Sengketa Hati (CALYA)

Sengketa Hati (CALYA)
Malioboro


__ADS_3

Sore telah tiba. Jam kerja Calya sudah berakhir. Setelah berpamitan pada teman-temannya ia pun beranjak meninggalkan cafe.


Setelah beberapa langkah berjalan dan menunggu kendaraan umum di pinggir jalan, sebuah motor tiba-tiba berhenti di depan Calya.


"Ojek, Bu," ucap pengendara motor yang memakai helm menutupi seluruh wajahnya itu.


"Tidak, Pak, saya nunggu angkot saja," sahut Calya.


Pengendara motor itu kemudian membuka helmnya, lalu berkata, " Yakin tidak mau naik motor saya?"


"Ya ampun, Praba?" ujar Calya setengah terkejut.


Pria itu menebar senyumannya. "Ayo, naiklah."


Calya pun menurut, segera duduk di boncengan motor pria itu. Setelahnya, Praba kembali melajukan motornya.


"Kita jalan-jalan dulu ya," gumam Praba.


"Ke mana?" tanya Calya, sedikit teriak agar suaranya tetap terdengar oleh Praba di tengah deru angin yang memecah suaranya.


"Nanti juga tahu," sahut Praba sambil tersenyum dan memutar gas motor lebih kencang.


Sampai tiba di jalan Malioboro, Praba menepikan motornya di salah satu sisi parkiran, kemudian mengajak Calya untuk turun dan menyusuri jalan ke sepanjang deretan pertokoan yang menjajakan souvernir khas Jogja.


Di sana, Praba mengajak Calya untuk berfoto di tempat-tempat yang dianggap memiliki latar yang bagus untuk melakukan pengambilan gambar. Mulai dari berfoto di depan lukisan, sampai duduk di bangku taman jalan.


"Capek?" tanya Praba.


Calya menggeleng. "Senang," jawabnya.

__ADS_1


"Sudah lama tidak begini ya?" goda Praba.


"Begitulah," sahut Calya, diiringi decak tawa keduanya.


"Yuk makan dulu," ajak Praba.


"Di mana?"


"Suka gudeg?" tanya Praba yang disahuti anggukan oleh Calya.


Praba pun kembali mengajak Calya naik ke motor dan membawanya ke sebuah rumah makan gudeg. Sesampai di sana dan memilih tempat duduk, mereka pun memesan menu masing-masing. Dan, setelah menunggu beberapa saat, pesanan datang dan mereka makan bersama.


"Makan yang banyak ya," ujar Praba.


"Nanti kekenyangan," sahut Calya.


"Tidak apa-apa, kan yang makan dua orang."


Perlahan, Calya memandang ke arah Praba yang masih asik menikmati makanannya. Wajah lelaki yang beberapa bulan terakhir selalu ada bersamanya, memberikan kekuatan di saat keterpurukan.


"Cal ... ingat tidak saat pertama kali kita bertemu?" tanya Praba, membuyarkan lamunan Calya.


"Eh, ya ... iya ingat lah. Kamu waktu itu naik motor, hampir nabrak saya waktu habis belanja barang-barang dapur," sahut Calya.


"Saya masih ingat waktu kamu ngomel-ngomel. Hahaha, lucu."


"Ya, siapa yang tidak marah coba kalau seperti itu," gerutu Calya.


"Ingat tidak, waktu itu kamu mau laporin saya ke suami kamu?"

__ADS_1


"Hem ...," gumam Calya pelan.


"Ternyata ...."


"Ternyata kamu justru bos suamiku. Puas?!"


"Hahaha." Praba kembali terkekeh.


"Ternyata ... kita bertemu kembali di sini, tapi dengan suasana yang berbeda. Lebih romantis," ujar Praba setelah tawanya reda.


Kali ini dengan menatap lembut pada Calya.


Membuat wanita itu spontan menundukkan pandangannya. Ada rona malu tergurat di situ.


"Cal ... besok kita ke dokter kandungan ya." Ucapan Praba kali ini membuat Calya mendongak.


"Untuk apa?" tanya wanita itu.


"Ya untuk periksa kandunganmu lah," ujar Praba.


Calya terdiam sejenak. Benar yang dikatakan oleh Praba, sejak mengetahui kehamilan ini, ia sama sekali belum memeriksakannya lagi. Bila bukan karena Praba, ia mungkin belum memikirkan hal itu.


"Kita?" tanya Calya memastikan ucapan Praba.


"Iya, saya akan menjemputmu sepulang kerja, terus kita pergi ke dokter sama-sama."


Calya hanya mengangguk. Entah mengapa ia merasa tak mampu menolak ajakan itu.


Praba selalu bisa memberi kenyamanan untuknya, meski Calya merasa bahwa Praba melakukan semua kebaikan pada dirinya selama ini hanya karena perasaan kasihan padanya.

__ADS_1


💚💚💚


Siapa yang senyum-senyum mesem baca part ini tunjuk ✋


__ADS_2