
Hari ini putra Calya berusia dua bulan. Di hari ini juga, acara pernikahan Praba dan Calya akan digelar di kampung halaman Calya.
Sejak Praba melamar Calya, Pak Darmawan dan istrinya pun kembali ke kampung halaman untuk melakukan persiapan. Sementara Praba dan Calya baru saja datang seminggu yang lalu. Semua persiapan pesta sederhana ini pun sudah selesai.
Praba dan Calya juga sudah bertemu dengan Raindra dan Anela, sebab mereka turut membantu persiapan acara itu. Tak ada lagi beban di hati Calya kepada mereka. Apalagi setelah mengetahui bahwa Raindra dan Anela sering membantu kedua orang tuanya sebagai tetangga.
Acara pernikahan pun berlangsung. Praba mengucapkan ijab kabul dengan lancar. Keluarga Pak Darmawan dan keluarga Pak Nugraha sangat berbahagia. Setelahnya kemudian diadakan acara syukuran sederhana.
Tak henti-hentinya aura kebahagiaan memenuhi guratan wajah setiap orang, terlebih kedua mempelai. Hingga saat malam telah tiba dan pesta berakhir, Praba dan Calya pun memasuki kamar pengantin mereka.
"Prab ... ini bantuin bukain dong," gumam Calya, meminta bantuan sang suami untuk melepaskan aksesoris di kepalanya.
"Tenang aja, saya pasti bantuin buka semuanya kok," sahut Praba.
"Ih ... apaan sih," gerutu Calya.
"Lho ... sekarang kan saya suamimu, Cal. Saya mau nagih hak lah," ujar Praba.
"Jangan ngomong gitu, ah!"
"Lho ... kenapa?" goda Praba.
__ADS_1
"Ya sudah gak usah bantuin," gumam Calya merajuk.
"Ya ... ya ... ya ... jangan marah dong, Sayang," lirih Praba sambil mendekat pada Calya.
Sejurus kemudian lelaki itu mulai membuka aksesoris di atas kerudung Calya.
"Nah ... sudah kan," ujarnya.
"Ya sudah," sahut Calya.
"Lalu apa lagi?" tanya Praba.
"Apa lagi, apanya?" tanya Calya.
"Andaka pengen punya adik katanya," ujar Praba.
"Andaka kan baru dua bulan, mana bisa dia bilang begitu," sahut Calya.
"Saya kan bisa ngerti bahasa bayi," ujar Praba.
"Ngarang kam-"
__ADS_1
Ucapan Calya terhenti saat Praba meletakkan jari telunjuknya di bibir wanita itu.
"Ssttt ... jangan bicara lagi," ujar Praba lembut.
Sesaat kemudian lelaki itu mendekatkan wajahnya pada wajah Calya. Mengecup lembut kening sang istri.
Calya memejamkan matanya. Ia kini tampak pasrah atas perlakuan lelaki yang telah menghalalkan dirinya itu.
Tentu saja, Praba tak berhenti sampai di situ. Segera ia menggendong tubuh sang istri dan membopongnya menuju ke tempat tidur.
Di pembaringan berukuran dua badan itu, Praba kembali mengecup kening Calya. Namun, kali ini tak berhenti di situ. Kecupan Praba menurun hingga ke hidung dan bibir.
Calya melenguh, menanggapi setiap sentuhan sang suami. Sampai akhirnya, Praba benar-benar membuai dan membawanya terbang ke awang-awang, menggapai mahligai cinta.
"Saya mencintai kamu, Calya ...," desis lembut Praba di telinga Calya.
Sekali lagi, wanita itu seakan terhipnotis oleh setiap sentuhan penuh cinta sang kekasih hati. Meski ini bukan lah kali pertama Calya mendapat sentuhan seperti itu dari pria, tetapi kebahagiaan yang dirasakan saat bersama Praba benar-benar berbeda.
Calya tak pernah menyangka bila perjalanan hidup akan membawanya pada saat ini. Tak ada wanita yang ingin mengalami kegagalan dalam rumah tangga. Akan tetapi, karena sebuah keihklasan, Calya kini mendapatkan anugerah cinta dari seorang pria yang benar-benar tulus menerima dirinya.
Ya, itulah cinta. Tak ada yang pernah tahu akan berlabuh pada siapa.
__ADS_1
TAMAT