Sengketa Hati (CALYA)

Sengketa Hati (CALYA)
Kenangan Penyatuan Rasa


__ADS_3

Calya pun memutuskan untuk pergi ke teras rumah. Menunggu di sana. Masih berharap sang suami akan pulang.


Bagaimana pun, Calya merasa perlu untuk berbicara dengan suaminya itu. Perbuatan Dirga tadi telah merendahkan dirinya. Dirga harus mendapat penjelasan.


Hingga saat suara deru motor yang datang membangkitkan Calya dari duduknya. Melongok ke arah suara itu.


Motor pun berhenti. Seorang pria turun dari tunggangannya. Bukan Dirga, melainkan Praba.


"Bu Dirga? Ngapain malam-malam duduk sendiri di teras?" tanya Praba dari samping motornya.


"Saya nungguin Dirga pulang, Pak," sahut Calya.


"Lho, memangnya dia ke mana?" tanya Praba bingung.


"Entahlah," sahut Calya.


Praba melangkah lebih dekat pada Calya.


"Saya pikir dia ada di rumah. Tadi saat di kantor ... dia izin mau pulang. Katanya ada urusan penting."


"Ya, tadi pagi dia memang datang, tapi setelah itu pergi lagi bersama istri keduanya."


"Maksudnya?"


Pertanyaan Praba justru membuat Calya kembali mengingat kejadian tadi. Hingga tanpa disadari, kaca-kaca di matanya mulai terbentuk. Semakin banyak, sampai akhirnya berlomba untuk mendobraknya. Tertumpah menjadi air mata.


"Bu Dirga? Kenapa menangis?" Praba maju untuk lebih dekat lagi pada Calya.


Calya hanya menggeleng sambil berusaha menyeka air matanya.


"Calya ... katakan, apa yang terjadi?" Raut wajah Praba kini benar-benar menyiratkan kekhawatiran.


Sementara itu, Calya mendongak saat mendengar Praba menyebut namanya. Praba pun seakan tersadar.


"Maaf, maksud saya Bu Dirga."


"Ini masalah rumah tangga saya, Pak. Tak baik bila saya menceritakannya pada Bapak," ujar Calya.


"Bukankah kita juga teman?" timpal Praba.


"Teman?"


"Dengan apa yang terjadi pada kita. Saling membantu dan menguatkan selama ini, apa kamu tak menganggapku sebagai teman?"


Calya hening sejenak. Menatap lekat jauh ke dalam rongga mata Praba. Sebuah kejujuran dan ketulusan seakan sedang terpancar dari manik coklat lelaki itu. Membuat Calya hanyut dan terbawa masuk ke dalamnya.


***


Malam sudah semakin larut, tetapi Praba masih juga tak dapat memejamkan mata. Kali ini, ia memutuskan untuk bangun.


Perlahan, ia berjalan menuju ke depan rumahnya. Namun, saat pandangan matanya tertuju pada jendela kamar Calya, ia dapat melihat bahwa lampu di kamar itu masih menyala.


"Calya ...." Praba berdesis.


Sesaat kemudian, ada dorongan dari hatinya untuk mendekat ke jendela itu. Hingga sesampai di sana, ia merapatkan telinganya pada kaca jendela.


Samar, didengarnya suara isak tangis seorang wanita. Ternyata, dugaannya memang lah benar. Calya kembali menangis malam ini.


"Cal ... Cal ...."


Praba pun memberanikan diri untuk mengetuk jendela kamar Calya.


"Cal ... Calya ... ayo keluar."

__ADS_1


"Si siapa?" Calya menjawab dengan suara parau.


"Ini saya, Praba."


Calya berdiri menuju jendela kamarnya. Perlahan menyibak tirai jendela itu.


Praba pun memberi kode dengan jarinya agar Calya keluar rumah.


Calya yang awalnya bingung pun menuruti. Berjalan keluar dari kamar dan menuju ke pintu luar rumah. Hingga setelah membukanya, wajah Praba sudah berada di situ.


"Ada apa malam-malam begini membangunkan saya?" tanya Calya.


"Membangunkan? Bukannya kamu memang belum tidur?" tanya Praba.


"Ini kan sudah tengah malam, Pak," gumam Calya.


"Mana ada orang yang tidur, matanya sembab dan basah begitu?" sahut Praba.


Calya pun langsung meraba kedua matanya. Berusaha menghapus sisa-sisa air mata yang masih bertahan si situ.


"Kamu menangis lagi kan?" tanya Praba.


"Apa yang bisa kulakukan selain itu?"


"Bukankah pernah kukatakan, saat sedih, genggam lah liontin kalung yang kuberikan."


"Kesedihan kali ini teramat sangat, tak ada cara yang bisa menghiburku selain menangis." Saat mengucapkan itu, Calya tak kuasa menahan pelupuk matanya untuk membendung air mata yang memang telah keluar deras sedari tadi.


"Cal ...."


Sebuah dorongan hati yang kuat, mengiringi gerakan Praba untuk bergegas memeluk tubuh Calya. Sementara wanita itu pun tak kuasa untuk menolak, sebab ia memang membutuhkan sebuah sandaran untuk menumpahkan perasaan ini.


Praba mengusap lembut rambut Calya. "Menangis lah. Tumpahkan semuanya," gumamnya.


***


Setelah beberapa langkah berjalan dan menunggu kendaraan umum di pinggir jalan, sebuah motor tiba-tiba berhenti di depan Calya.


"Ojek, Bu," ucap pengendara motor yang memakai helm menutupi seluruh wajahnya itu.


"Tidak, Pak, saya nunggu angkot saja," sahut Calya.


Pengendara motor itu kemudian membuka helmnya, lalu berkata, " Yakin tidak mau naik motor saya?"


"Ya ampun, Praba?" ujar Calya setengah terkejut.


Pria itu menebar senyumannya. "Ayo, naiklah."


Calya pun menurut, segera duduk di boncengan motor pria itu. Setelahnya, Praba kembali melajukan motornya.


"Kita jalan-jalan dulu ya," gumam Praba.


"Ke mana?" tanya Calya, sedikit teriak agar suaranya tetap terdengar oleh Praba di tengah deru angin yang memecah suaranya.


"Nanti juga tahu," sahut Praba sambil tersenyum dan memutar gas motor lebih kencang.


Sampai tiba di jalan Malioboro, Praba menepikan motornya di salah satu sisi parkiran, kemudian mengajak Calya untuk turun dan menyusuri jalan ke sepanjang deretan pertokoan yang menjajakan souvernir khas Jogja.


Di sana, Praba mengajak Calya untuk berfoto di tempat-tempat yang dianggap memiliki latar yang bagus untuk melakukan pengambilan gambar. Mulai dari berfoto di depan lukisan, sampai duduk di bangku taman jalan.


"Capek?" tanya Praba.


Calya menggeleng. "Senang," jawabnya.

__ADS_1


"Sudah lama tidak begini ya?" goda Praba.


"Begitulah," sahut Calya, diiringi decak tawa keduanya.


"Yuk makan dulu," ajak Praba.


"Di mana?"


"Suka gudeg?" tanya Praba yang disahuti anggukan oleh Calya.


Praba pun kembali mengajak Calya naik ke motor dan membawanya ke sebuah rumah makan gudeg. Sesampai di sana dan memilih tempat duduk, mereka pun memesan menu masing-masing. Dan, setelah menunggu beberapa saat, pesanan datang dan mereka makan bersama.


"Makan yang banyak ya," ujar Praba.


"Nanti kekenyangan," sahut Calya.


"Tidak apa-apa, kan yang makan dua orang."


Calya terdiam sesaat, teringat pada kandungannya. Ia tertegun, karena yang memperhatikan hal itu justru lelaki lain, bukannya ayah sang janin.


Perlahan, Calya memandang ke arah Praba yang masih asik menikmati makanannya. Wajah lelaki yang beberapa bulan terakhir selalu ada bersamanya, memberikan kekuatan di saat keterpurukan.


"Cal ... ingat tidak saat pertama kali kita bertemu?" tanya Praba, membuyarkan lamunan Calya.


"Eh, ya ... iya ingat lah. Kamu waktu itu naik motor, hampir nabrak saya waktu habis belanja barang-barang dapur," sahut Calya.


"Saya masih ingat waktu kamu ngomel-ngomel. Hahaha, lucu."


"Ya, siapa yang tidak marah coba kalau seperti itu," gerutu Calya.


"Ingat tidak, waktu itu kamu mau laporin saya ke suami kamu?"


"Hem ...," gumam Calya pelan.


"Ternyata ...."


"Ternyata kamu justru bos suamiku. Puas?!"


"Hahaha." Praba kembali terkekeh.


"Ternyata ... kita bertemu kembali di sini, tapi dengan suasana yang berbeda. Lebih romantis," ujar Praba setelah tawanya reda.


Kali ini dengan menatap lembut pada Calya.


Membuat wanita itu spontan menundukkan pandangannya. Ada rona malu tergurat di situ.


"Cal ... besok kita ke dokter kandungan ya." Ucapan Praba kali ini membuat Calya mendongak.


"Untuk apa?" tanya wanita itu.


"Ya untuk periksa kandunganmu lah," ujar Praba.


Calya terdiam sejenak. Benar yang dikatakan oleh Praba, sejak mengetahui kehamilan ini, ia sama sekali belum memeriksakannya lagi. Bila bukan karena Praba, ia mungkin belum memikirkan hal itu.


"Kita?" tanya Calya memastikan ucapan Praba.


"Iya, saya akan menjemputmu sepulang kerja, terus kita pergi ke dokter sama-sama."


Calya hanya mengangguk. Entah mengapa ia merasa tak mampu menolak ajakan itu.


Praba selalu bisa memberi kenyamanan untuknya, meski Calya merasa bahwa Praba melakukan semua kebaikan pada dirinya selama ini hanya karena perasaan kasihan padanya.


💚💚💚

__ADS_1


__ADS_2