
"Apa maksud Ibu bahwa Haira telah kehilangan bayi dan rahimnya?" tanya Calya pada Bu Edy. Memastikan hal yang baru saja didengarnya itu.
"Iya, Nak ... itu lah yang telah terjadi. Haira sekarang tak akan bisa mengandung lagi. Akan tetapi, kami telah menerima takdir itu. Kami tak ingin melakukan kesalahan yang sama lagi. Bagaimana juga, Haira sekarang adalah menantu kami, istri Dirga," ujar Bu Edy masih dengan isak tangisnya.
"Benar ... kami kira Allah benar-benar marah pada kami, ternyata Dia masih memberi kami kesempatan untuk merasakan kebahagiaan. Mengabulkan apa yang kami inginkan melalui Calya. Meskipun sekarang situasinya sudah berbeda. Itu lah sebabnya mengapa kami ingin meminta maaf atas kesalahan kami terdahulu," sambung Pak Edy.
Calya terkesiap. Ia hening sejenak memikirkan kemalangan yang menimpa Haira itu. Bagaimana pun, ia tak pernah berharap musibah seperti itu bisa terjadi pada mantan madunya itu. Calya kini mengetahui alasan mengapa Dirga begitu ingin kembali padanya. Juga mengapa kedua mantan mertuanya itu sampai berubah sikap dan meminta maaf padanya.
Begitu cepat semuanya berubah dan berganti. Kebahagiaan berubah menjadi nestapa, nestapa menjadi bahagia.
Calya kembali menatap nanar pada Bu Edy dan Pak Edy.
"Bu ... Pak ... bila apa yang sudah terjadi mampu menjadikan pengalaman berharga untuk kita semua, maka tidak ada yang perlu disesali. Calya pun tidak menyimpan sakit hati. Calya juga tidak pernah mendoakan keburukan bagi siapa pun. Dan ... untuk anak yang sebentar lagi akan hadir ini, Calya pun tidak akan melarang Ibu, Bapak, dan Dirga untuk mencintainya. Mari kita menyambutnya bersama-sama," ujar Calya.
Bu Edy dan Pak Edy tersenyum mendengar perkataan Calya. Ada kelegaan dalam hati mereka kini. Mereka masih memiliki kesempatan untuk mencintai seorang cucu.
Hingga selang beberapa lama, mereka pun berpamitan untuk kembali ke rumah Dirga. Sementara itu, Calya dan kedua orang tuanya pun kembali masuk ke dalam rumah. Tak berselang lama, Myesha datang sepulang dari mengantarkan orderan.
Di ruang tengah, Calya dan kedua orang tuanya masih membahas perkara kedatangan Pak Edy dan istrinya tadi. Juga tentang musibah yang menimpa mereka itu. Mengetahui hal itu, Myesha pun kembali teringat pada penyelidikannya bersama Bagas tempo hari, sewaktu dia meminta Bagas untuk berpura-pura menjadi petugas RT yang sedang mendata jumlah warga. Saat itu, Bagas bilang bahwa Haira mengaku hanya tinggal berdua dengan suaminya.
"Mbak ... itu artinya bahwa mereka sedang memanen karma atas perbuatan mereka sendiri. Sesuatu yang dicuri tidak akan abadi. Perempuan itu sudah mencuri suami Mbak Calya dengan segala cara yang dia bisa. Sekarang, dia sedang meratapi kemalangannya. Begitu juga dengan Mas Dirga dan orang tuanya, biarkan saja sekarang mereka merasakan hasil perbuatan mereka. Menyia-nyiakan Mbak Calya, menghina dan menelantarkan begitu saja," gumam Myesha penuh amarah.
"Sha ... semuanya sudah berlalu. Mbak sekarang sudah bahagia, bersama kalian dan juga anak Mbak ini," ujar Calya.
"Bersama saya juga, kan?" gumam Praba yang tiba-tiba muncul dari ruang depan.
Semua orang sontak menoleh pada kehadiran pria itu. Namun, beberapa detik kemudian, dua sosok lainnya juga muncul.
"Bersama kami juga tentunya."
"Bapak ... Ibu?" seru Calya sambil berdiri dan menghampiri kedua orang yang baru datang itu. Pak Nugraha dan Bu Nugraha, orang tua Praba.
"Ternyata datangnya hari ini ya?" tanya Calya kepada mereka.
"Iya, setelah tahu kalau orang tuamu sudah datang, ya kami juga ingin buru-buru ke sini," ujar Bu Nugraha.
Di ruang tengah itu, dua keluarga besar sudah berkumpul. Mereka pun saling berkenalan dan melanjutkan obrolan. Pak Darmawan dan Bu Darmawan merasa sangat senang atas perlakuan Praba dan kedua orang tuanya pada anak-anak mereka. Mereka pun menyadari bahwa kebahagiaan yang menyelimuti Calya kini telah menghapus jejak lukanya.
__ADS_1
***
Seminggu berlalu, berbagai kebutuhan persiapan kelahiran putra Calya sudah lengkap. Bahkan selama beberapa hari ini Praba sudah menyiapkan sebuah mobil yang akan digunakan untuk membawa Calya bila sewaktu-waktu akan melahirkan.
Pagi ini, semua orang sedang melakukan kegiatan seperti biasa. Praba ke kantor, Myesha ke kampus, sedangkan Calya bersama Bu Darmawan dan Bu Nugraha masih mengurus pesanan makanan di dapur. Dua orang pekerja juga sudah datang dan membantu di sana. Sementara itu, Pak Darmawan dan Pak Nugraha sedang mengobrol di ruang tamu.
Di rumah depan, Haira dan Bu Edy sedang melakukan pekerjaan rumah. Sementara itu, Dirga sedang berada di kamarnya di lantai atas. Hari ini, dia merasa kurang enak badan sehingga memutuskan untuk beristirahat di rumah, dan tidak masuk kantor. Pak Edy baru saja datang setelah jalan pagi.
Calya yang sedang memetik sayuran tiba-tiba merasakan mulas di sekujur perutnya.
"Bu ... rasanya kok mulas ya," ujar Calya.
"Mulasnya kayak apa, Nak?" tanya Bu Darmawan.
"Muter-muter, Bu,'' ujar Calya.
"Masih bisa ditahan gak, Nak?" Bu Nugraha yang mendengar keluhan Calya pun mendekat.
"Ini tambah sakit, Bu," sahut Calya. "Aduh ... Bu, Calya sudah gak tahan, Bu. Ini tambah sakit," lanjut Calya.
Bu Nugraha pun bergegas memberi tahu suaminya dan juga Pak Darmawan. Sementara itu, Bu Darmawan sudah menuntun Calya untuk berjalan ke luar dibantu dengan Mbok Darmi dan Tinah.
Pak Nugraha sudah bersiap di balik kemudi mobil, sedangkan Pak Darmawan telah meraih dua tas berisi perlangkapan bersalin Calya dari Bu Nugraha itu dan memasukkannya ke dalam mobil.
Calya terus merintih kesakitan. Langkahnya pun mulai tertatih.
Dari balkon lantai dua rumahnya, Dirga bisa melihat kejadian itu.
"Calya?" desisnya.
Dalam hitungan detik pria itu sudah berbalik, menuruni tangga dan bergegas ke luar dari rumahnya. Dengan cepat Dirga menghampiri Calya yang masih tertatih dan kesakitan, lalu digendongnya tubuh mantan istrinya itu masuk ke dalam mobil. Bu Darmawan dan Bu Nugraha pun ikut masuk dan duduk di sisi Calya, sedangkan Pak Darmawan mengambil tempat di kursi depan. Dirga sendiri segera mengambil sepeda motornya dan mengikuti laju mobil itu menuju ke rumah sakit.
Sesampai di depan ruang UGD, Dirga kembali menuju mobil yang membawa Calya. Setelah semua orang turun, lelaki itu kembali menggendong tubuh Calya dan membawanya ke dalam ruang UGD.
"Sus, tolong istri saya mau melahirkan," ujar Dirga pada beberapa perawai di sana.
Di sana, tubuh Calya didudukkan di kursi roda, lalu para perawat pun mendorongnya menuju ke ruang bersalin.
__ADS_1
Dirga, kedua orang tua Calya, dan kedua orang tua Praba pun mengikuti langkah para perawat itu hingga sampai di depan ruang bersalin.
"Pak ... tolong diurus dulu administrasi pendaftaran Ibu ini ya. Sekarang biar dokter memeriksa dulu Ibunya," ucap perawat itu pada Dirga sebelum masuk ke dalam ruangan itu dan menutup pintunya.
"Biar kami yang mengurus pendaftarannya," ujar Bu Nugraha.
Bu Darmawan pun menyerahkan kartu pengenal milik Calya pada Bu Nugraha. Sesaat kemudian, dengan ditemani sang suami, mereka pun pergi ke loket pendaftaran pasien.
Di depan ruang bersalin, tinggal lah Dirga bersama kedua mantan mertuanya itu. Sepasang suami istri itu masih saja tak suka melihat Dirga, sehingga mengambil jarak dengan lelaki itu.
Mereka masih mengingat dengan jelas bagaimana terakhir kali bertemu dengan Dirga saat mereka akan mengunjungi Calya di kota itu. Bagaimana sakitnya hati mereka saat melihat wanita yang berada di sisi Dirga adalah bukan putri mereka. Bagaimana kesombongan sang istri yang telah mengusir mereka dari sana.
"Bu ... Pak ... maafkan Dirga ...," gumam Dirga setelah keheningan yang terjadi beberapa saat.
Akan tetapi, Bu Darmawan hanya memalingkan muka, tak ingin menyahuti Dirga.
"Saya tidak pernah menyangka, bila sumpah yang telah saya ucapkan bisa terjadi secepat ini," ujar Pak Darmawan.
Mendengar hal itu, Dirga hanya menunduk.
***
Di loket pendaftaran, Pak Nugraha segera menelepon Praba untuk mengabari berita ini. Mengetahui hal itu, Praba pun bergegas menuju ke rumah sakit. Apalagi ... saat ayahnya mengatakan bahwa Dirga ada di rumah sakit dan turut mengantarkan Calya.
Beberapa menit kemudian, Praba pun sudah tiba dirumah sakit dan bergegas menuju ke ruang bersalin. Di sana, kedua orang tuanya sudah kembali berkumpul bersama kedua orang tua Calya. Sementara itu, di sisi lain ia melihat Dirga sedang berdiri.
"Bagaimana, Bu, Pak?" tanya Praba.
"Barusan dokter sudah memeriksa, katanya baru pembukaan empat. Nanti kalau sudah masuk pembukaan enam baru dipanggil satu orang keluarga untuk masuk menemani," ujar Bu Nugraha.
Sampai beberapa menit kemudian, seorang perawat pun keluar dari ruangan itu.
"Sudah pembukaan enam, sekarang satu orang boleh masuk. Bisa suaminya atau ibunya," ujar perawat itu.
Dirga melangkahkan kaki mendekat pada perawat itu, tetapi Praba segera menatapnya tajam, membuat Dirga menghentikan langkahnya.
"Saya ibunya ... saya yang akan menemaninya," ujar Bu Darmawan
__ADS_1
***