Sengketa Hati (CALYA)

Sengketa Hati (CALYA)
Hati yang Beralih


__ADS_3

Dirga memacu motornya dengan cepat. Sementara di belakangnya, Haira berpegang dengan erat. Memeluk pinggang sang suami.


Di halaman puskesmas Dirga menepikan motornya. Kembali menggendong tubuh Haira dan bergegas memasuki ruang UGD puskesmas.


"Sus, tolong istri saya sedang hamil dan barusan dia terjatuh," ucap Dirga saat bertemu dengan seorang perawat yang sedang berjaga.


"Coba dibaringkan di tempat tidur dulu, Pak," sahut perawat itu.


Dirga pun melaksanakan perintah itu. Tubuh Haira kini sudah berada di pembaringan.


"Apa yang Ibu rasakan sekarang?" tanya si perawat pada Haira.


"Perut saya sangat nyeri, Sus."


"Apakah Ibu merasakan ada sesuatu yang keluar dari organ kewanitaan Ibu?"


"Em ...." Haira melirik sejenak pada Dirga. "Iya, sepertinya iya, Sus. Apakah aku akan keguguran, Sus? Tolong, tolong selamatkan bayi saya," suara Haira memelas.

__ADS_1


"Tenang lah, Bu. Saya akan memanggil dokter dulu. Beliau masih bertugas di poli. Saya akan menyampaikan kalau Ibu sedang membutuhkan pertolongan segera.


"Tolong secepatnya ya, Sus." Dirga berkata.


"Baik, Pak, tapi saya akan memeriksa tekanan darah Ibu dulu," sahutnya.


Perawat itu pun melakukan pemeriksaan tensi darah beberapa menit, mencatatnya dalam sebuah buku setelah terlebih dahulu meminta data diri Haira. Setelahnya ia bergegas menuju ke ruang praktek dokter kandungan.


"Kamu yang kuat ya," gumam Dirga pada Haira.


"Aku pasti akan kuat demi anak kita, Dir," sahut Haira sambil menautkan jemarinya pada jemari Dirga.


"Demi aku juga, demi orang tua kita," timpal Dirga lagi.


Haira tercengang. Ia tak menyangka bila Dirga akan mengatakan hal itu. Sungguh, hatinya begitu bahagia kini. Ternyata Dirga begitu mencintai bayi yang sedang dikandungnya.


Haira merasakan puncak kepuasan. Selama ini dia hanya mendapatkan raga Dirga sebagai seorang suami. Namun, ternyata diam-diam ia pun memiliki cinta Dirga.

__ADS_1


Ya, Haira sangat yakin kini bila perlahan hati Dirga telah menyemaikan benih cinta lagi padanya. Atau mungkin, pohon cinta yang dulu pernah tumbuh dan layu, kini hidup kembali.


Di dalam hati, Haira merasa beruntung karena memiliki janin itu di dalam rahimnya. Janin yang telah membantunya menjalankan rencana dan berakhir dengan baik.


Hingga beberapa menit kemudian, perawat tadi kembali bersama seorang wanita yang memakai jas dokter.


"Saya akan memeriksa pasien, Bapak bisa menunggu sebentar ya," ucap sang dokter.


Dirga pun menurut, menuju ke kursi untuk para penunggu. Sementara perawat tadi kini menggeret kain gorden untuk menutupi tempat tidur pemeriksaan.


Dirga menunggu dengan perasaan yang tak menentu. Ia sangat khawatir pada keselamatan jabang bayi yang ada di kandungan Haira. Ia sangat takut, bila sampai terjadi hal buruk pada Haira dan bayinya, kedua orang tuanya dan juga orang tua Haira akan sangat marah padanya.


"Calya ... mengapa kau tega melakukan semua ini?" Dirga bergumam pada dirinya sendiri.


Kali ini, lelaki itu merasa benar-benar marah pada sang istri. Tentu saja karena rasa ketidakpercayaan bila wanita yang dianggapnya begitu lembut akan melakukan hal buruk pada calon anak yang tak berdosa. Dirga merasa bila Calya seakan telah berubah menjadi monster mengerikan karena akan mencelakai Haira dan bayinya.


Hingga beberapa menit kemudian, dokter tadi muncul dari balik tirai gorden. Begitu pula dengan si perawat yang mengikut di belakangnya setelah membuka seluruh gorden penutup.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" cecar Dirga sembari menghampiri dokter itu.


__ADS_2