
Di depan Rainela Cafe, Raindra menghentikan laju mobilnya. Ia turun, dan berjalan memasuki kafe itu.
"Anela ada, Rin?" tanya Raindra pada kasir.
"Ada di ruangannya, Pak," sahut kasir wanita itu.
Raindra pun melanjutkan langkahnya, menuju ke ruang kerja Anela.
Sesampai di sana, ia mendapati wanita itu sedang serius menatap layar laptopnya. Menyadari kehadiran Raindra, Anela pun mengangkat wajahnya. Sudah beberapa bulan ini mereka tak berjumpa, sejak peristiwa Anela memergoki Raindra mengobrol dengan Calya.
"Rain ...," desis Anela.
Gadis cantik berambut ombak sebahu itu berdiri, kemudian berjalan menghampiri Raindra.
"Kamu ... kembali?" lanjut Anela.
"Nel ... ada yang harus kita bicarakan," ujar Raindra dengan mimik muka serius.
"Oh ... apa? Em ... tapi, sebelumnya aku ingin minta maaf atas kejadian waktu itu. Aku minta maaf karena sudah mengatakan yang tidak-tidak padamu. Rain ... kamu mau memaafkan aku kan?" ucap Anela.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Nel. Justru, aku yang ingin minta maaf padamu. AKu ingin minta maaf atas semua yang pernah terjadi antara kita," sahut Raindra.
"Rain ... kalau begitu, kita sama-sama saling memaafkan, dan memulai semuanya dari awal lagi kan? Kita lupakan masa lalu, dan apa pun yang pernah terjadi? Kita buka lembaran baru hidup kita berdua?"
Raindra menggeleng. "Tidak, Anela. Bukan seperti itu. Aku sama sekali tidak berniat untuk memulai hal baru apa pun denganmu. Justru sebaliknya, aku akan mengembalikan semua yang pernah kamu berikan," ujar Raindra lagi.
"A apa maksudmu, Rain?" tanya Anela dengan raut muka bingung.
"Aku akan memberikan Rain and Snow Cafe padamu. Karena semua yang kuperoleh adalah karena bantuanmu, maka aku akan mengembalikan semua padamu. Aku ingin membebaskan diri darimu, terlebih membebaskan hatiku ...."
Perkataan Raindra bagai sembilu yang menyayat hati Anela. Lelaki yang dicintainya itu berniat untuk pergi darinya.
Tidak, Rain ... jangan lakukan itu. Kamu tidak boleh melakukan itu padaku!" Anela maju untuk mendekat pada Raindra. Namun, lelaki itu melangkah mundur.
"Aku sudah menandatangani semua surat penyerahan kafe itu padamu melalui notaris. Kafe itu resmi milikmu sekarang."
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, Raindra berbalik dan melangkah keluar ruangan itu. Anela menjerit memanggil nama Raindra, kemudian bergegas menyusul lelaki itu. Menyadari bila Anela mengikutinya, Raindra mempercepat langkahnya dan bergegas keluar dari kafe itu, kemudian memasuki mobilnya.
"Raindra, berhenti!"
Masih terdengar teriakan Anela saat Raindra sudah menyalakan mesin mobilnya dan melajukannya pergi dari pelataran parkir kafe itu.
Sambil menatap kepergian Raindra, air mata Anela terus merembes. Ia tak mampu menahan perih karena kehilangan Raindra, bukan hanya hatinya, tetapi fisiknya. Anela merasa benar-benar kalah sekarang. Meski berbagai cara telah dilakukannya untuk bisa memiliki lelaki itu, tapitakdir tak berpihak padanya.
***
Mobil milik Raindra terus melaju hingga sampai ke Rain and Snow Cafe. Ia memarkirkan mobilnya di sana, lalu keluar sambil membawa sebuah tas. Bergegas, Raindra memasuki kafe itu, lalu menitipkan kunci mobilnya pada pegawainya, dan menyuruhnya untuk menyerahkan mobil itu pada Anela bila wanita itu datang. Di situ juga, Raindra berpamitan pada semua pegawainya. Saat mereka menanyakan alasan Raindra menyerahkan kafe itu pada Anela, dan ke mana ia akan pergi, Raindra tak menjawab mereka dengan pasti. Raindra hanya mengatakan bahwa kafe itu sepenuhnya adalah milik Anela kini.
Setelah itu, Raindra melanjutkan perjalanannya dengan menggunakan taksi. Kali ini, bandara adalah tujuannya. Raindra memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya. Ke kota di mana ia dan Calya pernah bersama, merajut kasih yang indah.
***
Satu minggu berlalu. Dalam waktu itu, Calya masih menahan dirinya untuk tidak keluar dari rumah. Sabtu sore ini, ia naik ke lantai atas untuk memunguti pakaian kering yang dijemur di teras balkon. Sementara itu, Praba sedang berada di dalam kamarnya.
Saat Calya sedang memunguti pakaian, tiba-tiba angin berembus cukup kencang sehingga menerbangkan sehelai sarung bantal yang akan ditariknya. Sementara itu, di seberang sana, seorang pria yang juga sedang berada di teras balkon rumahnya, sekejap menoleh pada benda yang tengah melayang dan akan jatuh ke tanah itu.
Dalam hitungan beberapa detik, kain yang tadinya bergerak dan menutupi pandangan Calya dan pria itu kini bergerak turun. Menghilangkan pembatas kedua pasang mata itu untuk saling melihat satu sama lain. Bagai melihat sosok yang tak disangka, Dirga membeliakkan matanya. Begitu juga dengan Calya, yang setengah tak percaya bila keberadaannya kini telah terlihat oleh sang mantan suami.
Sementara itu, menyadari bahwa Dirga terus saja melihat ke arahnya, Calya membalikkan tubuhnya dengan cepat dan masuk ke dalam rumah. Di sana, ia bertemu dengan Praba yang baru keluar dari kamarnya.
"Cal ... kenapa? Kok mukanya kayak tegang begitu?" tanya Praba.
"Prab ...,"ujar Calya setengah kaget dengan sapaan Praba.
"Kamu kayak habis lihat hantu saja," ucap Praba.
Calya memang masih terlihat panik. Sesaat kemudian ia mencoba untuk mengatur kembali laju napasnya.
"Dirga ... Dirga melihat saya di balkon tadi," ujar Calya kemudian.
"Apa?"
__ADS_1
Calya mengangguk. "Iya, Dirga sudah melihat saya. Dia tahu bila saya berada di sini."
Praba mendekat pada Calya, kemudian menyentuh kedua pundak wanita itu.
"Tenanglah, Cal. Bukankah kita berdua sudah berjanji untuk menghadapi ini bersama? Semua akan baik-baik saja," ujar Praba.
Calya mengangguk pelan, kemudian mengarahkan pandangan ke arah perutnya. Sesaat kemudian, tangannya mengusap lembut perut yang membuncit itu. Di dalam hati, Calya bertanya-tanya tentang reaksi Dirga atas kehamilannya itu. Apakah sang mantan suami akan meyakini bila anak yang dikandung oleh Calya itu adalah darah dagingnya?
***
Setelah melihat sosok sang mantan istri di rumah Praba, Dirga bergegas menuruni anak tangga, kemudian berlari keluar rumah. Haira yang melihat tingkah laku sang suami pun memekik memanggil namanya. Namun, DIrga seakan tak peduli pada panggilan Haira, lelaki itu terus saja berlari.
Hingga saat Dirga telah keluar dari rumahnya, ia menyeberangi jalan dan menuju rumah Praba. Haira yang melihat hal itu pun mengikuti langkah suaminya.
Di depan pintu rumah Praba, Dirga mengetuknya berkali-kali.
Dari dalam rumah, Myesha yang mendengar suara ketukan pintu itu pun beranjak keluar. Ia membuka pintu.
Tepat di saat pintu terbuka, Myesha dan Dirga saling bertatapan. Tentu saja dengan ekspresi keterkejutan masing-masing.
"Myesha?" ujar Dirga.
"Mas Dirga?" ucap Myesha lebih terkejut.
Sementara itu, Haira yang sudah berada di belakang Dirga merasa heran dengan ekspresi keterkejutan Dirga dan gadis yang ada di depannya itu. Haira merasa bila mereka berdua telah saling mengenal. Haira sendiri merasa terkejut melihat seorang gadis berada di rumah Praba. Namun, melihat usia gadis itu yang tampak masih sangat muda, Haira meyakini bila gadis itu bukanlah calon istri Praba. Mungkin saja itu adalah adiknya, sebab kedua orang tuanya pun sedang berada di rumah ini. Haira berpikir bila mungkin saja Dirga mengenali adik Praba itu, sebab Dirga dan Praba sudah lama saling mengenal.
"Apa yang kamu lakukan di sini, Sha?" tanya Dirga.
"Mas Dirga sendiri ngapain di sini?" sahut Myesha.
"Aku ... aku pindah tugas di sini, dan tinggal di rumah depan. Kamu ... dan Calya ... kenapa bisa ada di rumah ini?" tanya Dirga lagi.
"Mas Dirga kan memang tahu kalau Myesha kuliah di Jogja," gumam Myesha.
"Iya, aku tahu tentang itu, tapi ... kenapa kalian bisa ada di rumah ini? Ini kan rumah Praba, teman kantor Mas Dirga," ujar Dirga lagi.
__ADS_1
"Ya ampun ... ini kan rumah kontrakan, Mas. Rumah ini punya beberapa kamar, dan semuanya disewakan. Mas Praba juga menyewa satu kamar. Apa ada yang salah?" tanya Myesha.
Saat ini, Myesha menyadari bila Dirga mungkin saja telah mengetahui keberadaan Calya di rumah ini. Myesha merasa perlu untuk menjaga kakaknya dari hal yang mungkin saja akan menyakitinya. Maka dari itu, ia berusaha untuk lebih santai menghadapi Dirga.