
"Apa pun kenyataan itu, ada baiknya diungkapkan sekarang." Dirga yang sedari tadi diam, kini bersuara.
Pak Broto masih terdiam. Ia merasa tak sanggup bila harus mengungkapkan kenyataan itu. Haira pasti akan sangat terpukul bila mengetahuinya.
"Apa yang sebenarnya terjadi pada Haira sehingga Mama mengatakan bahwa Haira tidak akan pernah memberikan cucu untuk orang tua saya?" tanya Dirga lagi.
"Kecelakaan itu tidak hanya merenggut bayi kalian, tetapi juga rahim milik Haira. Dokter terpaksa harus mengangkat rahimnya untuk menyelamatkan nyawa Haira." Pak Broto akhirnya bergumam.
Gumaman yang membuncah kepanikan. Haira benar-benar terpukul. Ia menjerit sekeras-kerasnya. Sementara itu, Bu Edy seketika merasa pusing dan hendak pingsan. Namun, sang suami bergegas menahan tubuhnya. Mengguncang-guncang pundaknya agar kembali sadar.
Di pijakan yang lain, Dirga mematung tanpa kata. Berbagai perasaan berkecamuk di benaknya.
"Kak ... tenanglah, Kak." Mirna mencoba untuk menenangkan sang kakak.
Bu Broto pun segera memeluk tubuh Haira.
"Haira ... Sayang, kami akan selalu ada untukmu, Nak," ujar Bu Broto.
"Itu tidak mungkin, aku tidak mungkin kehilangan rahim. Aku pasti masih bisa hamil. Ibu harus bilang kalau itu tidak benar," pekik Haira sambil terus menangis.
"Bu, Pak ... ayo kita pulang dulu, biar Haira istirahat," ajak Dirga pada kedua orang tuanya.
Mendengar hal itu, Pak Broto berkata, "Kamu tidak boleh pergi, Nak Dirga. Kamu harus tetap di sini untuk menemani Haira. Dia membutuhkan kamu sekarang. Dia butuh kekuatan darimu."
Dirga terdiam sejenak. "Calya hanya butuh istirahat, Pa. Keberadaan kalian sudah cukup untuk menenangkannya. Dirga dan orang tua Dirga juga perlu untuk menenangkan pikiran, karena sebenarnya kami juga sedang mengalami shock atas hal ini."
"Tapi kamu kan suami Haira. Apa kamu tidak lihat apa yang terjadi padanya sekarang?" kata Pak Broto sambil menunjuk ke arah Haira yang masih duduk sambil dipeluk oleh ibu dan adiknya yang kesemuanya sedang terisak.
"Ya ... justru karena saya adalah suaminya, saya jadi merasa mengalami de javu. Saya pernah memiliki seorang istri, di mana saat ia terpuruk, saya tidak berada di sisinya. Saya pernah meninggalkan seorang istri, hanya karena kedua orang tua saya menuntut keturunan darinya. Saya pernah mendengar orang menyebutnya mandul, padahal dia memiliki rahim, dan bahkan dokter tak pernah memvonis hal itu. Saya tak bisa mendampingi Haira saat ini, karena hal itu justru membuat saya menjadi terpukul. Maaf, tapi Dirga harus pergi."
Setelah mengatakan hal itu, Dirga melangkah pergi, disusul kedua orang tuanya. Sementara itu, Haira justru semakin memekik.
__ADS_1
"Tidak! Dirga ... jangan pergi!"
Akan tetapi, Dirga seakan tidak peduli. Ia terus berjalan, dan memasuki mobil bersama kedua orang tuanya. Di dalam rumah, Pak Broto dan keluarganya masih berusaha untuk menenangkan Haira.
***
Sesampai di rumah, Dirga tak banyak bicara. Ia langsung masuk ke dalam kamar.
Ia merasa begitu hancur dalam sebuah penyesalan. Ia merasa bahwa karma sedang menimpa kedua keluarga yang telah melakukan kezaliman pada mantan istrinya.
Keluarga Broto yang telah ingkar janji. Keluarganya sendiri yang telah memojokkan Calya. Serta dirinya sendiri yang menjadi pemeran utama dalam permainan itu.
Mandul. Tak bisa memberi keturunan. Julukan itu yang selalu disertakan untuk Calya. Bagaimana kedua orang tuanya memuji-muji Haira dengan kehamilannya.
Hingga tanpa disadarinya, bulir-bulir bening menetes dari kedua sudut matanya. Dirga menangis.
***
Pagi ini, Dirga memutuskan untuk kembali ke kota tempat tugasnya, tanpa memberi tahu Haira. Saat berpamitan pada kedua orang tuanya, Dirga pun tak banyak berbicara.
"Apa yang harus Dirga sabarkan, Bu?" tanya Dirga.
"Ya ... soal Haira, istrimu ...."
Dirga mengembuskan napas.
"Bukan Dirga yang harus bersabar, tapi Ibu dan Bapak," sahut Dirga.
Bu Edy hanya termangu mendapatkan jawaban seperti itu. Bagaimana pun perkataan putranya itu memanglah benar. Mereka lah sebagai orang tua Dirga yang sangat mengharapkan kehadiran penerus keturunan.
Sampai saat Dirga berlalu pergi, hanya keheningan yang terjadi. Baik Pak Edy ataupun Bu Edy, tak ada lagi yang memulai obrolan dengan Dirga. Mereka menyadari bahwa sang putra pun terpukul dengan kejadian itu.
__ADS_1
"Bu ... apakah kita sedang menuai karma?" ujar Pak Broto malam ini saat berada di kamar tidur bersama sang istri.
"Karma apa, Pak?" sahut Bu Edy.
"Calya, Bu. Di mana dia sekarang?"
"Lho ... kenapa Bapak tiba-tiba menyebut namanya? Dia kan sudah bukan siapa-siapa kita lagi. Lantas apa juga hubungannya dengan karma?"
"Bukankah selama ini kita menganggapnya tak bisa memberikan keturunan untuk kita? Bukankah karena itu kita menyetujui pernikahan kedua Dirga?" lanjut Pak Edy.
Mendengar hal itu, Bu Edy tertegun. Pikirannya melayang-layang. Ia teringat bagaimana saat pertama kali Dirga mengungkapkan padanya bahwa ia jatuh hati pada seorang wanita yang ditemuinya di tempat tugas pertamanya.
Dari foto yang diperlihatkan oleh Dirga, Bu Edy bisa melihat bahwa gadis cantik berseragam pegawai bank itu adalah orang yang baik. Terbukti saat ia bertemu dengannya pertama kali. Tepat di hari mereka datang untuk melamarnya menjadi istri putra mereka.
Bu Edy teringat, bagaimana ia menyambut gadis itu dengan bahagia sebagai menantunya. Ia sangat yakin bila Dirga akan terawat dengan baik di tangan Calya. Benar saja, hal itulah yang memang terjadi. Sang menantu rela melepaskan pekerjaan demi mengabdi pada sang suami.
Namun, keegoisan mereka akan keinginan memiliki cucu telah mendorong mereka untuk melakukan hal yang tak adil bagi Calya. Mereka terus membiarkan wanita itu tersakiti sampai akhirnya harus tersingkir.
Bu Edy pun teringat saat ia mendatangi Calya, menghinanya sedemikian rupa. Mengharuskan Dirga untuk memilih antara dirinya sebagai ibu atau wanita yang adalah istri putranya itu.
Masih terngiang jelas, bagaimana Bu Edy mengagung-agungkan Haira yang sedang mengandung penerus mereka di hadapan Calya. Lantas, memorinya kembali menuju ke saat di mana Haira mengatakan kebohongan padanya di malam kecelakaan itu terjadi. Dua sifat yang berbeda di antara dua menantunya itu.
Bu Edy memejamkan mata.
Pikirannya melayang kepada kedua orang tua Calya. Mereka pasti sangat terpukul dengan hal yang menimpa putri mereka. Putri yang mereka titipkan pada putra mereka, untuk dijaga dengan sepenuh jiwa saat hari pernikahan Dirga dan Calya berlangsung. Perasaan mereka pasti sangat hancur saat sang putri pulang sebagai seorang janda tanpa diantar oleh siapa pun.
Berbagai bayangan yang terlintas itu akhirnya meluruhkan air mata Bu Edy.
"Benar, Pak. Kita sedang menuai karma kita," lirih Bu Edy dengan derai air mata yang tak terbendung.
Pak Edy pun tak dapat menutupi ratapannya. Matanya yang sedari tadi memang sudah berkaca, kini mengalirkan bulir bening.
__ADS_1
Sepasang suami istri itu pun saling berpelukan untuk menguatkan satu sama lain.
***