Sengketa Hati (CALYA)

Sengketa Hati (CALYA)
Bertemu Madu


__ADS_3

Haira terus saja memencet nomor di layar ponselnya, tetapi jawaban yang didengar masih saja sama. Hanya suara operator telepon yang mengatakan bahwa saluran yang dituju sedang berada di luar jangkauan.


Haira semakin gelisah. Saat ini sudah tengah malam, dan sejak pergi tadi, Dirga belum juga memberinya kabar, apalagi mendatanginya. Entah sudah berapa banyak pesan yang dikirimkannya pada Dirga, tapi hingga kini belum juga terkirim.


Antara lelah dan marah, Haira memaksakan dirinya untuk tidur. Namun, jauh di dalam pikirannya, Haira sudah menyusun sebuah rencana yang akan dilakukannya esok hari.


***


Di dalam kamar, Calya baru selesai membersihkan wajahnya. Wanita itu pun mengganti pakaiannya dengan gaun tidur. Dirga sedang membaca beberapa berkas pekerjaan yang selama beberapa hari ditinggalkannya.


Akan tetapi, seketika pandangan Dirga teralih. Sorot matanya melesat pada tubuh istrinya yang sesaat polos tanpa sehelai benang pun. Calya menanggalkan seluruh pakaiannya, termasuk pakaian dalam sebelum kembali mengenakan sebuah gaun tidur berwarna putih gading yang berbahan satin. Gaun tidur itu melekuk indah di tubuh Calya, ditambah lagi dengan model tali kecil dan belahan dada yang rendah.


Saat Calya berbalik, ia terkaget mendapati Dirga telah berada di belakangnya.


"Sayang ... kamu cantik sekali. Aku merindukanmu ...." Dirga bergumam pelan sembari menaruh kedua tangannya di bahu Calya.


Calya bergeming sesaat. Jantungnya berdebar tak karuan. Dia pun bingung mengapa menjadi seperti ini. Mengapa ia harus merasa risih dengan perlakuan Dirga yang seperti ini sementara pria itu adalah suaminya.


Calya mencoba mengatur napasnya, menenangkan dirinya sendiri. Mungkin saja, rasa kecewanya pada lelaki itu lah yang membuatnya menjadi begini. Namun, Calya tak bisa memungkiri bila ia pun merindukan sentuhan lembut suaminya.


Perlahan, wajah Dirga mendekat pada Calya. Lelaki itu kemudian menjatuhkan bibirnya tepat di bibir wanitanya. Mengecup dan mengulumnya penuh cinta. Calya hanya berdesah lirih. Walau tubuhnya ingin berontak, hatinya menerima perlakuan itu.


Bagaimanapun, Dirga masih lah suami sahnya.


"Aku cinta kamu, Calya. Semua akan baik-baik saja. Kita akan selamanya bersama." Dirga berbisik lirih di telinga Calya.


Wanita itu terbuai dalam cumbuan suaminya. Hasrat cinta yang bergelora saat ini seakan mengingatkan pada malam pertama mereka. Hanya cinta dan kasih sayang yang memenuhi kamar mereka.


Malam merangkak semakin larut seiring deburan ombak kerinduan yang terhempas dalam setiap hentakan asmara yang dicurahkan oleh Dirga pada kekasih hatinya. Hingga lenguhan kepuasan yang penuh romansa bahagia mengakhiri kelelahan sepasang insan yang membawa mereka terlelap dalam pelukan masing-masing.


***


Pagi ini, Dirga sudah bersiap untuk berangkat ke kantor. Calya mengantarkan suaminya itu hingga ke depan rumah. Sebuah kecupan mesra didaratkan Dirga di kening Calya.

__ADS_1


Calya pun melepas kepergian Dirga dengan senyuman manis sampai motor yang dikendarai suaminya itu melaju dan tak tampak lagi. Setelah itu, Calya memulai aktivitasnya sendiri. Wanita cantik itu mulai melihat-lihat tanaman di depan rumahnya.


Sementara itu, di balik pagar luar, seorang wanita telah sedari tadi mengamati gerak-gerik Calya dan Dirga. Dia lah Haira. Wanita itu merasakan hatinya begitu panas setelah menyaksikan adegan mesra kedua orang itu.


"Mengapa mereka terlihat baik-baik saja? Bahkan begitu mesra?" Haira bergumam seorang diri.


Dengan pasti, wanita berhijab itu berjalan memasuki pekarangan rumah dinas itu.


"Permisi ...."


Suara seseorang dari arah belakang, membuat Calya memalingkan wajah dan tubuhnya. Sesaat, kedua wanita cantik itu saling menatap dengan perasaan yang berkecamuk di benak masing-masing.


"Ya? Ada yang bisa saya bantu, Mbak?" tanya Calya sembari mencoba mengingat-ingat siapakah wanita yang berada di hadapannya itu. Ia merasa pernah melihatnya tetapi belum mampu mengidentifikasinya secara pasti.


"Ya, tentu saja," jawab Haira. Sorot matanya begitu tajam menerpa wanita di hadapannya. Ada rasa cemburu yang begitu hebat di hati Haira.


"Oh iya, katakanlah, Mbak. Akan saya coba bantu sebisa saya." Calya mengulum senyum.


Sejenak, Haira mengamati Calya dari atas hingga bawah. Melihat rambut wanita itu yang sedang basah, Haira seketika merasakan api menyala membakar hatinya.


Sesaat kemudian pandangan Haira jatuh ke tubuh Calya. Sebuah pakaian rumah tersemat di tubuhnya yang ramping. Bentuk tubuh yang mirip dengannya. Tinggi semampai.


Kaos rajut lengan sesiku dan celana legging yang dikenakan Calya membuat ia terkesan sebaya dengan gadis remaja. Hal itu membuat Haira sedikit tercengang, meski hatinya tetap tak akan mengiyakan bila Calya lebih menarik darinya.


Merasa dirinya sedang diperhatikan sedemikian rupa, Calya kembali berucap, "Mbak ...."


"Heh ... oh!" Haira terkejut sejenak, lalu kembali mengatur pola katanya, "Saya ... saya adalah Haira."


"Apa?!" Kali ini Calya yang terkejut.


Seakan menahan napas mendengar pengakuan Haira, Calya mencoba kembali mengatur alur napasnya. Bagaimanapun dia telah mengetahui bila Haira berada di kota ini. Meskipun dia tak pernah menyangka bila Haira akan berani datang ke tempat tinggalnya.


"Mau apa kamu ke sini?" tanya Calya perlahan.

__ADS_1


"Saya mau bertemu suami saya," jawab Haira.


Tatapan kedua wanita itu saling mencengkeram satu sama lain. Ada arus perlawanan dan persaingan di antara mereka. Tentu saja, status mereka berdua sebagai istri dari seorang lelaki yang menyebabkan hal itu.


"Suamimu? Siapa?" tanya Calya, membuat Haira terlihat geram.


"Tentu saja Dirga Mahendra," jawab Haira dengan gaya menantang.


"Dirga Mahendra adalah suami sah dari saya, Calya Janalin. Pernikahan kami sah secara agama dan hukum." Calya tak mau kalah.


Haira terkejut dengan ucapan Calya. Dia tak menyangka bila wanita yang dianggapnya begitu mudah ditaklukkan selama ini bisa menantangnya dengan perkataan yang menghujam.


"Kamu begitu bangga dengan status itu saat ini? Namun ... saya tahu bila kamu tak bahagia dengan status Dirga yang bukan lagi suamimu saja. Iya kan?" Haira membalas.


"Dirga menikahimu hanya karena alasan kemanusiaan. Harusnya pernikahan itu tak bernilai baginya, karena bagaimanapun dia tetap kembali padaku ... istri yang dicintainya," sambut Calya.


Haira kembali merasa tertampar dengan perkataan Calya.


"Dengarkan ini ... kamu tidak akan bertahan lama dengan pernikahan yang kamu banggakan itu. Saya lah yang akan bertahta di hati Dirga, dan juga orang tuanya. Kamu pasti sudah tahu kan, alasan ibu Dirga membawanya ke Surabaya? Saya sedang mengandung anak kami. Buah cinta kami yang selama ini tidak bisa kau berikan!"


Kali ini Calya yang merasa terserang. Kembali lagi, kata anak seperti sembilu yang mengiris hatinya.


Calya masih terdiam saat Haira memajukan sedikit wajahnya pada Calya.


"Kamu mau tahu bagaimana Dirga menyentuhku di malam bulan madu kami?" bisik Haira.


Calya tak menjawab, hanya menatap tajam pada Haira. Napasnya bergemuruh, seakan menahan gejolak amarah.


Bahkan hingga Haira melanjutkan ucapannya, "Dirga menyetubuhiku dengan begitu bergairah dan bernafsu, seolah-olah dia belum pernah merasakan kepuasan **** sebelumnya."


Plak!


Calya menampar pipi Haira. Napasnya semakin memburu seiring bola matanya yang membulat. Sementara Haira, kini memegangi pipinya sembari tersenyum sinis pada Calya.

__ADS_1


***


__ADS_2