
Keesokan harinya, Calya pun bersiap untuk mulai bekerja. Sesampai di Rainela Cafe, Calya disambut oleh Bu Siska dan diberikan seragam pramusaji untuk dipakainya.
Namun, sebelumnya, Calya diminta untuk menandatangani kontrak kerja. Di sana tertera hak dan kewajibannya sebagai karyawan di cafe itu. Dan saat melihat pihak yang bertanda tangan, Calya pun menanyakan tentang pemilik nama yang tertera di situ.
"Maaf Bu Siska, Bu Anela Jelita ini siapa ya?"
"Oh, beliau pemilik cafe ini," jawab Bu Siska.
"Tapi dia tidak ada di sini ya?" tanya Calya lagi.
"Iya, beliau hanya datang sesekali saja untuk mengontrol, karena tanggung jawab untuk mengelola cafe ini diserahkan pada manajer operasional, yaitu saya."
Calya mengangguk, lalu bergegas menandatangani kontrak itu.
Hari pertama bekerja, Calya cukup menikmatinya. Jadwal hari ini, ia akan bekerja sampai pukul lima sore.
Tiga puluh menit menjelang jam kerjanya berakhir, dua orang tamu masuk ke cafe. Setelah duduk di kursi mereka, Calya yang kebetulan kosong pun bergegas menuju ke meja itu.
__ADS_1
"Permisi, silakan ini daftar menunya," ujar Calya sambil meletakkan dua buah daftar menu tanpa melihat ke wajah kedua pengunjung itu.
"Terima kasih, Mbak .... Astaga! Mbak Calya?" ujar seorang di antaranya. Ia terkejut saat mengangkat kepala dan mendapati Calya yang berdiri di situ.
"Bagas?" lirih Calya.
Tak berapa lama, pria lainnya yang ada di situ pun mengangkat kepala. Nama Calya menggelitiknya untuk segera menengok. Memastikan wajah sang pemilik nama.
"Calya?"gumamnya setengah tak percaya.
"Ka- kamu ... Praba?" Belun usai keterkejutan Calya melihat Bagas berada di cafe ini, ia kembali terkejut mendapatkan Praba, kawan sekantor sang mantan suami itu berada di tempat ini juga.
Sejenak, Calya dan Praba saling berpandangan. Entah mengapa, Calya merasakan sebuah ketenangan saat ini. Wanita itu selalu merasa nyaman saat berada di sisi lelaki itu. Tentu saja, sebab Praba lah yang selama ini hadir di saat-saat terpuruknya menghadapi pernikahan kedua suaminya dulu.
"Cal ... kamu di kota ini? Kamu kerja di sini? tanya Praba kemudian.
"Em ... pesan saja dulu makanan dan minumannya. Kita tidak bisa mengobrol lama-lama sekarang. Tiga puluh menit lagi, jam kerja saya selesai," ujar Calya.
__ADS_1
Praba pun mengerti dan menurut pada permintaan Calya. Setelah menyebutkan pesanan mereka, Calya pun pergi untuk memprosesnya di kasir.
"Maaf, Mas, kok kenal sama Mbak Calya?" tanya Bagas pada Praba setelah kepergian Calya.
"Iya, dulu dia istri teman sekantor saya. Lha kamu sendiri?," jawab Praba.
"Oh iya, Mas. Saya dengar dari adik Mbak Calya, yang adalah pacar saya kalau Mbak Calya dulu suaminya seorang aparat negara, seperti Mas Praba, dan mereka baru saja bercerai.
Praba mengangguk. "Jadi ... kamu pacaran sama adiknya?"
"Iya, Mas, kami teman kampus juga," sahut Bagas.
Praba tersenyum. Dia merasa bahwa takdir mungkin sedang berpihak padanya. Beberapa menit yang lalu, ia baru saja tiba di kota ini. Orang tua Bagas adalah kawan lama orang tua Praba, karena itu lah, Bagas ditugaskan untuk menjemput Praba, dan kemudian membawanya ke rumah mereka untuk tinggal bersama di sana.
Namun, Praba meminta untuk mampir sebentar ke cafe ini. Dan ternyata, di cafe ini dia akhirnya bertemu lagi dengan wanita yang beberapa hari ini mengusik pikirannya. Wanita yang dikhawatirkannya.
***
__ADS_1