Sengketa Hati (CALYA)

Sengketa Hati (CALYA)
Antara Orang Tua


__ADS_3

Raindra melangkah dari meja kasirnya menuju ke tempat duduk Anela.


"Kamu ... kenapa bisa ada di sini?" tanya Raindra masih sambil berdiri.


"Duduklah. Kita bisa ngobrol sambil duduk kan?" ujar Anela.


Raindra pun menurut, menarik kursi di hadapan Anela, dan duduk di situ.


"Tadi ... aku ke pasar, dan tidak sengaja bertemu dengan Ibu Calya. Lalu aku mengantarkan dia pulang, dan sampailah aku di sini," ujar Anela.


"Ibu Calya?" tanya Raindra.


Anela mengangguk. "Iya, awalnya aku tidak tahu kalau beliau adalah ibu Calya. Hmm ... mungkin sudah jalannya, sehingga aku menemukan kamu di sini."


"Sampai kapan kamu akan berada di kota ini?" tanya Raindra lagi.


"Entahlah. Mungkin sampai aku benar-benar bisa mendapatkan maaf darimu," sahut Anela.


Raindra menyengir. "Kamu tidak perlu hal itu."


"Itu hanya salah satunya. Aku perlu untuk melakukan hal yang lain juga," ujar Anela.


"Apa?" tanya Raindra.


"Menjadi Anela yang baru. Aku ingin lebih mandiri, dan aku ingin belajar tentang banyak hal lagi," ujar Anela.


Raindra terdiam sejenak.


"Sekarang kamu tinggal di mana?" tanyanya kemudian.


"Masih di penginapan. Aku masih nyari tempat. Kamu sendiri, kenapa bisa tinggal di sini?" tanya Anela.


"Ya ... kebetulan rumah ini dijual, dan harganya terjangkau," sahut Raindra.


"Sepertinya ... usaha ini lumayan ya?" ucap Anela.


"Ya ... setidaknya aku bisa membuktikan padamu, bahwa aku pun bisa bangkit meski tanpa bantuan darimu," ujar Raindra.

__ADS_1


"Rain ... please ... maafkan kata-kataku yang itu. Maafkan keegoisanku yang dulu," ucap Anela dengan mimik muka penuh permohonan.


Raindra terdiam sejenak. "Sudahlah, Anela. Aku banyak pekerjaan. Aku harus kembali ke belakang," ujarnya kemudian.


Kemudian berdiri dan melangkahkan kaki kembali ke pantry.


Anela mengembuskan napas sesaat. Ia tahu bila tak akan mudah membuktikan pada Raindra tentang kesungguhan perubahan sikapnya. Namun, ia tidak akan menyerah begitu saja. Bila Raindra mampu menunjukkan padanya bahwa lelaki itu bisa bangkit dengan usahanya sendiri, maka Anela merasa dia pun perlu untuk membuktikan pada Raindra tentang dirinya yang baru. Anela yang tak egois dan sombong lagi.


***


Hari ini, Bu Darmawan dan Pak Darmawan akan berangkat ke Jogjakarta. Saat akan masuk ke dalam taksi yang akan mengantar mereka ke bandara, Raindra baru saja membuka warung kopinya.


"Bu ... Pak, mau ke mana?" sapa Raindra.


"Eh ... Nak Raindra, Bapak dan Ibu mau ke Jogja. Calya sudah mau lahiran. Kami titip tolong rumah kami dilihat-lihat ya, Nak," ujar Pak Darmawan.


"Oh ... iya, baik, Pak. Semoga selamat sampai tujuan ya, Bapak dan Ibu. Sampaikan salam Raindra untuk Calya dan Myesha. Semoga anak Calya lahir dengan selamat," sahut Raindra.


"Terima kasih ya, Nak Raindra. Kami berangkat dulu."


Pak Darmawan dan istrinya pun naik ke dalam taksi, yang kemudian membawa mereka ke bandara.


***


Setiba di rumah, seperti biasa, suasana haru karena melepas rindu pun terjadi. Selanjutnya, mereka pun tampak bahagia karena kembali berkumpul lagi.


Sore ini, Pak Darmawan dan Bu Darmawan memutuskan untuk bersantai di halaman rumah setelah sedikit melihat-lihat tanaman yang ada di situ. Akan tetapi, pandangan mereka yang menatap lurus ke rumah depan tiba-tiba terpaku. Sosok sepasang suami-istri yang baru keluar dari rumah itu telah menarik perhatian mereka.


"Bu ... itu kan, Pak Edy dan Bu Edy, mantan besan kita," ujar Pak Darmawan.


"Iya, Pak ... benar. Kedua orang itu adalah orang tua Dirga. Apa yang mereka lakukan di situ. Apakah Calya tahu keberadaan mereka di kota ini?"


Pak Edy dan Bu Edy tampak menyeberangi jalan, dan menuju ke tempat Pak Darmawan dan Bu Darmawan berada. Sementara kini, kedua orang tua Calya pun sudah berdiri dan bersiap untuk menyambut mereka, meski dengan berbagai tanya yang bersemayam di benak mereka.


"Pak Darmawan dan Ibu ... apa kabar?" sapa Pak Edy setiba di hadapan mereka.


"Pak Edy dan Ibu ... kenapa bisa ada di sini?" sahut Pak Darmawan.

__ADS_1


"Oh iya, kami hanya mengunjungi Dirga dan istrinya, sekalian juga mengunjungi Calya. Kami sudah cukup lama berada di sini, dan memang kami sengaja tinggal lebih lama sampai Calya melahirkan," ujar Pak Edy.


Pak Darmawan dan istrinya saling berpandangan. Mereka masih merasa bingung dengan penjelasan Pak Edy. Menyadari hal itu, Pak Edy pun kembali menjelaskan perihal kepindahan Dirga ke kota ini, yang berlanjut dengan pertemuan Dirga dengan Calya, sampai akhirnya kenyataan tentang kehamilan Calya pun mereka ketahui.


Setelah mendengar penjelasan itu, Pak Darmawan dan sang istri kembali saling berpandangan. Bagaimana pun juga, hati mereka masih terasa perih atas apa yang pernah menimpa putri mereka. Dan kini, orang-orang yang bertanggung jawab atas hal itu justru berada si sekitar putri mereka.


"Kami sangat menyesal, mengapa putri kami tak bercerita bahwa mantan suami dan mantan mertuanya ada di sini. Kalau tahu begitu, kami akan datang lebih cepat agar bisa menjaganya," ucap Bu Darmawan.


"Bu ... kami sengaja datang ke sini untuk menemui Ibu dan Bapak setelah mengetahui kalau kalian sudah datang. Kami ingin meminta maaf atas apa yang telah terjadi," ujar Pak Edy.


"Apa? Maaf? Semudah itu mengucapkan kata maaf setelah penghinaan yang kalian berikan pada putri kami, yang artinya juga telah menghina kami?" sahut Bu Darmawan.


"Iya ... kami tahu bila kami telah melakukan kesalahan, karena itu lah kami datang untuk meminta maaf dengan tulus, agar silahturahmi di antara kita kembali terjalin," ujar Bu Edy.


"Bu ... Ibu tidak punya anak perempuan sehingga tidak merasakan apa yang kami rasakan. Bukankah Ibu sendiri yang telah datang dan meminta putri kami untuk menjadi istri putra kalian? Lantas, mengapa setelah dia mengorbankan segalanya untuk menjadi seorang istri yang setia pada suaminya, kalian justru memberikan luka untuknya? Tak cukup dengan hinaan, kalian menjadikannya seorang janda dan pergi dengan hina tanpa membawa apa pun. Mengapa kalian tak mengembalikan dia baik-baik pada kami, hah?!" Bu Darmawan berkata dengan emosi yang membuncah. Matanya memerah karena menahan air matanya agar tidak keluar.


Pak Darmawan mencoba untuk menenangkan istrinya dengan merangkul pundaknya.


"Bu ... tenanglah ...."


"Tidak, Pak. Lebih baik kita ungkapkan saja apa yang selama ini terpendam di hati kita. Sekarang, untuk apa mereka menemui kita. Untuk apa meminta maaf. Toh mereka sudah merasa puas karena mendapatkan menantu yang lebih baik. Mereka pasti sedang berbahagia dengan kehadiran cucu dari menantu baru mereka yang sombong itu. Sekarang, lebih baik Pak Edy dan Bu Edy pergi saja. Tidak usah membebani pikiran kalian dengan anak Calya, karena anak itu tidak akan kekurangan apa pun. Calya dan kami pasti akan mampu memenuhi kebutuhannya. Anak itu tak butuh nafkah dari Dirga atau pun dari kalian," ujar Bu Darmawan lagi, masih dengan nada emosi.


Mendengar perkataan Bu Darmawan, Bu Edy pun tak kuasa menahan air matanya. Sejurus kemudian tubuhnya beringsut turun dan berlutut di hadapan mantan besannya itu.


"Ampunilah kami, Bu, Pak. Saya rela berlutut di depan kalian supaya diberi maaf. Kami memang sudah bersalah. Kami sangat jahat. Kami bukan mertua yang baik untuk putri kalian. Ampunilah kami .... Huuuuu"


Pak Edy pun mencoba menarik tubuh istrinya agar kembali berdiri.


"Bu ... Bu ... ayolah, jangan begitu," ujar Pak Edy.


"Minta ampun kepada Allah saja, Bu. Bukan kepada kami. Kami hanya manusia biasa. Kami hanya orang tua yang merasa sakit hati. Kalau Ibu hanya menghendaki maaf, itu sudah kami berikan. Asal dengan syarat, jangan pernah muncul di hidup putri kami lagi. Jangan mengganggunya lagi," sahut Bu Darmawan.


Setelah dibujuk beberapa kali oleh suaminya, akhirnya Bu Edy pun mau berdiri lagi.


"Kami memang sudah pasti meminta ampun kepada Allah, tapi kami juga perlu untuk meminta maaf. Kami sudah melakukannya pada Calya, dan kini hal itu juga harus kami lakukan kepada Bapak dan Ibu sebagai orang tua Calya. Bu ... Pak... sesungguhnya kami sudah mendapatkan karma atas perbuatan kami. Kami meremehkan Calya sebagai wanita yang tak sempurna karena tak kunjung mengandung. Kemudian memuji-muji Haira sebagai menantu yang sempurna. Akan tetapi, kenyataannya sekarang, semuanya menjadi terbalik. Menantu kami Haira mengalami keguguran yang menyebabkan ia harus kehilangan rahimnya. Sementara Calya kini akan melahirkan darah daging kami. Itu lah mengapa kami merasa sangat malu dan menyesali perbuatan kami pada Calya," gumam Bu Edy sambil terisak.


Dari dalam rumah, seseorang muncul tepat saat Bu Edy mengungkapkan perkataannya tadi.

__ADS_1


"Apa? Haira ...," ucap Calya dengan ekspresi keterkejutan dan menutup mulutnya dengan telapak tangan.


***


__ADS_2