
"Halo, Bu ... iya, Bu semalam Calya sudah periksa. Iya, diantar sama Praba." Calya sedang mengarahkan telepon genggam ketelinganya dengan tangan kiri sambil mengaduk secangkir kopi susu dengan tangan kanannya.
"Terus bagaimana, Nak? Sudah masuk lima bulan kan? Mestinya jenis kelaminnya sudah kelihatan," ujar Bu Darmawan dengan semringah.
"Iya, Bu. Calya akan melahirkan seorang putra. Bapak dan Ibu akan punya cucu laki-laki," jawab Calya.
"Wah ... alhamdulillah Bapakmu pasti senang sekali. Ya, meskipun bagi kami baik laki-laki atau perempuan sama saja, tetapi Bapak pasti akan bahagia menimang seorang cucu laki-laki," gumam Bu Darmawan.
"Iya, Bu. Sudah dulu ya, Bu. Calya mau siapkan sarapan dulu.
"Iya, Nak. Baik-baik ya di sana. Salam untuk Myesha," ucap Bu Darmawan sebelum menutup telepon itu.
"Sudah mengabari Bapak dan Ibu ya, Cal?" Suara Praba sedikit menyentakkan Calya.
"Em... iya," sahut Calya sambil mengangkat cangkir kopi itu dan berjalan menuju meja makan.
Praba mengikutinya di belakang. Setelah Calya meletakkan cangkir kopi itu di atas meja, Praba pun duduk di kursinya. Ia tahu bahwa kopi itu memang ditujukan untuknya.
"Hari ini, saya akan berusaha untuk mencari orang yang akan membantumu di rumah," ujar Praba setelah menyeruput kopi susunya.
"Em ... kalau bisa sih, ibu-ibu yang sudah berkeluarga ya," sahut Calya.
"Tapi saya sih maunya yang gadis saja," gumam Praba.
"Kenapa?" tanya Calya.
"Ya, supaya saya juga betah begitu. Supaya selesai kerja langsung cepat-cepat pulang begitu, supaya bisa nganterin mbak itu pulang ke rumahnya," ujar Praba sambil memakan nasi goreng di hadapannya.
"Oh ... kamu mau sekalian jadi tukang ojek begitu ya?" gumam Calya dengan raut wajah datar.
__ADS_1
"Ya kan siapa yang tahu mbak itu masih jomblo juga seperti saya. Kan kalau jodoh, saya bisa dapat pendamping terus ada yang ngurusin deh," ujar Praba dengan santainya.
Calya menghela napas, lalu berdiri.
:Eh ... mau ke mana?" tanya Praba.
"Masak," ujar Calya ketus sambil melenggang ke dapur.
Melihat kepergian wanita itu dengan roman wajah tak biasa, Praba tersenyum kecil sejenak, lalu melanjutkan sarapannya.
***
Calya sedang mengepak beberapa potong ayam geprek yang akan diantarkan siang ini saat suara ketukan pintu terdengar. Wanita itu pun bergegas ke luar untuk membuka dan menemui si pengunjung.
"Maaf, Ibu cari siapa ya?" tanya Calya sambil mengamati seorang wanita paruh baya yang berdiri di hadapannya itu.
"Saya Mbok Darmi. Saya ibu dari cleaning service yang bekerja di kantor Pak Praba. Tadi Pak Praba bilang ke anak saya kalau lagi cari orang untuk bantu-bantu membuat pesanan ayam geprek teman sekontrakannya. Terus anak saya menawarkan saya untuk itu. Kebetulan, suami saya juga baru meninggal, jadi sekarang saya tidak ada kegiatan. Anak saya bilang kalo Pak Praba nyuruh langsung ke rumah ini saja."
"Oh iya, Mbok. Saya Calya, yang punya usaha ayam geprek itu. Mari, Mbok, silakan masuk. Mbok sudah bisa langsung kerja mulai dari sekarang," sambut Calya.
Hari ini, Calya merasa sangat senang karena Mbok Darmi benar-benar membantu pekerjaannya di rumah. Selain membantu proses pembuatan ayam geprek, ia juga membantu pekerjaan rumah yang lain seperti berberes rumah dan mencuci perkakas dapur.
"Sudah berapa bulan kandungannya, Bu?" tanya Mbok Darmi di sela-sela aktivitas mereka.
"Masuk lima bulan, Mbok," jawab Calya.
"Wah, moga-moga sehat ya Bu sampai lahiran. Bapaknya lagi kerja ya, Bu? Pulangnya jam berapa? Apa sekantor dengan Pak Praba juga?" tanya Mbok Darmi lagi.
Namun, kali ini membuat Calya terdiam sejenak.
__ADS_1
"Saya janda, Mbok," ucap Calya beberapa detik kemudian. Ia tak ingin Mbok Darmi bertanya-tanya dalam kebingungan. "Saya diceraikan dalam keadaan mengandung," lanjutnya.
"Astagfirullah, maaf ya, Bu. Kalau tahu begitu saya tidak akan bertanya. Ya ampun, kok tega ya bapaknya. Istri lagi hamil kok dicerai," ujar Mbok Darmi.
"Dia tidak tahu kalau saya sedang hamil saat itu. Saya juga begitu. Kehamilan itu saya sadari setelah perceraian," sahut Calya.
"Tapi kan selama masa iddah itu mantan suami itu mestinya masih memantau keadaan ibu untuk mengantisipasi kalau-kalau hamil anak dia. Anak ini juga kan berhak tahu bapaknya," ujar Mbok Darmi lagi.
Deg. Hati Calya bergidik. Ia merasa ucapan Mbok Darmi memang benar. Bagaimana pun, kehadiran anak ini kelak tak boleh ia sembunyikan dari Dirga untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan di kemudian hari. Namun, baginya sekarang bukanlah waktu yang tepat, sebab Dirga sedang berbahagia dengan istri dan calon anak mereka yang menurut Calya sebentar lagi akan lahir.
"Sejak perceraian, kami tidak pernah bertemu lagi, Mbok. Tak apa, kami sudah memilih jalan hidup masing-masing. Dia pun sudah bahagia bersama keluarga barunya. Tak akan adil baginya kalau saya menutut hal berlebihan yang bisa merusak kebahagiaannya sekarang. Soal anak ini, biarlah waktu yang menjawabnya nanti. Saya hanya menyerahkan pada Allah, kapan Ia berkehendak ayah anak ini mengetahui keberadaannya."
Setelah mengatakan itu, Calya kembali melanjutkan aktivitasnya. Mbok Darmi pun memahami dan tak banyak bertanya lagi. Di dalam hati, ia hanya mendoakan yang terbaik untuk Calya dan bayinya.
***
Sepulang kuliah, Myesha langsung mengambil paket ayam geprek yang siap diantarkan. Ia pun sudah bertemu dan berkenalan dengan Mbok Darmi. Myesha juga sudah merasa lega karena sang kakak ada yang membantu kini.
Sore harinya, Praba pulang ke rumah dengan raut wajah tak biasa. Ketika Calya menyambutnya, Praba terburu-buru masuk ke kamarnya.Wanita itu menjadi bingung, tetapi ia hanya bisa menanti Praba turun dari kamarnya untuk makan malam, kemudian bertanya padanya.
"Bu, saya pulang dulu ya. Besok pagi baru saya datang lagi." Mbok Darmi berpamitan pada Calya, membuat wanita itu tersentak dari lamunannya tentang Praba.
"Oh, iya, Mbok. Hati-hati ya," sahut Calya sambil mengantarkan Mbok Darmi sampai ke depan rumah.
Myesha sudah keluar dari kamar dan bersiap menyantap makan malam. Ia pun menanyakan keberadaan Praba. Namun, Calya hanya mengatakan bahwa ia belum turun.
Sampai saat Calya dan Myesha telah usai makan, Praba masih tak juga tampak. Calya mulai merasa gelisah. Menyadari hal itu, Myesha pun menyarankan pada sang kakak agar mengunjungi Praba di kamarnya, khawatir bila ternyata ia sedang tak sehat.
Calya pun menyetujui usulan itu, lalu beranjak menapaki anak tangga, berhenti di depan kamar Praba, lalu mengetuknya.
__ADS_1
"Praba ...," desis Calya sambil mengetuk pintu.