Sengketa Hati (CALYA)

Sengketa Hati (CALYA)
Kedatangan


__ADS_3

Malam ini bulan bertahta dengan sempurna. Dari jendela kamarnya, Praba menatap benda langit itu sembari melepas senyum kelegaan. Setidaknya, ia telah mengungkapkan hal yang selama ini mengganjal di benaknya, meski tanggapan yang diterima tak sesuai harapan. Namun, Praba dapat menerima keputusan Calya. Dan kini ia menyerahkan semuanya pada waktu yang akan menjaga jalinan perasaan itu, hingga pada saatnya nanti akan benar-benar tersambung dalam ikatan yang diharapkan.


Di kamar yang lain, Calya melakukan hal yang sama. Mengembuskan napas kelegaan. Satu titik masa depan sedang menunggunya. Pria yang baru saja menyatakan perasaan tulus kepadanya diyakini sebagai seseorang yang telah terbukti rela melakukan apa pun untuk selalu mendampingi dan menjaganya. Lelaki itu mampu menerima segala kekurangan dan keadaan dirinya. Tak ada hal yang perlu diragukan, hidupnya akan bahagia bersama Praba. Namun, Calya menyadari bahwa dia harus mengesampingkan keegoisannya untuk saat ini. Ada banyak hal yang perlu dipertimbangkannya. Bukan sekadar rasa nyaman untuk dirinya sendiri. Anak yang sedang dikandungnya tentu menjadi alasan utama.


Malam ini, kedua insan itu terlelap dalam buaian khayalan masing-masing.


Pagi yang cerah mungkin dirasakan oleh semua orang saat ini. Terutama oleh kedua insan yang pagi ini kembali bertemu di meja makan. Seperti biasa, Calya menghidangkan kopi susu kesukaan Praba. Mereka berperilaku seolah-olah tidak terjadi apa-apa.


Mbok Darmi sudah datang dan langsung menuju dapur untuk membantu Calya membuat pesanan ayam geprek hari ini. Sementara Myesha yang sudah selesai sarapan, sibuk mengecek daftar orderan yang harus diantarkan pagi ini.


Seperti biasa, pesanan yang akan diantarkan pagi hari sudah disiapkan oleh Calya dalam sebuah keranjang. Setelah Myesha berangkat, maka dengan dibantu Mbok Darmi, Calya akan membuat pesanan untuk siang hari yang jumlahnya biasa jauh lebih banyak dari pada pesanan pagi hari.


"Cal ... coba bungkusin saya ayam gepreknya, mau saya promosikan sama teman-teman kantor. Siapa tahu saja sekali-kali mereka mau pesan untuk makan siang," ucap Praba sebelum berangkat.


Terang saja, Calya segera melakukannya. Benar juga, sepertinya Calya harus mengembangkan pangsa pasarnya ke area perkantoran. Harga makanannya yang terjangkau pastilah bisa menjadi pilihan menu alternatif untuk makan siang para pegawai.


Di kantor, Praba benar-benar mempromosikan ayam geprek itu. Hasilnya, beberapa orang pun berniat memesannya untuk makan siang. Hal ini membuat jumlah pesanan di waktu siang semakin bertambah. Namun, Calya tetap bersemangat memenuhi pesanan itu. Hingga seminggu kemudian, pesanan yang masuk bahkan mengalami kenaikan yang pesat.


***


Di rumah orang tua Dirga di Surabaya.


Dirga sedang mengepak pakaian dan barang yang akan dibawanya. Sore nanti ia akan berangkat ke Yogyakarta guna menjalankan tugas negara. Haira akan turut serta bersamanya. Wanita itu sudah bertekad akan ikut ke mana pun Dirga pergi. Ia tak akan melepasnya walau hanya sedetik.


"Kamu yakin mau ikut, Ra?" tanya Dirga pada Haira yang sedang memasukkan pakaiannya ke dalam koper.


"Iya lah, Dir. Aku kan istrimu," sahut Haira.


"Masalahnya, di sana rumah dinas penuh. Aku harus cari kontrakan dulu. Ini saja untuk sementara tinggal di homestay. Sebaiknya kamu menyusul nanti saja kalau aku sudah dapat rumah kontrakan," ujar Dirga.


"Tenang saja, Dir. Tinggal di mana saja, asal sama kamu, aku mau kok," sahut Haira.


Dirga tertegun sejenak. Ia merasakan perubahan perilaku Haira semenjak ia kehilangan bayinya dan dinyatakan tak bisa mengandung lagi. Namun, bagaimana pun, Dirga tetap merasakan bahwa kehadiran Haira kini memang hanya sebatas status seorang istri baginya. Hatinya tetap kosong.

__ADS_1


"Ya sudah, terserah kamu saja. Tapi kalau sudah di sana jangan mengeluh. Jangan juga sebentar-sebentar minta balik ke Surabaya," ujar Dirga sambil mengunci kopernya.


"Iya iya," gumam Haira.


***


Siang ini di kantor Praba. Yogyakarta.


Telepon genggam Praba berdering.


"Halo, Bu," sapa Praba setelah mengangkat teleponnya. Sang ibu yang meneleponnya.


"Bapak dan Ibu akan ke Yogyakarta sore ini untuk mengunjungimu. Jemput kami, ya," sahut sang ibu di seberang telepon.


"Hah? Kok mendadak, Bu? Kok gak ngabarin Praba dari kemarin-kemarin?" keluh Praba.


"Ya, kebetulan Bapak dan Ibu lagi gak ngapa-ngapain, jadi niat untuk jalan-jalan ke sana muncul tiba-tiba. Ya sekalian buat kejutan begitu, hehehe." Ibu Praba terkekeh mendengar reaksi putranya itu.


"Ya sudah, sebentar sore Praba jemput deh," sahut Praba sebelum mengakhiri panggilan itu.


***


[Cal, saya lagi di bandara jemput orang tua saya.]


Tak berselang lama mendapati pesan itu, Calya pun membalasnya.


[Lho, kok kamu baru bilang kalau orang tuamu mau datang.]


[Mereka juga baru ngabarin.]


[Oh ya sudah, kalau begitu saya siapkan kamar untuk mereka ya, sekalian dengan hidangan manakan dan camilan.]


[Iya, mereka pasti senang deh dilayani dengan baik sama calon menantu.] Pesan itu disertai beberapa emosi senyum. Membuat Calya ikut tersenyum saat membacanya.

__ADS_1


Wanita itu pun bergegas menyiapkan segalanya, mulai dari kamar tidur sampai hidangan yang akan disajikan.


Sementara itu, di ruang kedatangan, kedua orang tua Praba, Pak Nugraha dan Bu Nugraha sudah tampak. Praba pun melambaikan tangan untuk menunjukkan keberadaannya pada mereka. Di sisi lain, tampak juga dua orang yang sedang mendorong troli keluar di pintu kedatangan. Sepasang manusia itu kini berjalan di belakang Pak Nugraha dan istrinya, menjadikan Praba melihat jelas ke arah orang-orang yang dikenalinya itu.


"Dirga ... Haira ...," desis Praba.


Tepat di saat mereka sudah benar-benar berada di teras bandara, Dirga pun menangkap sorot mata Praba. Keduanya bergeming beberapa saat. Namun, setelah itu Praba mencoba melempar pandangannya dan menyapa kedua orang tuanya.


"Bu, Pak, ayo langsung ke taksi saja," ujar Praba sambil mengangkat koper mereka.


"Kelihatan lebih segar kamu, Nak. Kayak terurus dengan baik," ujar Bu Nugraha pada putranya itu setelah duduk di dalam taksi.


"Iya, benar kata ibumu," sahut sang ayah.


"Iya, memang benar, di kontrakan ada yang ngurusin Praba," sahut Praba.


"Oh ya? Ibu kontrakannya baik ya?" tanya sang ibu.


"Bukan ibu kontrakan, tapi teman sekontrakan. Dia tinggal bersama adiknya yang sedang kuliah. Di kontrakan buka usaha kuliner. Jualan ayam geprek. Enak lho, Bu," papar Praba.


"Oh ya? Wah Ibu jadi gak sabar, masakannya pasti enak ya. Kamu sampai betah begitu. Kamu catering ya sama dia?" tanya Bu Nugraha lagi.


"Iya, Bu. Pagi sampai malam makannya dimasakin dan disiapin sama dia," ujar Praba.


"Hmm ... masih gadiskah dia?"


"Hehehe ... gadis atau janda kan yang penting baik, Bu," sahut Praba.


"Heh?" Bu Nugraha tampak memastikan pernyataan sang putra.


"Calya seorang janda, Bu. Sama kayak Praba yang duda. Bedanya, dia menjadi janda karena diceraikan suaminya," jawab Praba.


"Lho, kok pintar masak diceraikan sama suaminya?"

__ADS_1


"Ceritanya panjang, Bu. Nanti kapan-kapan baru Praba ceritakan ya. Yang jelas Calya sekarang sedang menyiapkan makanan untuk Ibu dan Bapak," ujar Praba.


"Calya ... namanya Calya ya," desis sang ibu.


__ADS_2