
"Nak Raindra?" desis Pak Darmawan.
"Bapak apa kabar?" gumam laki-laki yang adalah Raindra itu.
"Kamu ... pindah ke sini?"
Raindra tersenyum, lalu mengajak Pak Darmawan untuk mengobrol sambil duduk di bangku yang ada di halaman rumah itu. Akan tetapi, Pak Darmawan menyarankan agar Raindra mengontrol semua pengangkutan barangnya dulu. Pak Darmawan pun turut membantu. Hingga saat semua telah selesai, Pak Darmawan dan Raindra pun duduk berhadapan sambil mengobrol Namun, hal itu mereka lakukan bukan di rumah Raindra, melainkan di rumah Pak Darmawan.
Bu Darmawan yang diberi tahu tentang keberadaan Raindra sebagai tetangga baru mereka pun terkejut. Namun, ia tetap membuatkan minuman untuk menjamu Raindra sebagai tamu di rumahnya.
Setelah menghidangkan dua cangkir teh di atas meja, Bu Darmawan pun bergabung dalam perbincangan itu dengan mengambil tempat duduk di sebelah suaminya.
"Jadi ... Nak Raindra memutuskan untuk meninggalkan bisnis yang ada di Jogja dan kembali ke kota ini?"
"Iya, seperti itu lah, Pak," sahut Raindra.
"Tapi kenapa?" timpal Bu Darmawan.
"Raindra pikir ... untuk apa, bila ternyata hati Raindra tidak bahagia. Dulu ... Raindra berpikir bahwa dengan memiliki ekonomi yang mapan, maka Raindra akan bahagia. Dulu Raindra selalu menganggap kalau diri Raindra ini tidak pantas untuk Calya. Namun, setelah bertemu kembali dengan Calya, lalu ditolak olehnya meski status ekonomi Raindra sudah berubah, Raindra sadar bahwa di atas segalanya yang terpenting adalah cinta. Raindra sudah pernah menyia-nyiakan cinta Calya. Cinta yang justru sebenarnya membuat kami bahagia kala itu. Sekarang, Raindra memutuskan untuk meninggalkan semua hal yang dulu pernah membuat Raindra meninggalakn Calya, lalu kembali ke kota ini. Kebetulan, Raindra masih punya sedikit simpanan untuk membeli rumah sederhana ini. Bagaimana pun juga, Raindra tidak mungkin terus tinggal di rumah orang tua dan membebani mereka. Apalagi, sekarang untuk sementara Raindra tidak bisa menyokong mereka seperti dulu lagi. Dan ya ... keputusan Raindra yang seperti ini juga awalnya membuat mereka marah, tapi setelah Raindra jelaskan, mereka pun mau menerima."
"Lalu ... sekarang apa rencana Nak Raindra setelah tinggal di sini?" tanya Pak Darmawan lagi.
"Raindra akan kembali merintis bisnis kecil-kecilan," jawab Raindra.
"Oh ... semoga usaha baru Nak Raindra berjalan dengan lancar ya," ujar Pak Darmawan.
Perbincangan itu berlangsung selama beberapa saat, sampai akhirnya Raindra berpamitan untuk kembali ke rumahnya.
***
Selama beberapa hari Raindra mulai menata rumah kecinya itu. Halamannya cukup luas untuk dijadikan sebuah warung kopi. Ya, Raindra berniat untuk membuka sebuah warung kopi dengan fasilitas internet gratis di situ. Sasaran konsumennya adalah untuk segala umur, sehingga ia membuat berbagai menu makanan, minuman, dan camilan yang bisa dinikmati berbagai kalangan. Untuk menu-menu itu, dia sendiri yang akan membuatnya, sebab dia sudah memiliki pengalaman untuk hal itu.
Plang nama 'Warkop Raindra' sudah terpasang di depan rumah itu. Warung kopi itu mulai buka pukul sebelas siang sampai pukul sepuluh malam. Untuk saat ini, dia hanya memperkerjakan seorang pelayan. Sementara Raindra sendiri merangkap pekerjaan sebagai kasir dan koki. Dia juga gencar mempromosikan warung kopi rumahannya itu di media sosial.
Pak Darmawan dan istrinya selalu melihat kegiatan Raindra setiap harinya. Mereka pun merasa senang atas kemandirian pria itu. Sesungguhnya, sejak dulu mereka sudah menganggap Raindra seperti anak mereka sendiri. Mereka pun senang saat Calya menjalin hubungan dengan Raindra. Bagi mereka, dia adalah seorang pemuda yang baik dan bertanggung jawab. Akan tetapi, keputusan yang diambil Raindra waktu itu memang cukup menyedihkan bagi mereka. Namun, hal itu tidak lantas membuat mereka menjadi tidak menyukainya. Seperti orang tua yang selalu mendukung keputusan anaknya, mereka pun percaya bila saat itu Raindra memiliki alasan di balik keputusannya. Sampai akhirnya takdir membawa Calya untuk menikah dengan Dirga.
Pagi ini, Raindra sedang menata meja dan kursi di halaman sambil menunggu pekerjanya datang. Sementara itu, di rumah depan Pak Darmawan dan sang istri sedang melakukan kegiatan bersih-bersih rumah.
Awalnya, aktivitas itu berjalan baik-baik saja. Sampai saat Pak Darmawan hendak menyimpan sebuah kotak di atas lemari, ia kehilangan keseimbangan dan terjatuh.
__ADS_1
Bu Darmawan yang melihat hal itu pun seketika berteriak meminta pertolongan. Terlebih lagi karena saat ini sang suami dalam keadaan pingsan. Mendengar suara teriakan itu, Raindra pun segera berlari menuju rumah itu tanpa berpikir panjang. Di ruang tengah, ia mendapati Pak Darmawan yang sedang tergeletak di lantai, serta di sampingnya sang istri sedang bersimpuh sambil menangis.
"Bu, ada apa? Apa yang terjadi sama Bapak?" tanya Raindra.
"Nak Raindra, tolong Bapak. Tadi Bapak jatuh, tolong Bapak," gumam Bu Darmawan sambil terus terisak.
Dengan cepat Raindra mengangkat tubuh Pak Darmawan, lalu menggendongnya sampai ke depan rumah. Beberapa tetangga yang melihat pun segera membantu untuk mencarikan sebuah kendaraan yang akan membawa Pak Darmawan ke rumah sakit. Namun, hanya Bu Darmawan dan Raindra saja yang turut serta menuju ke sana.
Sesampai di depan ruang UGD, Raindra segera turun dan memberi tahu perawat. Beberapa perawat pun bergegas membawa ranjang dorong dan memindahkan tubuh Pak Darmawan di sana. Di dalam ruangan UGD, tim medis segera memberikan tindakan pertolongan. Sementara itu, Raindra meminta Bu Darmawan untuk duduk di ruang tunggu, sedangkan dirinya lah yang akan mengurus administrasi pendaftaran pasien.
Setelah urusan administrasi selesai, Raindra segera menghampiri Bu Darmawan yang masih saja terus menangis sambil memanjatkan doa untuk kesembuhan sang suami. Di sampingnya, Raindra kemudian memberi semangat agar Bu Darmawan tabah menghadapi hal ini.
"Bu, Ibu harus lebih tenang. Kita doakan saja, semoga Bapak baik-baik saja," ujar Raindra.
Bu Darmawan hanya membalas ucapan Raindra dengan anggukan. Sampai beberapa menit kemudian, seorang dokter menemui mereka.
"Keluarga pasien Tuan Darmawan?" sapa dokter pria itu.
Bu Darmawan bergegas bangkit dari tempat duduknya. "Iya, Dok, saya istrinya."
"Oh, iya. Pak Darmawan sudah sadar. Tadi saat terjatuh, Pak Darmawan hanya mengalami benturan ringan. Mungkin karena kaget, beliau jadi kehilangan kesadaran. Sekarang hanya tinggal menghabiskan cairan infusnya saja, kemudian Bapak boleh langsung dibawa pulang," papar sang dokter.
"Alhamdulillah. Terima kasih, Pak Dokter," sahut Bu Darmawan.
"Bu ...," desis Pak Darmawan saat melihat kehadiran istrinya.
"Syukurlah, Bapak baik-baik saja. Tadi Ibu sangat kaget waktu Bapak pingsan. Untung ada Nak Raindra yang langsung datang dan menolong membawa Bapak ke rumah sakit," ujar Bu Darmawan.
"Nak Raindra?" Pak Darmawan menoleh pada Raindra. "Terima kasih ya, Nak Raindra," lanjutnya kemudian.
Raindra mengangguk dan tersenyum. "Sama-sama, Pak."
Siang harinya, saat cairan infus Pak Darmawan habis, ia pun diperkenankan untuk kembali ke rumah. Raindra kembali mengurus administrasi serta penebusan obat-obatan untuk dibawa pulang. Selanjutnya, ia memapah Pak Darmawan saat menaiki mobil yang membawa mereka kembali ke rumah. Sesampai di rumah, Raindra kembali melakukan hal yang sama, membopong ayah mantan kekasihnya itu sampai ke dalam kamar, dan membantunya untuk merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Sekali lagi terima kasih ya, Nak Raindra," ujar Bu Darmawan saat Raindra berpamitan untuk kembali ke rumahnya.
"Sama-sama, Bu. Dan sekali lagi, Ibu dan Bapak jangan sungkan untuk memanggil Raindra kalau terjadi apa-apa, atau pun kalau Ibu membutuhkan bantuan," ujar Raindra.
Setelah itu, Raindra pun kembali ke rumahnya. Saat itu, Anton, pekerjanya sudah berada di sana. Akan tetapi warung kopi itu baru benar-benar dibuka saat Raindra datang.
__ADS_1
"Mas Raindra, tadi sudah ada beberapa orang yang datang, mau beli camilan, tapi ya terpaksa balik lagi karena Mas Raindra-nya masih di rumah sakit. Terus keadaan Pak Darmawan bagaimana?" tanya Anton.
"Pak Darmawan sudah dibolehkan pulang kok. Tidak apa-apa," sahut Raindra sambil memakai celemeknya dan berjalan memasuki dapur. "Tadi pada nyari camilan apa?" tanya Raindra pada Anton sambil membuka lemari pendingin.
"Pisang goreng lumpur, Mas sama martabak manis mini," sahut Anton.
"Oh iya, paling sore nanti pada datang lagi kalau memang sudah rezeki kita," ujar Raindra.
"Iya, benar, Mas. Apalagi Anton perhatikan, cewek-cewek ABG itu memang rajin datang ke sini," ujar Anton.
"Oh ya? Mungkin mereka mau ngerjain tugas pakai internet kali, Ton," sahut Raindra sambil mulai mencampur adonan untuk membuat martabak.
"Ah, bukan karena itu, Mas. Tapi karena ...." Anton menghentikan ucapannya karena merasa tidak enak untuk mengatakannya.
"Karena apa, Ton?" tanya Raindra.
"Em ... itu Mas, tapi Mas Raindra jangan marah ya," ujar Anton.
"Marah kenapa? Memangnya saya kelihatan kayak orang pemarah ya?" gumam Raindra.
"Em ... ya tidak, Mas. Jadi menurut pengamatan Anton, cewek-cewek ABG itu kalau ke sini pasti selalu ngelihatin Mas Raindra deh," ujar Anton.
Mendengar ucapan Anton, Raindra terbahak, kemudian berkata, "Memangnya ada yanga aneh sama saya ya sampai mereka memperhatikan saya seperti itu?"
"Em ... bukan aneh, Mas. Tapi yang pernah Anton dengar dari obrolan mereka, katanya Mas Raindra ini mirip sama aktor di tv. Em ... kalau tidak salah mereka sebut nama aktor itu Omar Daniel," jelas Anton.
Raindra kembali tertawa.
"Ah, sudahlah, Ton. Ada-ada saja kamu ini. Sudah sana lanjutkan beres-beresnya," ucap Raindra.
Anton hanya menggaruk kepalanya. Sang bos memang tak marah padanya, tapi juga tak percaya padanya. Padahal menurutnya memang seperti itulah adanya, bahwa pengunjung warung kopi ini adalah kebanyakan kaum hawa yang memang datang hanya untuk melihat sosok sang pemilik warkop yang tampan itu.
***
Setelah sekian lama cerbung ini tayang, maka Author akan mulai memvisualisasikan para pemerannya satu per satu. Episode kali ini adalah visualisasi tokoh Raindra yang diperankan oleh aktor Omar Daniel.
__ADS_1
3996.jpg-original600webp?sign=df1a255dfd953aeb582c1019526175a2&t=5f751c00)