
Setengah jam setelah Bu Darmawan masuk ke dalam ruang bersalin, terdengar suara tangisan seorang bayi. Praba dan kedua orang tuanya serta ayah Calya sontak saling berpandangan, kemudian melepas senyum bahagia.
Di dalam ruang bersalin, Bu Darmawan tak henti-hentinya mengecup kening sang putri yang penuh dengan peluh usai berjuang bertaruh nyawa tadi. Sampai saat seorang perawat datang dengan menggendong bayi yang kini sudah dibungkus kain itu ke pelukan Calya.
"Digendong dulu ya, Bu. Saya akan memanggil ayahnya untuk mengadzani," ujar perawat itu.
Mendengar hal itu, Calya dan ibunya pun saling berpandangan.
Setelah membuka pintu bersalin, semua yang ada di situ sontak menghampiri perawat itu dengan berbagai pertanyaan.
"Bu ... Pak ... anak Ibu Calya sudah lahir. Sekarang Ibu dan bayinya dalam keadaan sehat. Bu Calya melahirkan seorang anak laki-laki, jadi sekarang ayahnya sudah bisa masuk untuk mengazani bayinya," ujar sang perawat.
"Saya yang akan mengazani, saya adalah kakeknya," ujar Pak Darmawan sembari melangkahkan kaki hendak masuk ke dalam ruangan itu.
"Ayah bayi itu ada di sini, Pak." Suara Dirga menghentikan langkah Pak Darmawan.
"Dirga adalah ayah anak itu, dan Dirga masih hidup, jadi biar Dirga yang melakukannya, Pak," ucap Dirga lagi.
Pak Darmawan menatap sejenak pada Dirga, kemudian memundurkan langkahnya. Memberikan tempat bagi Dirga untuk melangkah masuk. Lelaki baya itu menyadari bila yang dikatakan Dirga adalah benar adanya. Ikatan pernikahan memang bisa berakhir, tetapi tidak dengan ikatan darah.
Sesampai di dalam ruang bersalin, Dirga menghampiri Calya yang masih menggendong bayinya di tempat tidur.
"Aku akan mengazani bayi kita, Cal," ujar Dirga.
Calya pun menyerahkan bayinya pada Dirga. Ia tak menolak bila Dirga melakukan hal itu, sebab Calya memang sudah bertekad untuk tidak menyembunyikan kenyataan apa pun pada anaknya.
Seusai melafalkan azan di telinga putranya, Dirga menatap lekat wajah darah dagingnya itu. Hingga tanpa terasa, bulir bening menetes dari kedua sudut matanya.
"Maafkan Ayah, Nak," gumamnya pelan, kemudian mengecup lembut dahi putranya itu.
Dirga pun menyerahkan kembali bayi itu pada Calya untuk disusui. Sejenak, Dirga menatap wajah Calya.
"Terima kasih," ucap Dirga pada mantan istrinya itu.
Sesaat kemudian, lelaki itu kembali berjalan ke luar ruangan. Di depan sana, ia hanya melihat sejenak pada semua orang yang ada di sana, lalu kembali berjalan untuk pergi dari rumah sakit itu.
Di dalam ruangan, Calya tak mampu menahan rasa harunya. Berbagai perasaan bercampur aduk di benaknya kini. Rasa bahagia dengan kehadiran putranya, serta rasa sedih atas apa yang harus terjadi dalam rumah tangganya yang kelak akan menyebabkan putranya menjadi berbeda dari anak-anak yang lain.
__ADS_1
Melihat hal itu, Bu Darmawan mencoba untuk menenangkan Calya dengan memeluknya.
"Sudahlah, Nak. Jangan bersedih. Ini adalah hari yang membahagiakan untuk kita," ujar Bu Darmawan.
***
Setelah beberapa jam, Calya dan bayinya pun dipindahkan ke ruang perawatan. Di sana, mereka disambut bahagia oleh semua orang. Bu Nugraha dan suaminya bergantian menggendong sang bayi. Sementara Praba kini duduk di sisi Calya, dan tak hentinya menggenggam tangan wanita itu.
"Kamu adalah wanita hebat. Ibu yang hebat," gumam Praba.''
Calya hanya tersenyum menanggapi pujian dari pria yang telah menempati hatinya itu. Pria yang senantiasa berada di sisinya, menjaga dan setia menunggu hingga saat yang dinantinya tiba.
***
Dua hari kemudian, Calya pun diperbolehkan untuk pulang ke rumah. Kondisinya berangsur pulih. Demikian juga dengan bayinya yang sehat.
Di rumah, sang bayi disambut sedemikian rupa oleh semua orang, terutama Myesha yang begitu gemas dengan kehadiran bayi mungil itu.
Di rumah Dirga, berita kelahiran anak Calya pun sudah diketahui oleh Haira, Bu Edy dan Pak Edy. Haira merasa tak tahu harus memberi reaksi seperti apa. Dia lebih cenderung memilih untuk mengurung diri di dalam kamar. Sementara itu, Pak Edy dan Bu Edy memutuskan untuk pergi melihat cucu mereka itu ke rumah Calya.
Dengan membawa beberapa hadiah, mereka pun menuju ke rumah itu. Berbeda dengan sebelumnya, di mana mereka diterima dengan suasana yang tegang, kali ini kedua orang tua Calya menerima mereka dengan ramah. Mereka beranggapan, bila putri mereka saja bisa kuat menerima kenyataan ini, mengapa mereka tidak bisa melakukannya.
"Dia ganteng sekali, sangat mirip dengan ayahnya," ujar Bu Edy.
"Iya, Bu. Dia benar-benar mirip sama Dirga," sahut Pak Edy.
Hingga tanpa terasa, sepasang suami-istri itu meneteskan air mata.
"Nak Calya ... bolehkah kami memberi satu kata nama untuknya?" tanya Pak Edy pada Calya.
Wanita itu mengangguk. "Tentu saja boleh, Pak."
"Benarkah? Terima kasih, Nak. Em ... dia terlahir dari seorang ibu yang kuat, maka kami berharap dia pun bisa menjadi seorang laki-laki yang kuat kelak. Dalam keadaan apa pun, dia tidak akan menyerah dan berputus asa. Jadi kami akan memberi nama Andaka," papar Pak Edy.
Calya tersenyum menanggapi perkataan Pak Edy. "Nama yang bagus, Pak. Terima kasih."
Tepat di saat itu, Dirga pun muncul. Dia merasa bahagia karena Calya mengizinkan kedua orang tuanya untuk memberi nama pada anak mereka itu.
__ADS_1
Sementara itu, Praba masih terus berada di sisi Calya. Lelaki itu tak membiarkan sedikit pun Calya jauh dari pengawasannya. Di sisi lain, dia juga seakan memberi isyarat pada Dirga bahwa Calya akan selalu bersamanya.
Sampai beberapa saat kemudian, telepon genggam milik Dirga berdering. Setelah melihat layarnya, rupanya Bu Broto lah yang menghubunginya. Dirga pun menjawab telepon itu.
"Dirga ... dari tadi Ibu menelepon Haira, tapi dia kok tidak angkat-angkat ya?" tanya Bu Broto setelah Dirga menjawab teleponnya itu.
"Oh ... ini Dirga lagi sama Bapak dan Ibu, lagi keluar. Haira ada di rumah, Bu," sahut Dirga.
"Bapak dan Ibu kamu?" tanya Bu Broto memastikan maksud Dirga.
"Iya, Bapak dan Ibu lagi di Jogja," sahut Dirga.
"Oh ya? Apa Ibu bisa ngobrol sama ibumu?" tanya Bu Broto.
Dirga pun menyerahkan teleponnya pada Bu Edy setelah memberi tahu bahwa yang menelepon adalah ibu mertuanya.
"Halo, Bu Broto," sapa Bu Edy.
"Ibu lagi di Jogja ya?" tanya Bu Broto.
"Oh iya, Bu. Kami ... ini sekarang lagi di rumah Calya. Dia baru saja melahirkan cucu kami," ujar Bu Edy tanpa berpikir dengan siapa dia sedang berbicara karena perasaannya yang begitu senang.
"Apa? Rumah Calya? Melahirkan? Calya siapa?" tanya Bu Broto.
Mendengar pertanyaan sang besan, Bu Edy pun tersadar.
"Oh ... itu ... Calya ... Calya mantan istri Dirga, Bu." Bu Edy akhirnya memberanikan diri untuk mengungkapkannya.
Bu Edy berpikir bahwa Haira pun sudah mengetahui hal itu, jadi tak ada gunanya juga untuk menyembunyikan pada kedua orang tua Haira.
"Mantan istri Dirga? Bagaimana bisa begitu, Bu? Saya ... saya benar-benar tidak mengerti."
Bu Edy pun menjelaskan pada Bu Broto, semua kenyataan yang terjadi selama ini.
"Lalu ... bagaimana dengan Haira? Kalian semua berada di rumah itu dan menyambut kelahiran anak itu, tanpa memikirkan perasaan Haira. Saya sudah berusaha meneleponnya sejak tadi, tapi dia tidak menjawab. Kalau sampai terjadi apa-apa pada Haira, kalian harus bertanggung jawab!" ujar Bu Broto.
Saat itu juga Bu Edy pun tertegun. Ia segera mematikan telepon dan memberi tahu hal itu pada suami dan putranya. Karena hal itu, mereka bertiga pun memutuskan untuk kembali ke rumah mereka. Mencari Haira di kamarnya.
__ADS_1
***
Makkk ... setelah ini Author akan kembali menampilkan beberapa part pilihan ya.