
Dirga sudah berangkat ke kantor, kesempatan untuk Calya pergi ke pasar membeli beberapa kebutuhan rumah. Ember, panci, keranjang dan berbagai peralatan dapur kini berada di kedua tangan Calya.
"Aduh tukang ojek mana sih, kok gak ada yang lewat. Sudah ah naik angkot saja. Nyeberang sedikit ke depan gak papa."
Criiiitttttt ....
"Awggghhhhh ...!!!"
Cengklang... Cengkleng... Klenteng... Tek dung...
Baru juga dua langkah Calya akan menyeberangi jalan, tiba-tiba ada sebuah motor yang mengerem mendadak. Calya berteriak diikuti dengan suara barang-barang yang dibawanya jatuh berantakan di aspal.
"Hei..kamu! Naik motor itu pelan-pelan dong. Gak liat apa ada orang mau nyeberang?" Dengan wajah yang masih panik Calya memarahi pengemudi motor itu.
Pengemudi motor itu memarkir motornya, lalu turun dan menghampiri Calya. Dibukanya helm yang menutupi kepala dan wajahnya itu. Raut wajah seorang pria nampak di hadapan Calya. Tatapan matanya tajam senada dengan alisnya yang tebal dan hidungnya yang mancung.
"Lho kok malah Mbak yang marah-marah. Harusnya kan Mbak yang hati-hati kalau mau menyeberang jalan. Tadi Mbak tidak tengok-tengok dulu, langsung nyeberang saja." Pria itu membela dirinya.
"Ehh..jangan mentang-mentang situ naik motor terus saya jalan kaki ya terus jadi saya yang salah gitu. Kalo tadi sampai terjadi apa-apa sama saya apa situ mau tanggung jawab?"
"Ya tinggal dipanggilkan ambulans, gitu aja kok repot."
"Ihhh ... dasar, kamu ya."
Piiipppp... Piiipppp... Piiippp...
Suara klakson mobil dan motor seketika menyadarkan Calya dan Praba. Motor dan mobil itu berhenti karena jalan raya terhalangi barang-barang belanjaan Calya yang berserakan di aspal. Secara spontan Calya dan Praba bersama-sama memunguti barang-barang itu, kemudian menepi di pinggir jalan.
"Nih, barang-barang kamu! Lain kali kalau mau menyeberang hati-hati lihat-lihat dulu." Praba menyerahkan bungkusan besar plastik berisi barang-barang yang sudah dipungutnya tadi kepada Calya.
"Ish...masih saja nyalahin aku. Kalau suamiku ada di sini, pasti sudah habis deh kamu."
"Ya udah pulang sana laporin ke suamimu, kalo perlu lapor ke pak RT, pak lurah, pak camat atau kemana saja."
"Baik!!! Ingat baik-baik wajahku ya, suatu hari nanti kita pasti akan bertemu lagi, dan saat itu suamiku pasti berada di sampingku, dan kamu pasti akan dimarahi habis-habisan sama suamiku!" Calya berkata sambil mengangkat barang-barang bawaannya, menahan angkot dan berlalu meninggalkan Praba yang masih terpaku memandang kepergiannya.
***
__ADS_1
"Cal... Sudah siap belum? Ayo dong sebentar lagi acara pelantikan Pak Kasie Pidsus yang baru dimulai nih." Dirga yang duduk di ruang tamu memanggil Calya yang tak kunjung keluar dari kamar.
"Sedikit lagi Ga, tinggal cepolin rambut nih." Calya menjawab sembari sibuk menggulung rambut sebahunya dengan pita penggulung rambut. "Nah sudah selesai, ayo kita berangkat Ga." Calya keluar kamar dengan seragam dharma wanita sambil menenteng sebuah tas berwarna hitam.
Setiba di kantor Dirga dan Calya segera menuju ruangan aula tempat berlangsungnya pelantikan itu. Dirga lalu bergabung di barisan para pegawai, sedangkan Calya bergabung di barisan para isteri. Acara itu nampak sudah akan mulai, MC telah membacakan bahwa kepala kantor dan pejabat yang akan dilantik memasuki ruangan.
Nampak dua sosok pria berjalan beriringan. Satu orang mengambil tempat di depan menghadap ke arah peserta upacara, dialah bapak kepala kantor. Seorang lainnya berdiri di hadapan bapak kepala, membelakangi peserta upacara. Calya tak begitu memperhatikan ketika pria yang akan dilantik menjadi atasan langsung suaminya masuk, dan kini ia hanya dapat memandang punggung pria itu saja.
"Demikianlah acara pelantikan Bapak Praba Satya Nugraha sebagai Kepala Seksi Pidana Khusus. Selanjutnya adalah pemberian selamat. Kepada Bapak Praba Satya Nugraha dipersilahkan mengambil tempat di depan menghadap ke arah peserta upacara." Terdengar suara MC membacakan acara selanjutnya. Ketika Praba membalikkan badannya, Calya yang menatap tepat ke arah Praba seketika itu langsung tersentak.
"Astaga! Dia? Aduh ... mati lah aku!" Calya memukul-mukul kepalanya sendiri.
"Bu Dirga ada apa?" Bu Dito menegur Calya yang terlihat aneh.
"Oh tidak apa-apa Bu Dito, ini kepala saya gatal, hehe."
"Oh... hayuk Bu Dirga kita merapat ke suami kita masing-masing terus maju salaman ke Pak Kasie yang baru." Bu Dito menarik lenganku berjalan ke arah suami mereka berada.
Calya menghampiri Dirga dan segera memegang erat lengan Dirga. Mereka berjalan menghampiri Praba. Saat Dirga tepat berada di hadapan Praba, Calya menyembunyikan wajahnya di belakang tubuh suaminya.
"Thank you Dir, semoga kamu juga segera menyusul jadi Kasie. Kita kan seangkatan, lama tak jumpa ternyata bertemu di sini, sekantor, seruangan pula."
"Iya Prab, namanya juga takdir, hehe. Oh iya ini istriku." Dirga memperkenalkan isterinya kepada Praba, Calya pun perlahan memunculkan wajahnya dari balik punggung Dirga.
"Kamu? Eh...oh...Ibu Dirga ya?" Praba nampak kaget melihat wajah Calya.
"Ya, ampun dia masih mengenaliku." Calya berkata di dalam hatinya.
"Iya Pak, saya Ibu Dirga. Selamat ya Pak." Calya mengulurkan tangan pada Praba, yang disambut jabatan tangan Praba.
"Senang berjumpa dengan Ibu, apalagi didampingi suaminya." Praba berkata lagi sambil tersenyum dan mengangkat satu alisnya.
"Astaga...dia masih ingat kata-kataku tempo hari. Hffhh...tenang Calya tarik napas dan santai lah." Calya berkata di dalam hatinya berusaha menenangkan dirinya sendiri.
"Oh iya sudah yuk kita lanjut Ga, yang ngantri di belakang masih banyak nih." Calya mendorong tubuh suaminya agar berjalan menyudahi percakapan itu.
Acara terakhir dari pelantikan tersebut adalah makan siang bersama. Calya tentu saja tak bisa menikmati makanannya. Lirikan Praba dengan senyum penuh kemenangan terus mengintainya.
__ADS_1
***
Jam dinding menunjukkan pukul 21.00 WIT. Calya tampak gelisah menatap layar ponselnya. Beberapa kali dipencetnya nomor Dirga namun hanya suara operator yang didengarnya bahwa nomor tersebut sedang tidak aktif.
Bagaimana Calya tak gelisah, seharusnya saat ini Dirga sudah tiba di Jakarta dan semestinya sudah memberinya kabar. Hatinya yang resah membuat udara malam ini terasa panas baginya. Calya pun melangkahkan kakinya keluar ke teras rumah. Ditatapnya langit berharap bintang-bintang dapat menghiburnya malam ini.
Criiitttt.... Pip ... pip... pip....
Suara rem sepeda motor disertai bunyi klaksonnya tiba-tiba mengagetkan Calya dari lamunannya. Calya pun menengok ke arah sepeda motor itu. Sesosok pria turun dan kemudian membuka helmnya.
"Hai Ibu Dirga, kok malam-malam begini melamun di teras sendiri sih?" Pria itu menyapa Calya.
"Kamu?! Eh... maaf Bapak?" Calya nampak salah tingkah setelah menyadari yang datang adalah pria yang pernah beradu mulut dengannya di jalanan, yang ternyata adalah atasan bidang suaminya di kantor. "Saya tidak melamun kok, hanya di dalam agak panas jadi cari angin di luar."
"Tapi kok nyari anginnya sendiri aja? Dirga gak nemenin?"
"Dirga kan sedang dinas ke Jakarta, Pak."
"Dinas ke Jakarta? Dalam rangka apa ya? Kok saya gak tahu sih?"
"Lho masa sih Bapak gak tahu? Tapi katanya sih memang mendadak, tadi pagi dapat telepon terus sorenya berangkat."
"Oh begitu ya." Praba nampak mengernyitkan keningnya, seperti ada sesuatu yang mengganjal di benaknya, tetapi ia tak ingin melanjutkan obrolan tentang kepergian Dirga ke Jakarta.
"Bapak sendiri ngapain malam-malam ke sini?"
"Ibu Dirga ini masih sinis saja ke saya. Saya mau ngecek rumah sebelah, mulai besok saya pindah ke rumah itu biar lebih dekat ke kantor. Rumah dinas saya yang sekarang agak jauh, lagipula saya kan sendiri, jadi kalau tinggal di sini bisa ada teman ngobrol."
"Sinis? Perasaan Bapak saja kali. Saya biasa saja kok, lagian saya juga sudah lupa dengan kejadian waktu itu."
"Sudah lupa tapi kok disebut? Ya sudah Bu Dirga, saya mau masuk ke rumah itu dulu, mau ngecek kondisinya dulu." Praba berkata sambil berlalu menuju rumah dinas yang berada persis di sebelah rumah yang ditempati Dirga dan Calya.
"Hati-hati lho Pak, rumah itu sudah lama kosong. Biasanya rumah kosong itu banyak penampakannya." Calya berbicara sembari melirik ke arah Praba yang sedang berjalan. Mendengar ucapan Calya, seketika Praba memalingkan wajahnya pada Calya. Terkejut mendapat tatapan dari Praba, Calya segera membalikkan badannya dan masuk ke dalam rumah serta menutup pintunya. Praba kemudian tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Calya yang sudah berada di dalam rumah sejenak mengintip dari tirai jendela, dilihatnya Praba sudah masuk ke dalam rumah itu, lampu-lampu di dalamnya pun sudah tampak menyala. Calya kembali menatap layar ponselnya, dipencetnya kembali nomor telepon Dirga, tetapi tetap saja hanya suara operator yang didengarnya.
***
__ADS_1