Sengketa Hati (CALYA)

Sengketa Hati (CALYA)
Aksi Sang Madu


__ADS_3

Haira berjalan meninggalkan kantor itu dengan langkah penuh kemenangan. Dirga tak berkutik. Apalagi seketika berita pernikahan keduanya telah menggema ke seluruh penjuru kantor.


"Dir ...." Praba menepuk bahu Dirga yang terduduk lemas di kursinya.


"Kamu juga sudah tahu sekarang?" Dirga melongok pada Praba.


"Bukan sekarang. Sejak kamu pergi dan menikahi perempuan lain, aku sudah tahu," sahut Praba.


"Hah?" Dirga membesarkan bola matanya. "Calya memberitahumu?"


Praba menggeleng. "Aku mengetahuinya sendiri. Aku mendengar percakapan kalian di belakang rumah saat kamu meminta izin pada Calya untuk menikah lagi."


"Jadi selama ini ...."


"Selama ini Calya begitu tersiksa. Hari-harinya habis hanya untuk menangis. Dia menahan rasa sakit yang tidak kamu ketahui."


Mata Dirga berkaca saat kembali menatap Praba. "Dia curhat padamu?"


Praba kembali menggeleng. "Aku hanya bisa merasakan kesedihannya. Dia tak punya siapa-siapa untuk mengadu. Hanya kamu yang dimilikinya. Dir ... kamu harus tegas, jangan biarkan istrimu terus-menerus mengalami tekanan batin. Akhiri lah pernikahan keduamu."


"Tidak semudah itu, Praba. Orang tuaku akan membunuhku. Mereka sangat menyayangi Haira, terlebih sekarang dia sedang mengandung anakku."

__ADS_1


"Lalu bagaimana masa depan hubunganmu dengan Calya?"


"Semua akan baik-baik saja. Calya akan tetap berada di sisiku."


Praba menghela napas. Berharap apa yang baru saja didengarnya benar-benar akan terjadi. Dirga tak lagi melakukan kesalahan yang menyakiti hati Calya.


***


Di rumah, Calya yang sedang berjibaku dengan aktivitasnya tiba-tiba tersentak oleh panggilan telepon genggam miliknya.


"Halo. Bu Heri?" sapa Calya setelah mengangkat teleponnya dan melihat nama istri salah seorang pegawai di kantor suaminya tertera di situ.


Calya merasa bingung mendengar perkataan Bu Heri yang tanpa jeda itu. "Maaf, Bu Heri. Maksud Bu Heri ini apa ya? Saya benar-benar tidak mengerti."


"Aduh Bu Dirga, tidak perlu malu dan menutup-nutupi. Semua orang sudah tahu kok. Pokoknya Bu Dirga tidak perlu khawatir. Dasar pelakor kurang ajar, berani sekali dia ke kantor dan nangis-nangis minta keadilan. Bu Dirga jangan mau kalah lho ya. Jangan biarkan si pelakor itu menang." Bu Heri kembali mengeluarkan unek-uneknya.


Calya menahan napas mendengar setiap kalimat yang keluar dari mulut Bu Heri. Nalurinya menerka-nerka sesuatu.


"Maksud Bu Heri dengan pelakor itu apa?"


"Lha, barusan kan istri kedua Pak Dirga datang ke kantor dan menghadap ke Pak Bambang."

__ADS_1


"Hah?"


"Waduh, Pak Dirga belum bilang ya? Aduh, Pak Dirga kok begitu ya? Kurangnya Bu Calya ini apa sih kok sampai nikah lagi? Sudah cantik, baik, rela melepas karirnya demi mengabdi pada suami."


Calya tak mampu lagi mendengar lebih banyak. Segera ditekannya tombol penutup telepon.


***


[Pulang sekarang, Ga.]


Calya mengirimkan pesan singkat itu kepada Dirga. Pria itu pun mengerti maksud sang istri. Berita tentang kedatangan Haira ke kantor mungkin sudah sampai ke telinga istrinya itu.


Dirga memacu motornya dengan cepat. Menuju ke rumah dinasnya.


Sesampai di rumah, Dirga bergegas masuk ke dalam rumah.


"Cal ... Calya."


Dirga membuka pintu kamar. Mendapati Calya sedang berdiri menghadap jendela luar.


"Sayang ...." Dirga bergumam.

__ADS_1


__ADS_2