sampai karyawan tadi datang dan membawa minyak angin dan memberikannya pada Raindra.


Dengan cepat, Raindra mengarahkan minyak angin itu ke hidung Calya. Hingga beberapa detik kemudian, kepala Calya mulai bergerak dan ia membuka mata.


Kepala Calya masih terasa pusing. Namun, saat menyadari bahwa ia berada di tempat yang tak dikenali, Calya berusaha untuk bangun dan duduk.


"Di mana saya?" lirihnya.


"Di ruangan saya," sahut Raindra.


"Kamu ...," gumam Calya sambil menatap lekat pada Raindra.


"Tadi kamu pingsan, sepertinya ... kamu kelelahan. Istirahatlah dulu di sini." Sesaat kemudian, Raindra berpaling pada pegawainya yang masih berdiri di belakangnya.


"Rara, tolong ambilkan teh hangat ya."


"Iya, Pak," sahut pramusaji bernama Rara itu.


Setelah itu, Raindra mengambil tempat duduk di samping Calya. Sementara wanita itu, masih terpaku di tempatnya. Ia ingin berdiri, tetapi rasa pusing di kepalanya itu menahannya untuk tak bergerak.


"Cal ...," desis Raindra lagi.


"Mengapa kamu masih hidup?" Kembali Calya menanyakan hal itu.


"Kamu berharap saya sudah mati?" Raindra balik bertanya.


"Seharusnya begitu. Orang yang menghilang dan tak ada kabar beritanya, bukankah seharusnya dia sudah mati?" gumam Calya.


"Mungkin begitu. Namun, bisa saja dia hidup kembali untuk memberi penjelasan," sahut Raindra.


"Untuk siapa?"

__ADS_1


"Untuk seseorang yang pernah ditinggalkannya."


"Untuk apa lagi?"


"Untuk sekadar meminta maaf."


"Terlambat."


"Ya, saya tahu. Orang itu sudah dimiliki oleh orang lain."


Calya terhentak dengan ucapan Raindra. Tentu saja, mungkin mantan kekasihnya itu telah mengetahui bila ia telah menikah dengan lelaki lain.


Kala itu, dimana ia tengah mengalami patah hati karena sang kekasih pergi tanpa kabar berita, Dirga hadir dengan cinta yang begitu indah. Membunuh kesedihannya dengan impian pernikahan yang bahagia.


Raindra menghilang. Benar-benar menghilang karena kehadiran Dirga yang mampu menyembuhkan lukanya.


"Saya pergi saja," ucap Calya sambil mencoba untuk berdiri.


"Tidak, kamu masih kelihatan pucat. Tinggallah dulu beberapa saat," pinta Raindra sambil mencoba menahan Calya agar tetap duduk.


Tepat di saat itu, Rara telah datang kembali dengan membawa segelas teh hangat, dan meletakkannya di atas meja.


"Ada lagi, Pak?" tanya Rara.


"Oh iya, sekalian minta chef untuk buatkan nasi goreng juga. Jangan terlalu pedas, pakai acar mentah, telurnya didadar tambahkan bawang goreng," ujar Raindra lagi pada Rara.


Yang diiyakan oleh gadis itu sebelum ia berjalan keluar dari ruangan milik bos-nya itu.


Sementara itu, Calya terkesiap dengan menu yang diucapkan oleh Raindra tadi. Tentu saja, karena nasi goreng dengan kelengkapan seperti itu adalah menu kesukaannya. Calya tertegun karena menyadari bahwa Raindra masih menghapal dengan tepat hal itu.


"Tadi kamu berkeringat dingin. Itu pertanda bahwa kamu belum makan. Ini sudah siang, sudah waktunya untuk makan siang," sahut Raindra.


Calya pun terdiam. Bagaimana pun perkataan Raindra memang benar adanya. Calya sedang merasa lapar. Apalagi, saat ini ia sedang hamil, tentu saja rasa laparnya semakin berlipat.


Mengingat kehamilannya, Calya pun mengurungkan niat untuk pergi. Benar kata Raindra, lebih baik dia makan dulu. Demi bayinya. Meski Raindra sendiri tak mengetahui hal itu.


Beberapa saat kemudian, Rara sudah kembali masuk dengan membawa sepiring nasi goreng sesuai pesanan Raindra tadi. Setelah meletakkannya di meja, gadis itu kembali pergi.


"Makanlah," ujar Raindra pada Calya.


Sejenak, Calya hanya terdiam memandangi nasi goreng itu.


"Atau mau ku suap?" tanya Raindra, membuat Calya menoleh padanya.


Sebabnya, Calya kembali teringat masa lalu, ketika mereka masih bersama. Raindra akan memaksa Calya untuk makan saat ia sedang sakit. Bahkan sampai menyuapinya.


"Saya akan makan sendiri," sahut Calya.


Raindra membalasnya dengan senyuman.


Perlahan, Calya meraih piring nasi goreng itu. Kemudian mulai menyantapnya.


"Di mana suamimu? Setelah makan, kabari lah dia untuk menjemputmu, jangan pergi sendiri," ujar Raindra di sela-sela makan Calya.

__ADS_1


Membuat wanita itu sejenak menghentikan makannya.


"Kenapa?" tanya Raindra lagi.


"Saya akan pulang sendiri," jawab Calya.


"Pulang?" Ke hotel mana?" tanya Raindra.


Calya mengangkat kepalanya. Menatap Raindra. Tentu saja bila lelaki itu berpikir bahwa saat ini Calya sedang berlibur di kota ini.


"Bukan hotel. Saya tinggal bersama Myesha, di kamar kos-nya," sahut Calya.


"Myesha? Dia tinggal di Yogya?"


Calya mengangguk. "Kuliah."


"Oh ya, sudah berapa lama?" tanya Raindra lagi.


"Dua tahun."


"Berarti sekarang kamu datang ke sini untuk mengunjunginya? Tidak dengan suamimu?" lanjut Raindra menyelidik.


Calya hanya terdiam. Membuat Raindra mengambil kesimpulan bahwa pertanyaannya adalah benar.


"Lalu ... kamu tadi mencari pekerjaan untuk Myesha? Dia pasti bosan dengan kuliahnya, dan ingin bekerja paruh waktu. Begitu kan?"


Kembali lagi, Calya tak menjawab, sehingga Raindra kembali membenarkan tanyanya sendiri.


"Ayo, habiskan makananmu. Setelah itu, saya akan mengantarmu," ujar Raindra, menyentakkan Calya dari keheningannya.


"Saya sudah bilang, saya akan pergi sendiri," gumam Calya.


"Oke ... baiklah," sahut Raindra.


Calya pun melanjutkan makannya hingga benar-benar habis. Teh hangat juga sudah tuntas ditenggaknya.


"Saya ... pergi dulu. Em ... terima kasih," ujar Calya sambil berdiri.


Raindra mengangguk. "Sama-sama."


Calya berjalan hendak keluar, saat Raindra kembali memanggil namanya.


"Cal ..."


Wanita itu menoleh. "Ya?"


"Maaf ...."


Calya terdiam sejenak menatap kelu pada Raindra. Kata maaf itu seakan tak berguna lagi kini. Calya tak mengerti mengapa Raindra mengucapkannya sekarang. Mengapa itu tak dilakukannya sejak dulu.


Calya kembali berpikir, mengapa Raindra bisa berada di kota ini dan memiliki usaha cafe ini. Apa yang sebenarnya telah terjadi pada sang mantan kekasih kala ia pergi dan menghilang puluhan purnama itu.


Namun, Calya merasa tak perlu untuk mengetahuinya. Baginya semua sudah teramat sangat terlambat. Masa lalu itu tak perlu dikenang lagi. Sama seperti kini dirinya yang tengah berusaha untuk melupakan Dirga, sang mantan suami.

__ADS_1


Bergegas, tanpa bicara, Calya menarik pintu ruangan itu, dan pergi meninggalkan Raindra di dalamnya. Selanjutnya, Calya pun meninggalkan cafe itu, pulang menuju ke kontrakan milik adiknya yang berjarak tak begitu jauh dari tempatnya berada ini.


***


__ADS_2