
Suasana bandara tampak mulai ramai. Calya akan melakukan perjalanan dengan pesawat malam. Meninggalkan kota kecil ini dan menuju ke Yogyakarta.
Selepas dari rumah sakit tadi, Calya bergegas menuju bandara. Obat dan vitamin dari dokter pun sudah diminumnya. Praba juga telah membelikannya beberapa bekal makanan untuk menemani perjalanannya.
Pengumuman telah terdengar, meminta para penumpang tujuan Yogyakarta untuk naik. Calya segera berlalu menuju pintu itu. Berjalan melewati koridor yang akan mengantarkannya memasuki kabin pesawat.
Di ruang tunggu bandara yang lain, seorang pria tengah duduk menunggu panggilan keberangkatan pesawatnya menuju kota Semarang. Dia akan pulang menemui orang tuanya terlebih dahulu, sebelum kembali menuju ke tempat tugas barunya.
Ya, beberapa minggu yang lalu, Praba mendapatkan surat mutasi. Ia kembali dipindahkan untuk bertugas di kota yang baru. Yogyakarta.
***
Setelah melalui transit di satu kota, Calya pun tiba di bandara Yogyakarta pagi harinya. Si pintu kedatangan, Myesha, sang adik sudah menunggunya.
"Mbak ... Mbak Calya!" panggil Myesha sambil melambai-lambaikan tangannya.
Setelah saling bertemu, kedua kakak beradik yang berbeda usia tujuh tahun itu pun saling berpelukan.
"Kita langsung ke kos ya, Mbak," ajak Myesha yang dibalas dengan anggukan oleh Calya.
Sesampai di kamar kos milik Myesha, Calya pun bergegas mandi dan berganti pakaian. Sementara Myesha sudah menyiapkan sepiring gado-gado dan teh hangat untuk sang kakak.
__ADS_1
"Ayo sarapan dulu, Mbak. Pasti lelah kan perjalanan jauh," ujar Myesha.
"Lumayan, Sha," sahut Calya.
"Tapi ... Myesha tahu, yang lebih lelah lagi adalah hati Mbak Calya," lanjut Myesha.
Calya terdiam sejenak, kemudian mengambil piring yang berisi gado-gado di atas meja.
"Beli di mana ini, Sha? Rasanya enak," guman Calya.
"Di Simbok ujung gang, langganan Myesha."
Setelah menyantap gado-gado itu sampai habis, Calya mengambil tasnya. Kemudian mengeluarkan bungkusan plastik dari dalamnya. Sesaat kemudian, ia meminum beberapa pil obatnya.
Calya kembali tertegun. Menyadari bila sang adik mengamati pergerakannya. Sesaat kemudian ia menggeleng.
"Tidak, Mbak tidak sakit."
"Lantas, itu obat apa?" selidik Myesha.
"Ini ... vitamin untuk ibu hamil," jawab Calya pelan.
__ADS_1
"Apa? Vitamin untuk ibu hamil?" ulang Myesha. Menuntut kebenaran pernyataan Calya.
"Mbak ... Mbak sedang hamil," gumam Calya.
"Hah? Mbak hamil? Terus kenapa Mbak tidak bilang ke Mas Dirga supaya dia membatalkan perceraian kalian?"
"Mbak baru mengetahui kehamilan ini setelah perceraian kami putus," sahut Calya.
"Oh Tuhan ...." Myesha menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.
"Lalu ... apa yang akan Mbak lakukan dalam kondisi hamil seperti ini?" tanya Myesha lagi.
"Ya, terpaksa Mbak belum bisa melamar kerja di perkantoran, karena itu tidak memungkinkan. Tapi Mbak tetap akan bekerja apa saja dan di mana saja," ujar Calya.
Myesha pun berlari mendekat pada kakaknya. Memeluknya erat. Isakan tangis tak bisa ditahannya lagi. Myesha benar-benar merasakan penderitaan yang telah dialami oleh sang kakak begitu menyakitkan. Namun, itu belum usai sebab saat ini, orang yang disayanginya itu masih harus berjuang lagi. Terlebih, perjuangan ini bukan hal yang biasa, ada benih kenangan dari sang mantan yang akan selalu bersama dan membayangi hidup sang kakak.
***
Di tempat lain, Praba sudah menginjakkan kakinya di kota Semarang. Setiba di rumah orang tuanya, seperti biasa, ia disambut bahagia.
Sang Ibu sudah menghidangkan makanan kesukaannya. Lelaki itu pun menikmatinya dengan lahap. Namun, di sela-sela itu, pikirannya tertuju pada hal lain.
__ADS_1
'Calya ... di mana dia berada kini?' tanyanya di dalam hati.
***