Sengketa Hati (CALYA)

Sengketa Hati (CALYA)
Pengakuan Rasa


__ADS_3

Di rumah sakit, Haira sudah sadarkan diri. Di dalam kamar inap itu, Dirga dan kedua orang tuanya sedang berdiri di sekitar tempat tidur wanita itu.


"Dir ...," gumam Haira lemah.


Dirga pun mendekat, kemudian mengulurkan tangannya, memegang tangan Haira.


"Kamu sudah sadar?" tanya Dirga.


"Dir ... kamu tidak akan meninggalkan aku kan?"


Dirga terdiam sejenak. Sorot mata lemah dari sang istri membuatnya tak bisa berkata. Ada rasa iba yang kini menghantuinya.


"Sudahlah, jangan dipikirkan. Lebih baik sekarang kamu istirahat saja. Dokter bilang, kamu sepertinya banyak pikiran sehingga kondisi emosional mu tidak stabil," ujar Dirga.


"Bagaimana aku bisa tidak memikirkan hal itu? Aku tak mau diduakan. Aku tak mau dimadu. Tolong ... jangan lakukan itu padaku."


Mendengar permintaan Haira, Bu Edy dan suaminya saling berpandangan. Mereka memutuskan untuk keluar dari kamar itu.


Di taman rumah sakit, sepasang suami-istri yang mulai memasuki usia senja itu duduk di sebuah bangku taman. Mereka memandang ke arah orang-orang yang berlalu lalang di rumah sakit itu.


"Pak ... apa yang harus kita lakukan?" tanya Bu Edy pada suaminya.


Pak Edy menarik sehela napas.


"Tidak ada, Bu. Tugas kita hanya lah menjalani apa yang sudah menjadi takdir kita. Bukankah ini adalah pilihan kita, Bu?" gumam Pak Edy.


Bu Edy tertunduk lemas. Di saat mereka telah memiliki harapan untuk memiliki keturunan, sebuah rintangan kembali terjadi. Rintangan yang sesungguhnya adalah hasil keputusan mereka sendiri.


***


Sore ini, kedua orang tua Dirga akan kembali ke rumah. Sementara itu, Dirga lah yang menemani Haira di rumah sakit.


Sesampai di depan rumah, mereka melihat seseorang akan keluar dari halaman rumah depan. Bu Edy pun mengajak suaminya untuk menyeberang ke rumah itu. Rupanya, Bagas lah yang baru saja akan keluar dari rumah untuk mengantarkan orderan.


"Permisi, Mas," ujar Bu Edy.


"Ya, Bu?" sahut Bagas.


"Apa Mas ini tinggal di rumah itu?" tanya Bu Edy.


"Oh, saya hanya kerja di sini jadi kurir pesanan makanan. Tapi ini adalah tempat tinggal teman saya. Bagaimana, Bu, apa ada yang bisa saya bantu?" sahut Bagas.


"Oh ... ini, kami mau bertemu dengan Calya, apa dia ada?" tanya Bu Edy.


"Mbak Calya?" tanya Bagas memastikan.


"Em ... iya. Calya. Dia tinggal di sini kan?" tanya Bu Edy.

__ADS_1


Bagas mengangguk. "Iya, Mbak Calya adalah kakak teman saya. Dia memang tinggal di sini, dan juga yang mengelola usaha penjualan makanan ini," ujar Bagas.


"Oh ... em kami mau ketemu sama dia. Apa Mas bisa memberi tahu dia untuk keluar menemui kami?" gumam Bu Edy lagi.


"Kalau boleh tahu, ini dengan Ibu dan Bapak siapa ya?" tanya Bagas memastikan identitas kedua tamu itu.


"Oh ... kami Bu Edy dan Pak Edy. Bilang saja begitu, Calya pasti sudah tahu," ujar Bu Edy.


Bagas pun mengangguk, memahami ucapan Bu Edy. Sesaat kemudian, dia berpamitan untuk masuk ke dalam rumah dan menemui Calya di dapur.


"Mbak, ada yang ingin bertemu dengan Mbak Calya di depan," ujar Bagas.


"Hah, siapa?" tanya Calya.


"Namanya, Bu Edy dan Pak Edy," ujar Bagas.


"Hah?" Calya terkejut mendengar kedua nama itu disebut.


Tentu saja, sebab Calya mengenali nama itu sebagai mantan mertuanya. Orang tua Dirga.


"Bagaimana, Mbak?" tanya Bagas, mengembalikan fokus Calya padanya.


"Oh ... iya, Mbak akan menemui mereka," ujar Calya. "Sudah, kamu berangkat saja untuk antar pesanan. Myesha sebentar lagi datang untuk pengantaran selanjutnya," sambung Calya.


Bagas dan Calya pun keluar bersamaan ke halaman depan. Setiba di sana, Bagas langsung menuju motornya dan berlalu pergi. Sementara Calya kini tengah bertatap muka dengan kedua mantan mertuanya itu.


"Bu ... Pak ...," desis Calya.


"Nak Calya ... apa kita bisa mengobrol sebentar?" tanya Bu Edy.


Calya mengangguk. "Iya, tentu saja, Bu. Mari masuk lah, kita mengobrol di dalam," ujarnya sambil mengarahkan tangannya ke arah dalam rumah.


Sepasang suami-istri itu pun setuju, dan menurut langkah Calya masuk ke dalam rumah. Di sana, Calya mempersilakan mereka untuk duduk di sofa tamu. Sesaat kemudian ia berpamitan untuk ke belakang. Tentunya Calya akan membuatkan minuman untuk para tamunya itu.


Sampai beberapa menit kemudian, Calya pun kembali hadir di ruang tamu itu dan kini sudah menghidangkan dua gelas teh hangat beserta beberapa potong kudapan.


"Silakan dicicipi, Bu, Pak," ujar Calya setelah duduk.


Bu Edy dan Pak Edy pun meraih masing-masing gelas teh mereka, kemudian menyeruputnya.


"Terima kasih, Nak Calya. Em ... sebenarnya, Ibu dan Bapak datang untuk memastikan apa yang telah dikatakan Dirga pada kami," ujar Bu Edy setelah meletakkan kembali gelasnya.


Calya tertegun sejenak. Ia tahu bila yang dimaksud oleh ibu Dirga itu adalah perihal kehamilannya. Calya yakin bila Dirga sudah memberi tahu hal itu pada kedua orang tuanya itu. Namun, ia belum bisa memahami maksud lain yang akan m0ereka lakukan setelah memastikan tentang kehamilannya.


"Lantas ... setelah memastikannya, apa ada hal lain lagi yang ingin Bapak dan Ibu ketahui dari Calya?" tanya Calya kemudian.


"Kami ... kami ...."

__ADS_1


"Kami ingin meminta maaf pada Nak Calya, atas apa yang telah terjadi. Kami meminta maaf atas apa yang kami lakukan pada Nak Calya." Pak Edy mengambil alih perkataan istrinya.


"Maaf?" ujar Calya lirih.


"Iya, kami harap Nak Calya dan juga orang tua Nak Calya mau memaafkan kami yang membuat Nak Calya harus merasakan ketidakadilan itu. Juga ... maafkanlah Ibu yang mungkin pernah mengucapkan kata-kata yang tidak pantas pada Nak Calya," sahut Pak Edy lagi.


Calya menarik napas. Ia sedang mencoba untuk mengendalikan perasaannya sendiri. Mengingat bagaimana mantan ibu mertuanya itu pernah menghinanya, kemudian meminta Dirga untuk memilih antara mereka berdua seketika membangkitkan kembali perih di hatinya. Karena itu, ia berusaha untuk mengendalikan rasa itu, agar tak mempengaruhi sikapnya saat ini. Bagaimana pun, semuanya sudah berlalu.


"Tak ada yang perlu dimaafkan, Bu, Pak. Bila terus saja menganggap hal itu sebagai suatu kesalahan, maka kita tidak akan pernah berada di titik ini. Calya sudah bangkit, dan memulai hidup yang baru. Begitu juga dengan Dirga dan Haira, serta Ibu dan Bapak. Tak perlu lagi kita melihat ke masa lalu. Tak ada gunanya," sahut Calya kemudian.


"Tapi ... bagaimana dengan anak yang sedang kamu kandung itu, Nak?" ungkap Bu Edy.


Calya terhentak dengan tanya itu.


"Tidak ada yang perlu Ibu khawatirkan dengan anak ini," ujar Calya.


"Tapi ... dia butuh seorang ayah. Bukankah Dirga adalah ayahnya?" ucap Bu Edy lagi.


"Iya, memang benar. Dirga adalah ayah anak ini. Setelah dia lahir, dia pun akan tetap mendapatkan hak untuk mengetahui tentang ayah kandungnya. Dia juga adalah cucu Ibu dan Bapak," ujar Calya.


"Kalau begitu ... artinya kamu bersedia untuk rujuk kembali dengan Dirga?" sergah Bu Edy.


Calya sedikit membesarkan bola matanya karena terkejut dengan perkataan Bu Edy.


"Bagaimana Ibu bisa berpikir seperti itu? Calya tidak mengatakan kalau akan rujuk dengan Dirga karena anak ini," ujar Calya.


"Tapi ... bukankah kamu bilang kalau Dirga akan tetap menjadi ayah anak itu?" sahut Bu Edy.


"Iya, anak ini selamanya akan menjadi anak biologis Dirga. Hal itu tak bisa dipungkiri. Tetapi ... bukan berarti Calya dan Dirga akan bersama lagi. Itu tidak akan terjadi. Calya tidak akan pernah menikah dengan Dirga lagi. Ibu dan Bapak tahu kan bila sekarang Dirga memiliki seorang istri?" ucap Calya.


"Tapi ... apa kamu masih mencintai Dirga? Jawablah yang jujur, Nak," tanya Bu Edy lagi.


Mendengar pertanyaan itu, Calya hening sejenak. Wanita itu bisa merasakan bila mantan ibu mertuanya itu benar-benar berharap agar dirinya bisa kembali menjalin hubungan suami-istri dengan putranya. Namun, Calya juga tak bisa membohongi kata hatinya, bahwa di hatinya sudah tak terukir nama sang mantan suami lagi.


Perlahan Calya menarik napas, lalu berkata, "Tidak, Bu, Calya sudah tidak memiliki perasaan apa-apa pada Dirga. Setelah perceraian itu, semua rasa yang pernah ada pun berakhir."


"Apakah kamu yakin, Nak? Cobalah sekali lagi untuk bertanya pada hatimu," pinta Bu Edy.


"Hati? Tentu saja, Bu. Calya sudah bertanya pada hati Calya. Bagaimana mungkin, satu hati bisa menyimpan dua cinta?" ujar Calya.


"Maksud Nak Calya?" tanya Bu Edy akan arti ucapan Calya.


"Iya, Bu. Satu hati sudah pasti hanya untuk satu cinta. Calya sudah mencintai lelaki lain," ucap Calya.


Tepat di saat itu, Praba memasuki ruang tamu, setelah baru saja turun dari lantai atas. Ia menghentikan langkah dan menatap nanar pada Calya yang tampak terkejut saat menyadari kehadiran pria itu.


Sementara di sisi lain, Bu Edy tampak gusar dengan pengakuan Calya yang sudah tak lagi mencintai putranya.

__ADS_1


***


Untuk visualisasi Calya Janalin, Author belum menemukan kandidatnya. Siapa tahu ada masukan dari para reader, silakan komen ya.


__ADS_2