Sengketa Hati (CALYA)

Sengketa Hati (CALYA)
Visualisasi Haira


__ADS_3

Di depan rumah terdengar bunyi klakson mobil. Tinah, pekerja baru yang masuk di shift pagi, sedang sibuk membuat bumbu untuk mengukus ayam. Melihat hal itu, Calya pun memutuskan untuk keluar. Dia tahu bila yang datang adalah dari peternakan ayam yang akan mengantarkan pesanannya.


"Bu Calya, lima puluh ekor kan? Semua sudah dibersihkan," ujar Pak Danang, sopir mobil itu sambil menurunkan satu buah keranjang besar yang berisi ayam yang sudah dipotong.


"Iya, Pak. Ini uangnya ya," sahut Calya.


"Terima kasih, Bu," ujar Pak Danang, kemudian berpamitan dan pergi.


Calya pun mulai memindahkan beberapa potong ayam ke dalam keranjang yang berukuran lebih kecil untuk dibawa masuk ke dalam rumah.


Tepat di saat itu, Haira keluar dari rumahnya. Ia hendak membuang sampah di depan rumah. Namun, pandangannya tergerak untuk menoleh pada wanita yang sedang beraktivitas di rumah depan. Haira menyimak wajah itu dengan saksama. Wajah yang sangat dikenalinya.


"Calya?" desis Haira.


Lebih dari itu, Haira terbelalak karena melihat bentuk tubuh Calya yang tak biasa. Perut yang membesar menandakan bahwa wanita itu sedang mengalami sesuatu.


Haira menarik napasnya yang terasa sesak. Ia bisa melihat dengan jelas bahwa Calya sedang menunjukkan tanda-tanda seorang wanita yang tengah mengandung. Haira seakan tak ingin mengamini hal itu. Ia berharap bahwa apa yang sedang dilihatnya itu tak nyata.


Bergegas, ia kembali masuk ke dalam rumah. Lalu bersembunyi di balik tirai jendela sembari tetap mengintai ke arah Calya. Haira kembali mengamati, bagaimana wanita itu berjalan dengan hati-hati saat mengangkat keranjang kecil berisi ayam-ayam potong itu. Kemudian dalam beberapa menit kemudian, ia kembali lagi untuk melakukan hal yang sama.


Haira menyandarkan tubuhnya di bingkai jendela. Napasnya yang memburu menandakan sebuah perasaan emosi sedang menjalar di dadanya.


"Calya hamil?" gumam Haira. "Dia bisa hamil?" lanjutnya lagi.


Ia kemudian kembali teringat ke masa di mana ia pernah menghina wanita itu. Mengatakannya sebagai wanita mandul dan tak berguna. Haira teringat saat di mana ia dengan sombong membanggakan kehamilannya di depan wanita itu. Menganggap dirinya sempurna sebagai seorang wanita.


Lantas kini ... semuanya seakan menjadi terbalik. Dirinya yang tak bisa lagi mengandung, sedangkan di sisi lain, Calya sedang menjalani kehamilannya.


Beberapa saat kemudian, Haira kembali teringat akan sesuatu. Tentang ayah dari anak yang sedang dikandung oleh Calya. Dengan ukuran perut sebesar itu, dan jangka waktu perceraiannya dengan Dirga, Haira masih belum bisa memastikan tentang hal itu.


Dan satu hal lagi. Bagaimana Calya bisa tinggal bersama dengan Praba adalah hal yang juga sedang dipertanyakan oleh Haira. Memang benar, tempo hari Dirga juga sudah pernah datang ke rumah itu dengan alasan karena ia melihat Calya. Namun, saat itu mereka hanya bertemu dengan adik Calya. Lagi pula, saat itu Haira belum mengetahui bila Calya sedang mengandung.


"Sejauh apa hubungan Calya dan Praba? Apakah mungkin mereka sudah menikah secara siri? Apakah mereka memang telah menjalin hubungan sewaktu Calya masih menjadi istri Dirga?"


Haira pun bergegas mengambil telepon genggamnya. Ia memencet nomor telepon Dirga.


Setelah beberapa deringan, telepon itu pun terhubung. Dirga menanyakan alasan Haira meneleponnya.


"Sayang ... aku mau bilang sesuatu," ujar Haira.


"Apa?" tanya Dirga. "Kalau tidak begitu penting, nanti saja ya bahasnya kalau aku sudah di rumah. Ini masih kerja soalnya," ucap Dirga sambil mengamati layar laptopnya.


"Dir ... aku melihat Calya."


"Di rumah depan? Kan memang dia tinggal di situ sama adiknya," sahut Dirga.


"Iya, tapi bukan hanya itu yang mau aku bilang," lanjut Haira.

__ADS_1


"Apa lagi?" tanya Dirga.


"Calya ... dia sedang hamil," ujar Haira.


Dirga menarik napas. "Oh ... ya, kamu kaget ya?"


"Hah? Kamu ... kamu sudah tahu?"


"Sudah dulu ya, lagi banyak kerjaan nih," ucap Dirga kemudian menutup teleponnya.


Haira termangu. Ia seakan tak mampu berkata. Suaminya rupanya telah mengetahui hal itu. Dan dari nada suaranya, Haira bisa merasakan bahwa laki-laki itu terdengar sangat santai.


Entah mengapa, kini ia merasa benar-benar kalah. Haira merasakan kegelisahan yang merongrong ketenangan hatinya. Tentu saja, perasaan takut kehilangan perhatian sang suami lah yang kini menghantuinya.


Sebuah kenyataan bahwa Calya ternyata tidak lah mandul seperti yang pernah ditudingkannya pasti lah membuat Dirga kembali menaruh perhatian pada sang mantan istri. Dan Haira benar-benar takut bila anak yang dikandung oleh Calya ternyata adalah darah daging suaminya, Dirga.


***


Dirga pulang dari kantor cukup larut malam ini. Banyak pekerjaan yang harus diselesaikan menjadi alasan pria itu pada sang istri. Sementara itu, beberapa jam sebelumnya, Haira sudah melihat dari balik tirai bahwa Praba sudah kembali ke rumahnya. Namun, ia sendiri tak berani menanyakan pada Dirga tentang pekerjaan yang membuatnya sampai lembur itu. Sebabnya, Dirga pasti akan marah, dan pertengkaran akan kembali terjadi.


Haira sudah duduk di meja makan sambil menunggu sang suami selesai mandi dan menemuinya di sana. Beberapa menit kemudian, Dirga pun datang. Duduk di kursi yang ada di depan Haira.


"Dir ... kapan kamu tahu kalau Calya sedang hamil?" tanya Haira, seakan tak sabar lagi untuk mengungkapkan tanya itu.


"Seminggu yang lalu," ujar Dirga.


"Ya, aku bertemu dengannya."


"Di mana?"


Dirga mendongak pada Haira, kemudian berkata. "Di rumah mereka."


"Kamu ke sana?"


Dirga mengangguk.


"Kenapa?" tanya Haira lagi.


"Aku hanya ingin bertemu dengannya. Lalu ... ternyata aku mengetahui tentang kehamilannya."


"Apa dia dan Praba sudah menikah? Dia sedang mengandung anak Praba? Mungkin memang bersama kamu dia tidak bisa hamil. Ya, karena kalian memang tidak cocok. Banyak pasangan yang begitu sih. Bercerai dulu dari pasangannya, lalu menikah dengan orang lain baru bisa punya anak," papar Haira.


Mendengar perkataan istrinya, Dirga menyunggingkan senyum tipis.


"Calya sedang mengandung anakku," ujar lelaki itu kemudian.


Perkataan yang sontak membuat Haira membelalakkan mata. Untuk mengurangi rasa kagetnya, Haira meneguk liurnya agar kerongkongannya menjadi basah.

__ADS_1


"Anakmu? Apa-apaan sih kamu, Dir ... ada-ada saja bercandanya," ucap Haira.


"Aku sedang tidak bercanda. Anak yang dikandung oleh Calya memang adalah darah dagingku. Dia sudah memberi tahu hal itu padaku," tutur Dirga.


"Dan kamu percaya begitu saja? Dir ... apa ku Calya ingin membalas perbuatanmu padanya dengan cara mempermainkan perasaanmu seperti ini? Dia juga ingin membalasku yang sudah menjadi istri sah-mu. Dia pasti sengaja mengatakan bila anak yang dikandungnya adalah anakmu untuk menghancurkan hubungan kita. Dir ... kamu tidak boleh segampang itu percaya padanya. Setidaknya, kamu harus meminta bukti yang kuat darinya." Haira berkata dengan nada suara yang membuncah.


Dirga terdiam sejenak, menatap Haira yang terlihat begitu gelisah.


"Sayangnya, dugaan-dugaan itu salah, karena Calya tak seperti dirimu. Kamu lah yang sudah melakukan kecurangan. Kamu dan keluargamu mengingkari janji padanya. Kalian meminta terlalu banyak, sampai akhirnya menyingkirkan dirinya," ujar Dirga dengan tatapan lurus pada Haira.


"Dir ... kamu yang memutuskan untuk menceraikannya," lirih Haira.


"Ya, aku melakukannya dengan penuh kebodohan. Aku sudah terhasut oleh sebuah kebohongan. Aku juga terlalu terbuai dengan impian memiliki seorang anak. Aku melupakan kuasa Tuhan. Aku mengingkari ujian kesabaran. Dan sekarang, kamu sudah melihat semuanya kan? Kamu sudah melihat bagaimana karma itu turun pada kita? Bagaimana sekarang aku harus berusaha memutar roda kehidupan itu untuk bisa menebus semua kesalahan?"


"Dir ... apa maksudmu?" Mata Haira mulai berkaca-kaca.


"Ya, Haira. Tidakkah kamu sadari tentang karma yang menimpa kita? Rumah tangga kita yang akan selamanya hampa seperti ini?"


Air mata Haira kini benar-benar jatuh. Ia memahami bila yang dimaksud oleh Dirga adalah tentang dirinya yang tak akan pernah bisa memberikan keturunan untuk suaminya itu.


"Apa maksudmu tentang menebus kesalahan," tanya Haira lagi.


"Aku akan berusaha agar Calya kembali padaku. Aku memintanya untuk rujuk. Kami akan menikah lagi," ucap Praba datar.


Haira menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Tidak, Dir ... jangan lakukan itu. Aku tidak mau dimadu." Haira beranjak mendekat pada sang suami.


Wanita itu berusaha untuk memeluknya. Akan tetapi, Dirga melepaskan kaitan tangan Haira.


"Aku dan Calya terhubung dengan anak itu. Siapa pun tak akan bisa menghalangi kami untuk bersatu lagi," ujar Dirga.


"Tidak, Dir. Orang tuaku pasti tidak akan mengizinkan kamu melakukannya. Mereka pasti akan marah padamu. Dan satu hal lagi, kamu adalah seorang aparat negara. Kamu tidak boleh berpoligami. Aku tidak akan memberikan izin itu." Haira memekik.


"Izin? Aku tak perlu izin dari siapa pun. Alasan yang paling kuat sudah ku miliki." Dirga berkata sambil menatap nyalang pada Haira. "Kamu ... tak bisa memberikan keturunan," lanjut Dirga.


Mendengar ucapan Dirga, bola mata Haira membulat. Mulutnya pun terbuka. Ia tak menyangka bila Dirga akan mengucapkan kata-kata yang begitu menghujam padanya.


Akan tetapi, Dirga tak berlama-lama di tempat itu. Seusai berucap, ia langsung berlalu, dan naik ke lantai atas. Meninggalkan Haira dalam kekalutannya.


***


Nah ... episode kali ini, Author akan menampilkan visualisasi dari tokoh Haira Permatasari, wanita cantik jelita yang menjadi duri dalam rumah tangga Dirga dan Calya, tetapi akhirnya berhasil memiliki lelaki yang dicintainya itu.


Haira Permatasari diperankan oleh aktris cantik yang adalah saudara dari Citra Kirana yaitu Erica Putri.


Bagaimana, cocok gak?

__ADS_1



__ADS_2