
Haira melangkah masuk ke dalam rumah dinas ini dengan senyuman bahagia. Lebih dari itu, adalah senyum kemenangan.
Di ruang tamu, ia melihat sebuah kardus dan plastik teronggok di meja. Perlahan Haira membuka kardus itu, menampakkan beberapa pigura foto kebersamaan Dirga dan Calya.
"Heh, kenapa tidak langsung dibuang saja sih barang-barang ini, Dir?" pekik Haira pada Dirga yang sedang berada di kamar.
"Nanti ada yang akan datang ambil. Begitu pesan Praba kemarin sebelum berangkat," sahut Dirga.
Haira kemudian membuka bungkusan plastik, melihat isinya yang adalah seprai itu. Wanita itu pun langsung membayangkan bahwa di atas seprai ini suaminya pernah tidur bersama wanita lain. Dengan cepat, ia menutupnya kembali. Kemudian bergegas menuju ke dalam kamar.
Di sana, sang suami sedang duduk di tepi tempat tidur.
"Kamu mikirin apa?" tanya Haira, membuat Dirga tercengang.
"Eh, tidak. Aku hanya merasa sedikit pusing," jawabnya.
Haira mengitari pandangan ke seisi kamar. Sebelumnya kembali berkata, "Dir, aku mau semua barang di kamar ini diganti. Aku tidak mau tidur di bekas perempuan itu. Juga memakai barang-barang lain yang pernah dipakainya.
Dirga berdiri, lalu berkata, "Terserah kamu saja, Ra."
Kemudian berlalu keluar dari kamar.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu menghentikan langkah Dirga yang akan menuju dapur. Sebaliknya, ia kini menuju ke arah pintu dan membukanya.
__ADS_1
"Ya, ada apa Mas Agus?" tanya Dirga pada cleaning servis yang bekerja di kantornya itu.
"Ini, Pak. Kemarin Pak Praba pesan sama saya untuk mengambil barang-barang yang ada di rumahnya dan juga di rumah ini," jawab Mas Agus.
"Oh, iya. Itu, ambillah," ucap Dirga sambil menunjuk ke arah kardus dan plastik yang ada di meja.
Mas Agus pun melangkah masuk dan mengambilnya. Namun, saat mengangkat kardus itu, kaki Mas Agus sedikit tersenggol meja, membuat kardus yang dibawanya jatuh dan menumpahkan sebagian isinya di kaki Dirga.
"Aduh, maaf Pak," ujar Mas Agus.
"Iya, tidak apa-apa, mari aku bantu, Pak," sahut Dirga sambil berjongkok dan memunguti pigura foto itu.
Akan tetapi, saat mengambilnya, Dirga tertegun mengamati gambar dirinya dan Calya di situ. Senyum bahagia merona di wajahnya dan Calya saat menjalani pemotretan kala itu. Tentu saja, karena mereka pernah merasakan kebahagiaan bersama.
Jantung Dirga berdebar, merasakan kekosongan berada di satu sisi organ vital itu kini. Memang begitu, sebab cinta itu belum benar-benar padam dari hatinya.
"Oh, iya. Ini, Mas," ucap Dirga sambil menyerahkan bingkai foto itu.
Setelah semua beres kembali, Mas Agus pun kembali berpamitan untuk pergi. Namun, di teras, Dirga kembali memanggilnya.
"Mas ...."
Mas Agus menoleh. "Iya, Pak?"
"Mau diapakan barang-barang itu?" tanya Dirga.
__ADS_1
"Oh, ini seprainya akan saya cuci, Pak. Ini kan masih bagus, jadi masih bisa dipakai. Terus bingkai fotonya mau saya ambil untuk dipakai menyimpan foto-foto keluarga," jawab Mas Agus.
"Oh ... terus, foto-fotonya mau diapakan?" selidik Dirga lagi.
"Em ... mungkin akan saya buang, Pak. Tidak apa-apa kan, Pak? Karena itu amanat dari Bu Calya," ujar Mas Agus.
Dirga terdiam sejenak, kemudian mengangguk pelan.
"Kalau begitu, saya permisi ya, Pak," ujar Mas Agus lagi.
Kali ini kembali dijawab dengan anggukan oleh Dirga.
Setelah Mas Agus pergi, Dirga masih terus terpaku di teras rumahnya. Sesaat ia melihat ke arah rumah yang pernah ditinggali oleh Praba. Dirga teringat saat Praba berpamitan pada semua pegawai di kantor kemarin. Tak ada yang menyangka bila ia mengalami mutasi secepat itu.
Namun, Dirga kembali berpikir akan sebuah kecurigaan. Bahwa Praba memang sengaja mengurus kepindahan tugasnya agar bisa pergi bersama Calya.
Saat ini juga, Dirga menggeram. Kedua telapak tangannya mengepal. Kebencian karena rasa cemburu membuatnya kemudian mengarahkan kepalan tangannya ke arah pintu.
Bruk!
"Sayang! Apa itu?" pekik Haira dari dalam kamar.
Sesaat kemudian, wanita itu sudah berlari menuju ke ruang tamu.
"Dirga, ada apa dengan pintu itu sampai kamu memukulnya?" tanya Haira.
__ADS_1
"Cuma mau mengetes saja, sepertinya pintu itu sudah lapuk. Waktunya diganti," ujar Dirga, kemudian melenggang masuk ke arah dapur.
***