
Haira yang kegirangan segera berlari memeluk Dirga. Dirga hanya diam terpaku.
"Sayang ... ini ... ini benar undangan resepsi pernikahan kita?" tanya Haira dengan mata berbinar.
Dirga mengangguk. Haira kembali merengkuh pinggang suaminya. Semakin erat.
***
Di rumah dinas itu, Calya sedang duduk termenung memandangi telepon genggamnya. Sejak terakhir Dirga meneleponnya tiga hari silam, nomor teleponnya sudah tak bisa dihubungi lagi. Pun suaminya itu tak jua kembali.
'Apa yang terjadi pada Dirga?' seruan batin Calya.
Calya kemudian berpikir untuk menghubungi orang tua Dirga, mertuanya. Mungkin saja Dirga mengunjungi mereka dahulu di Surabaya sebelum kembali ke kota ini.
"Halo, Bu. Bagaimana kabarnya di Surabaya?" ucap Calya mengawali teleponnya.
"Iya, Nak. Ibu dan Bapak baik-baik saja. Bagaimana kabarmu?"
"Baik juga, Bu. Oh iya, Bu ... apa Dirga mampir ke Surabaya?" tanya Calya.
"Tidak, Nak. Hmm ... bukannya kamu tahu kalau dia lagi di Jakarta?" tanya ibu mertuanya.
Calya terdiam sejenak.
"Cal ... Calya ...." Suara ibu mertua Calya kembali terdengar.
"Heh ... iya, Bu. Dirga memang ke Jakarta, tapi beberapa hari yang lalu dia mengabari bila akan segera kembali. Namun, sampai sekarang dia belum juga datang. Calya pikir, Dirga mungkin mampir ke Surabaya dulu," papar Calya.
"Lho ... justru ibu dan bapak yang akan ke Jakarta malam ini, Nak," sahut ibu Dirga.
"Lho? Untuk apa, Bu?" tanya Calya kaget.
"Besok kan resesi pernikahan mereka."
Calya kembali terdiam.
__ADS_1
Nuraninya bergejolak!
Resepsi pernikahan? Dirga dan Haira akan melakukan acara seperti itu tanpa memberitahunya. Dan ... kedua mertuanya bahkan akan menghadirinya.
Bukankah mereka mengatakan bahwa pernikahan antara Dirga dan Haira dilakukan hanya agar Haira bersedia di operasi? Bukankah Dirga bilang bahwa dia hanya akan menunggu sampai Haira sadar?
Bukankah Dirga sudah berjanji padanya untuk segera kembali?
Bulir bening mengalir dari kedua sudut mata Calya. Bagai petir di siang bolong, wanita itu merasa terbakar.
Rasanya ia tak sanggup lagi melanjutkan percakapan bersama ibu mertuanya itu. Calya pun menutup panggilannya.
Sesaat kemudian ia merasa tak mampu menahan perih itu lagi. Calya meraung dan berteriak.
Suara teriakan Calya terdengar sampai ke telinga Praba. Dengan segera, pria itu berlari keluar dari rumahnya, menuju sumber suara itu. Rumah Calya.
"Astaga!" seru Praba setelah membuka pintu rumah.
"Ibu Dirga, ada apa?" ucapnya lagi.
Teriakan histeris Calya pun terhenti, kini yang tersisa hanya isak tangis kepiluan.
Praba merengkuh tubuh Calya. Memeluknya.
***
Saat ini Calya sedang terbaring di tempat tidurnya. Praba masuk ke kamar itu dengan membawakan secangkir teh hangat.
"Minumlah ini," ucap Praba.
Calya meraih cangkir itu, "Terima kasih."
"Ada apa?" gumam Praba.
"Bila kuberi tahu, apa yang bisa kau lakukan?" tanya Calya lirih.
__ADS_1
"Ada kalanya kita memerlukan seseorang untuk mendengarkan. Setidaknya itu akan mengurangi beban yang menumpuk di dalam hati," jawab Praba.
"Apakah aku bisa mempercayaimu?" tanya Calya lagi.
"Apakah aku terlihat seperti orang yang tidak bisa dipercaya?" balas Praba.
"Kita baru saling kenal."
"Perlukah mengenal lama untuk dapat saling percaya?"
Calya tertegun. Ucapan Praba seperti menyadarkannya pada sesuatu. Tentang kepercayaan. Tentang hubungan.
Dirga adalah suaminya, orang yang sudah lama bersamanya. Mengenalnya luar dan dalam.
Tapi nyatanya ... Dirga telah membohonginya. Dirga tak jujur padanya. Pun tak menepati janjinya.
Sesaat kemudian Calya mengangkat kepalanya, memandang wajah Praba.
"Apakah kamu pernah merasakan dibohongi?" tanya Calya.
"Pasti pernah."
"Oleh orang yang kau percaya?"
"Ya."
"Orang yang kau cintai?"
Praba terdiam. Lalu menggeleng, "Bukan."
"Lalu bagaimana aku bisa berbagi rasa denganmu?" tanya Calya lirih.
"Aku pernah merasakan kehilangan. Tak ada rasa yang lebih menyedihkan dari itu."
Calya terdiam. Ucapan Praba menegunkannya. Dia tersadar, Praba pernah kehilangan istrinya. Bahkan kehilangan untuk selamanya dan tak akan mungkin bertemu lagi di dunia ini.
__ADS_1