
Praba menyimak cerita yang dilontarkan oleh Myesha. Ia pun memutuskan untuk menemui Calya, setelah menghabiskan makan siangnya.
Myesha baru saja keluar dari kamar sambil membawa nampan yang berisi piring bekas makan Calya. Praba kemudian memutuskan untuk mengetuk pintu kamar itu.
"Boleh saya masuk, Cal?" tanya Praba dari balik pintu.
Calya yang menyadari kehadiran Praba pun beranjak bangun dan bangkit dari tempat tidur. Ia membuka pintu.
"Ada apa, Prab?" tanya Calya.
"Bisa ngobrol sebentar?"
Calya terdiam sejenak. Ia tahu, Myesha pasti lah sudah memberi tahu perihal kedatangan Dirga padanya.
"Iya, kita ngobrol di ruang tamu saja," ucap Calya.
Praba pun menyetujuinya. Mereka berdua beranjak menuju ruang tamu.
Setelah sama-sama duduk di sofa yang ada di sana, Praba pun memulai obrolan.
"Bagaimana keadaanmu?"
"Pertanyaanmu aneh, Prab. Kita kan ketemu setiap hari," ujar Calya.
"Maksud saya, keadaan kamu setelah ketemu sama dia," sahut Praba.
"Dia? Em ... maksud kamu Dirga?" Calya memperjelas pertanyaan Praba.
Praba mengangguk.
"Saya sudah lega. Dirga akhirnya tahu kehamilan ini," jawab Calya.
"Lalu?"
"Awalnya dia memang masih menaruh curiga, tapi saya tidak memaksanya untuk percaya. Setelahnya, dia justru meminta hal yang berlebihan."
"Apa?" Praba mencondongkan wajahnya yang menampakkan rasa penasaran.
"Dirga mengajak saya untuk rujuk dengannya."
Jawaban Calya membuat Praba mengembuskan napas kasar. Ia tampak tak suka dengan pernyataan Dirga itu.
"Lantas?" tanya Praba gamang.
"Saya menolaknya," jawab Calya.
Kali ini Praba menghempaskan napas kelegaan.
"Tapi ... Dirga bilang bahwa itu belum selesai. Dia masih akan tetap berusaha agar saya dan dia bisa bersama lagi."
Mendengar hal itu, Praba membesarkan bola matanya. Ia tak menyangka bila Dirga sampai berpikiran seperti itu. Kehadirannya tentu saja menjadi bumerang tersendiri bagi masa depan hubungannya dengan Calya.
"Kamu tak perlu memikirkan hal itu, Cal. Perhatikan saja kondisi kesehatanmu dan juga kandunganmu. Dirga tidak akan melakukan apa pun padamu."
Praba menatap nanar pada Calya. Memberi keyakinan pada wanita itu bahwa ia akan selalu ada bersamanya.
***
__ADS_1
Keesokan harinya, saat di kantor, Praba sudah berniat untuk menemui Dirga. Ia pun datang lebih awal dan menitipkan pesan pada Arya agar memberi tahu Dirga untuk menemuinya bila ia sudah datang.
Sampai beberapa menit kemudian, Dirga pun memasuki ruangan kerja itu. Setelah mendapat pesan dari Arya, Dirga pun langsung melangkah masuk ke ruangan Praba. Ia sendiri pun sudah merencanakan untuk menemui atasannya itu.
"Duduklah, Dir," ujar Praba saat melihat kehadiran Dirga.
Dirga pun melakukan titah itu. Duduk di kursi depan meja Praba.
"Kamu pasti tahu alasan saya memanggilmu ke sini," ucap Praba.
"Yang pasti bukan soal pekerjaan," sahut Dirga.
"Ya, jadi kurasa kamu sudah tahu, apa yang akan ku katakan," ucap Praba lagi.
"Untuk tidak mengganggu Calya?" tanya Dirga sambil menaikkan satu alisnya.
"Baguslah kalau kamu tahu untuk tidak melakukan itu," ujar Praba.
"Calya sedang mengandung anak saya, dalam agama pun diperbolehkan untuk rujuk, apalagi karena hal itu. Saya sudah memutuskan untuk melakukan hal itu. Saya akan memperistri Calya lagi," ungkap Dirga.
"Dir ... kamu sudah punya rumah tangga yang baru. Calya tidak akan bersedia menikah denganmu lagi. Cukup sekali saja menyakiti dia. Biarkan sekarang dia hidup dengan tenang dan atas keinginannya sendiri," ujar Praba.
"Aku punya alasan untuk kembali menikahinya, dan siapa pun tidak boleh melarangnya," ujar Dirga.
"Calya tidak ingin kembali padamu," sahut Praba.
"Mungkin untuk saat ini begitu, tapi semua hal bisa saja berubah. Setelah bertemu dengannya kemarin, aku tahu kalau Calya masih mencintaiku. Bagaimana pun juga, antara aku dan Calya terhubung oleh anak itu. Tidak ada yang boleh melupakan hal itu."
"Secara biologis, kamu memang ayah anak itu. Tapi aku lah yang akan menjaganya. Aku dan Calya sudah saling berjanji untuk bersama. Aku akan menikahi Calya setelah ia melahirkan," ucap Praba seakan tak ingin kalah dari Dirga.
"Sebelum hal itu terjadi, Calya akan kembali menjadi istriku," balas Dirga.
Mendengar perkataan Praba, Dirga terhentak. Akan tetapi, ia tetap tidak ingin terlihat kalah dari Praba.
"Mereka juga pasti tidak ingin bila cucu mereka tumbuh tanpa ayah kandungnya," ujar Dirga.
"Istrimu yang sekarang sudah pasti tidak akan mau dimadu," balas Praba lagi.
"Haira bukan lah rintangan," sahut Dirga.
Sorot mata kedua pria itu saling beradu nyalang. Arus perlawanan satu sama lain saling menelisik. Sebabnya pasti, mereka sedang mempertahankan keinginan masing-masing.
***
Hari ini, jadwal kuliah Myesha dan Bagas sedang lowong. Mereka memutuskan untuk segera pulang agar bisa mengantarkan pesanan pelanggan.
Namun, setiba di depan rumah, dan saat menengok ke rumah Haira, Myesha tiba-tiba memikirkan sesuatu.
"Gas, kamu bisa bantuin saya kan?" Myesha menghampiri Bagas yang baru turun dari motornya.
"Apa, Sha?" tanya Bagas.
"Kamu ke rumah depan itu. Pura-pura jadi petugas RT yang mau mendata jumlah warga. Kamu tanya-tanya siapa saja yang tinggal di rumah itu," ujar Myesha menerangkan.
"Untuk apa, Sha?" tanya Bagas bingung.
Myesha kemudian berbisik pada Bagas. Pemuda itu terlihat mengerti dengan apa yang dimaksudkan oleh kekasihnya itu. Bagas pun mengangguk, lalu bergegas menuju rumah itu dengan menggunakan sepeda motornya. Sementara Myesha sendiri masuk ke dalam rumah dan mengintip dari balik tirai jendela.
__ADS_1
Sesampai di depan rumah itu, Bagas mengetuk pintu. Tak selang beberapa lama, Haira keluar dan membukanya. Haira merasa tak mengenal Bagas sehingga menanyakan maksud kedatangannya. Bagas pun memperkenalkan diri sebagai petugas RT, seperti yang diinstruksikan oleh Myesha. Dia juga menuturkan maksud kedatangannya ke rumah itu.
Setelah beberapa menit berada di rumah Haira, Bagas akhirnya keluar. Karena Haira masih mengawasinya, maka Bagas berpura-pura menaiki motornya dan melajukannya ke luar kompleks. Sampai beberapa menit kemudian, ia pun kembali ke rumah Myesha.
Melihat kedatangan Bagas, Myesha pun segera membuka pintu dan membawa Bagas masuk ke dalam.
"Gimana, Gas?" tanya Myesha.
Sesaat, Bagas menarik napasnya.
"Gila, Sha. Baru kali ini saya jadi detektif seperti ini," ujar Bagas.
"Sudah ah, ayo cepetan. Apa info yang kamu dapat?" sergah Myesha.
"Di rumah itu hanya ada dua orang, Sha. Pasangan suami-istri itu, tanpa anak dan siapa pun," ujar Bagas.
"Tanpa anak?" ulang Myesha memastikan.
Bagas mengangguk.
"Em ... maksudnya, apa sebenarnya mereka punya anak tapi tidak ikut bersama mereka di sini, atau ...."
"Mereka tidak punya anak."
Jawaban Bagas membuat bola mata Myesha membulat. Sebab ia memang masih penasaran dengan bentuk tubuh Haira yang tidak seperti menampakkan kehamilan kala mereka bertemu. Myesha masih bertanya-tanya tentang apa yang terjadi pada kehamilan Haira bila pada akhirnya ternyata mereka belum memiliki seorang anak.
***
Di sebuah kota kecil di Pulau Sulawesi.
Pak Darmawan sedang berada di halaman rumah, sedangkan istrinya sedang melakukan pekerjaan di dapur.
Pak RT yang kebetulan lewat, berhenti di depan rumah Pak Darmawan untuk mengabarkan bahwa rumah yang berada persis di depan rumah Pak Darmawan itu akan memiliki penghuni baru. Beberapa waktu yang lalu si pemilik rumah memang menjual rumah itu karena akan pindah tugas ke kota lain.
"Yang beli rumah ini anak bujang, Pak. Kemarin sudah melaporkan diri ke saya, katanya hari ini akan mulai tinggal," ujar Pak RT.
"Orang dari mana, Pak?" tanya Pak Darmawan.
"Keluarganya dari kampung sebelah. Cuman katanya dia baru datang dari luar kota. Kalo saya lihat-lihat sih, kayaknya wajahnya tidak asing begitu. Cuma kemarin dia buru-buru jadi kita ngobrolnya tidak lama," sahut Pak RT.
"Oh ya sudah, Pak. Nanti kalau orangnya sudah datang, saya samperin," ucap Pak Darmawan.
Obrolan itu pun usai ketika Pak RT berpamitan untuk pergi.
Sampai beberapa jam kemudian, sebuah mobil bak terbuka berhenti di depan rumah itu. Beberapa perabotan rumah tangga turun dari mobil itu. Tampak dua orang menggotongnya satu per satu ke dalam rumah.
Melihat hal itu, Pak Darmawan pun keluar dari dalam rumah. Berniat untuk membantu tetangga barunya itu.
"Permisi, ini yang punya rumah yang mana ya?" tanya Pak Darmawan kepada seseorang yang ada di sana.
"Oh, yang ada di dalam, Pak," sahut orang itu.
"Oh iya bisa tolong dipanggilkan, bilang kalau tetangga depan rumah mau bertemu dan membantu," ucap Pak Darmawan.
Pria itu pun masuk ke dalam rumah dan melakukan permintaan Pak Darmawan. Beberapa menit kemudian, si pemilik rumah pun keluar untuk menemuinya.
"Pak," desis pria itu, memalingkan wajah Pak Darmawan padanya.
__ADS_1
Tepat di saat pria baya itu melihat wajah sang tetangga baru, raut mukanya langsung menegang. Matanya sedikit membesar. Ia tak menyangka bahwa orang yang akan tinggal di depan rumahnya itu adalah sosok yang dikenalinya.
***