
"Sewanya murah kok, Mbak. Kebetulan pemiliknya mau menyewakan murah dari pada kosong. Gaji Myesha cukup kok," gumam Myesha.
Gadis itu menyadari kecurigaan sang kakak.
"Oh ... baguslah kalau begitu, supaya Bapak dan Ibu bisa lebih nyaman dan mau tinggal lebih lama bersama kita," ucap Calya.
"Iya, tentu saja. Besok pagi-pagi kita semua bisa ke sana dan kalau perlu langsung pindahan," sahut Myesha.
Semua orang pun setuju dengan usulan Myesha. Sampai saat pagi menjelang, mereka bangun lebih pagi untuk menuntaskan rencana yang telah dibuat semalam itu.
"Mari silakan masuk dan lihat-lihat," ucap sang pemilik rumah.
"Hmm ... bagus, Sha," ujar Calya pada sang adik. "Ini sewa per bulannya berapa ya, Bu?" tanya Calya pada ibu pemilik rumah itu.
"Sebulan?" tanya ibu itu bingung.
"Em, Mbak. Ayo coba lihat dapurnya. Sudah Mbak tidak perlu tahu harganya deh, itu adalah urusan Myesha," ujar Myesha sambil menarik lengannya sang kakak.
Calya tampak masih bingung, tetapi senyum bahagia ibu dan bapaknya di sebelah sana telah melumasi wajahnya untuk tak mengungkap tanya lagi pada sang adik.
"Bapak dan Ibu suka?" tanya Calya.
"He em ... rumah ini tampak lebih nyaman untuk ditempati. Jaraknya juga dekat dengan tempat kerjamu. Jadi kamu tidak akan terlalu lelah di perjalanan, Cal," sahut sang ibu.
Calya mengangguk. "Iya, Bu."
"Ehm ... karena semua sudah senang dan setuju dengan rumah ini, berarti pagi ini juga kita sudah bisa pindah. Nah Mbak Calya langsung ke tempat kerja saja, nanti urusan pindahan biar kami yang urus. Ntar lagi juga bala bantuan akan datang," ujar Myesha.
"Bala bantuan? Siapa?" tanya sang ayah.
"Ah, palingan juga pacarnya yang sering disuruh-suruh sama Myesha, Pak," sahut Calya.
"Pacar? Myesha punya pacar?" tanya Pak Darmawan lagi.
"Ah, tidak kok, Pak. Bagas itu teman kuliah Myesha," ujar Myesha membela diri.
"Oh namanya Bagas to?" cecar sang ibu.
"Iya, Bu. Bagas itu pacarnya Myesha." Lagi, Calya menggoda sang adik.
Yang tentu saja membuat Myesha malu, dan mengundang decak tawa semua orang. Namun, itu tak berlangsung lama, sebab Calya harus segera ke cafe. Ia hanya berjalan kaki untuk menuju tempat kerjanya itu.
Sementara Myesha dan kedua orang tua mereka kembali ke kamar kos untuk berpamitan pada pemilik kos dan mengambil barang-barang yang akan dipindahkan. Bagas juga sudah datang dan turut membantu.
"Saat ini, Mas Praba tinggal di rumah Bagas, Pak," ujar Myesha di sela-sela aktivitas mereka menata barang di rumah kontrakan yang baru.
"Oh ya? Masih keluarga?" tanya Pak Darmawan pada Bagas.
"Orang tua kami kawan lama, Pak," sahut Bagas.
__ADS_1
"Oh baguslah," ucap Bu Darmawan.
"Lho bagus kenapa, Bu?" sergah Myesha.
"Ya kan kalau Nak Bagas dan Nak Praba bersaudara, antara Myesha dan Calya harus ada yang mengalah," jawab sang ibu.
"Maksudnya gimana sih, Bu?" cecar Myesha.
"Ya kan Myesha sama Nak Bagas, lalu Calya sama Nak Praba," ujar Bu Darmawan.
Myesha menepuk jidatnya. "Ya ampun, Bu, Bu!"
"Lho kenapa? Memang begitu kan?" Bu Darmawan masih tak mau kalah.
"Mbak Calya dan Mas Praba itu hanya berteman," gumam Myesha.
"Ya, itu kan sekarang. Tapi, Ibu yakin kalau suatu hari nanti hubungan mereka bisa lebih dari itu. Ibu bisa merasakan dari sikap dan perlakuan Nak Praba ke Calya," ujar Bu Darmawan.
"Aduh ... aduh sudah sudah, jangan pada bahas yang lain. Ayo lebih baik sekarang kita selesaikan pekerjaan ini dulu," ucap Pak Darmawan, melerai anak dan istrinya untuk tak mengobrol lagi.
***
Dua jam berlalu. Proses pengaturan barang pun selesai. Namun, beberapa barang masih dibutuhkan, terutama untuk mengisi kamar tidur yang akan dipakai oleh kedua orang tua Calya dan Myesha.
"Bu, Pak. Myesha sama Bagas ke luar dulu ya," ujar Myesha.
"Mau ke mana?" tanya Bu Darmawan.
"Kamu masih ada uang to? Ini pakai uang Ibu saja." Bu Darmawan mengambil dompetnya.
"Tidak usah, Bu. Myesha masih ada simpanan kok. Myesha pergi dulu ya."
Gadis itu bergegas mengapit lengan Bagas dan berjalan ke luar.
"Mau ke mana sih, Sha?" tanya Bagas sambil memakai helmnya.
"Ke toko furniture, Gas. Beli kasur sama lemari untuk Bapak sama Ibu," sahut Myesha.
"Hah? Itu kan mesti pake duit banyak, Sha," ujar Bagas.
"Sudah ah, tidak usah banyak tanya. Ayo jalan," ujar Myesha sambil menepuk bahu Bagas agar segera melajukan sepeda motornya.
***
Di toko furniture, Myesha sudah selesai memilih lemari dan kasur yang dikehendakinya. Pemilik toko pun memerintahkan pekerjanya untuk mengantarkan barang-barang itu.
"Yuk, kita pulang," ajak Myesha pada Bagas.
"Lho, kan belum dibayar, Sha," gumam Bagas dengan raut muka heran.
__ADS_1
"Sudah ah, itu nanti urusan saya. Ayo kita balik saja," ujar Myesha sambil menarik lengan Bagas lagi.
"Tapi... kamu tidak berhutang di toko itu kan, Sha?" cecar Bagas.
"Aduh! Kamu ini, kalau masih tanya-tanya lagi, saya pulang sendiri saja," ujar Myesha sambil melenggang meninggalkan Bagas.
"Eh, Sha, tunggu!" Bagas berlari mengejar Myesha.
Setelah membujuk beberapa saat, Myesha pun mau untuk ikut pulang bersama Bagas lagi. Meski demikian, Bagas masih menyimpan tanya di benaknya perihal apa yang telah dilakukan oleh Myesha
***
Selang beberapa menit saat Myesha dan Bagas tiba di rumah, barang pesanannya pun datang. Kasur dan lemari itu pun sudah berpindah tempat ke kamar tidur orang tuanya.
"Sekarang, Bapak dan Ibu bisa tinggal lebih lama di sini. Ah ... Myesha bahagia sekali deh," ujar Myesha sambil merangkul ayahnya. Sementara sang ibu sedang sibuk membersihkan lemari baru itu.
"Ya sudah, apa kamu tidak ke kampus hari ini?" tanya sang ayah.
"Hari ini libur, Pak. Nanti siang baru Myesha kerja," sahut putrinya itu.
"Kalau begitu, kamu temani Ibu ke pasar saja. Kita belanja untuk makan siang. Nak Bagas bisa temani Bapak di rumah dulu kan?" gumam Bu Darmawan.
"Iya, bisa kok, Bu," sahut Bagas.
Beberapa saat kemudian, Bu Darmawan dan Myesha pun beranjak pergi ke pasar. Sementara itu, Pak Darmawan dan Bagas duduk sambil bermain catur di ruang tamu.
"Sudah berapa lama Nak Bagas dekat dengan Myesha?" tanya Pak Darmawan.
"Sejak masuk kuliah, Pak. Kami sudah berteman baik," sahut Bagas.
"Lalu lebih dekatnya?"
Pertanyaan Pak Darmawan kali ini membuat Bagas berpikir sejenak.
"Em ... belum lama, Pak. Soalnya selama ini, Myesha selalu menolak saya," ujar pemuda itu kemudian.
"Lho memangnya alasan Myesha menolak apa?" cecar Pak Darmawan lagi.
"Em ... katanya saya ini terlalu lugu dan polos jadi laki-laki, Pak," sahut Bagas.
Mendengar hal itu, Pak Darmawan tertawa.
"Myesha ... Myesha ...," ujarnya.
"Tapi saya tidak menyerah, Pak. Sampai akhirnya Myesha mau menerima saya sebagai pacarnya," lanjut Bagas.
"Em .. tapi Bapak senang kok Myesha dekat sama Nak Bagas. Bapak jadi merasa lebih tenang sekarang karena ada yang menemani dan senantiasa bersama dengan anak-anak Bapak. Di sisi Myesha ada Nak Bagas, demikian juga di sisi Calya ada Nak Praba."
Pandangan Pak Darmawan menerawang ke biji-biji catur di depannya. Sementara Bagas, tengah meresapi makna perkataan ayah kekasihnya itu. Pernyataan tentang Calya dan Praba tentu saja mengusik benak pemuda itu, sebab ia sendiri belum mengetahui secara pasti seperti apa hubungan keduanya kini.
__ADS_1
***