
Di kota lain, jauh di timur Indonesia, wanita yang tengah menikmati saat-saat bahagianya sebagai seorang istri sah baru saja bangun dari tidurnya. Saat meraba-raba kasurnya, ia pun menyadari bila sang suami sudah tak ada di sisinya.
"Ah, ke mana dia pagi-pagi begini? Ini kan hari libur," gumam Haira.
Wanita yang usia kandungannya kini memasuki bulan ke lima itu pun bangkit dari tempat tidurnya. Melangkah ke luar kamar, mencari-cari sang suami.
Sesampai di ruang tamu, dilihatnya pintu luar terbuka. Haira pun kembali melangkah ke luar rumah.
Di halaman, ia melihat Dirga sedang menyirami tanaman. Haira tahu bila tanaman itu adalah peninggalan Calya. Seketika hatinya resah. Haira menyesal karena tak menyingkirkan tanaman-tanaman itu juga.
"Dir ... ngapain sih?" Haira berteriak dari depan pintu.
Dirga yang mendengar namanya disebut pun mendongak.
"Kamu kan lihat sendiri, aku lagi siram tanaman," sahut Dirga.
"Aduh ... biarin saja tanaman itu. Yuk, lebih baik masuk, kita sarapan," ujar Haira lagi.
"Kamu sih, gak pernah siram tanaman-tanaman ini. Lihat, jadi pada kering semua," balas Dirga
"Ya biar sekalian mati semua terus dibuang. Nanti aku ganti dengan tanaman yang baru," ucap Haira.
Dirga mendengkus. Kemudian mematikan keran air, dan berjalan menuju rumahnya.
Ia tak ingin keributan terjadi, sebab Dirga tahu pasti bila Haira tak akan berhenti meminta dirinya untuk mengikuti kemauannya.
"Sarapan apa?" tanya Dirga.
"Lho ... kamu belum beli sarapan?" Haira justru balik bertanya.
"Kalau tiap hari beli, kan bosan juga, Ra," sahut Dirga.
"Ya, terus gimana dong, Dir? Apa kita terus gak makan gitu? Terus kelaparan? Gak kasihan sama anakmu ini?" gerutu Haira sambil menunjuk perutnya yang membuncit.
Dirga hanya menggeleng, lalu melenggang menuju dapur. Sesampai di sana, ia membuka lemari pendingin, mengambil beberapa butir telur, dan memecahkannya di atas mangkuk.
Haira yang menyusulnya pun memperhatikan gerakan sang suami.
"Mau bikin apa?" tanya Haira.
__ADS_1
"Omlet," jawab Dirga.
"Kamu bisa?" tanya Haira lagi.
Namun, Dirga tak menjawab, hanya gerakan tangannya yang terus terlihat. Beberapa lembar daun bawang dan seledri sedang dipotongnya saat Haira melenggang menuju ke kamar mandi.
Beberapa menit kemudian, Dirga sudah menyajikan omlet buatannya di atas piring. Di meja makan sudah tersaji juga beberapa lembar roti tawar dan susu untuk Haira.
Sang istri pun kini sudah turut duduk bersamanya. Sejurus kemudian menikmati makanan dan minuman yang disajikan oleh suaminya itu.
"Dir ... aku bosan di sini," ujar Haira di sela-sela aktivitas makannya.
Dirga menoleh pada Haira.
"Kenapa?"
"Ya iyalah, tiap hari cuma bengong di rumah. Gak ada mall, gak bisa refreshing. Tempat tugasmu kok di pelosok begini sih?" Haira kembali menggerutu.
"Ya namanya abdi negara, memang seperti itu kan, Ra! Ditugaskan di mana saja harus bersedia," sahut Dirga.
"Dir ... besok aku pulang ke Surabaya dulu ya. Aku mau refreshing, sekalian mau minta sama Papa supaya segera mengurus pindah tugasmu," ujar Haira.
"Tidak usah lah, Ra. Lagi pula beberapa bulan lagi, kamu kan sudah mau lahiran. Biar sekalian saja ke Surabaya nya," sahut Dirga.
"Bukan soal itu, tapi kondisimu yang lagi hamil begini," balas Dirga.
"Ah ... sudahlah, Dir. Pokoknya besok aku mau pulang ke Surabaya. Aku benar-benar jenuh di kota ini. Kamu setuju atau tidak, aku akan tetap berangkat." Haira berkata ketus, kemudian berlalu meninggalkan meja makan itu. Masuk kembali ke dalam kamar.
***
"Halo, Ma. Iya besok Haira berangkat," ujar Haira sambil memegang ponselnya di telinga.
"Sendiri?" tanya sang ibu di seberang telepon.
"Iya, Ma. Dirga kan kerja," jawab Haira.
"Aduh, apa kamu yakin akan berangkat sendiri dengan keadaan hamil begitu?" tanya Bu Broto dengan nada kurang yakin.
"Ah ... Mama kayak Dirga saja, mengkhawatirkan yang tidak-tidak," sahut Haira.
__ADS_1
"Apa? Jadi Dirga juga keberatan dengan rencana keberangkatan mu?"
"Ya, begitu lah. Tapi Haira benar-benar pusing dan jenuh di sini, Ma. Lama-lama bayi Haira justru tak tumbuh dengan baik kalau ibunya depresi seperti ini," ujar Haira.
Bu Broto menghela napas. "Ya, sudah ... terserah kamu saja."
"Ya sudah, Ma. Jangan lupa bilang sama Papa untuk jemput Haira besok," ucap Haira sebelum menutup teleponnya.
***
Keesokan paginya, Haira sudah bersiap untuk berangkat. Dia hanya membawa sebuah tas tangan, sebab pakaian dan barang-barang lainnya masih ada di rumahnya di Surabaya.
Dirga tak banyak berkata lagi. Dia memilih untuk menuruti kehendak sang istri. Berdebat dengannya tak akan menyelesaikan urusan, Dirga tahu itu.
Usai mengantar Haira ke bandara, Dirga kembali ke rumah dinasnya. Di saat kesendirian seperti ini, pikiran Dirga tiba-tiba melayang ke masa lalu. Lelaki itu sedang mengenang sang mantan istri.
Kedatangan kedua orang tua Calya beberapa hari yang lalu tentu saja masih mengusik nuraninya. Keberadaan Calya yang tak diketahui oleh orang tuanya, membuat perasaan Dirga tak tenang.
Rasa keingintahuan tentang apa yang terjadi pada Calya saat ini membuat Dirga meraih telepon genggamnya.
Nomor telepon Calya memang sudah tak ada di sana, Haira sudah menghapusnya. Namun, Dirga masih menghapal rangkaian nomor itu dengan pasti.
Perlahan ... ditekannya tombol-tombol di ponselnya hingga lengkap sudah rangkaian nomor telepon itu, dan tombol panggilan pun menciptakan nada dering yang menyatakan bahwa panggilan telah masuk.
Di tempat lain, telepon genggam milik Calya bergetar. Wanita itu sedang bekerja, dan baru saja kembali ke pantry setelah mengantarkan pesanan pelanggan.
Merasakan getaran benda pipih itu di saku celananya, ia pun meraih dan mengamatinya.
"Dirga ...." Calya berdesis.
Calya termangu. Hatinya membuncah. Ada kegelisahan terpatri di benaknya. Sebabnya adalah tanda tanya akan maksud panggilan sang mantan suami itu.
Menurutnya, Dirga tak akan mungkin menghubunginya lagi. Tak ada alasan bagi lelaki itu untuk melakukannya. Namun, Calya menaruh rasa penasaran. Pasti Dirga memiliki sebuah alasan untuk hal ini.
Calya sudah berniat untuk mengangkat telepon itu. Akan tetapi, tiba-tiba wanita itu mengurungkan niatnya. Ia merasa bahwa melupakan Dirga adalah tujuan hidupnya saat ini. Tak perlu lagi berkomunikasi dengannya. Calya pun memencet tombol menolak panggilan, lalu menonaktifkan ponselnya.
Calya mengembuskan napas, lalu kembali menyimpan ponselnya di saku celana, dan melanjutkan pekerjaannya.
Sementara itu, Dirga yang menyadari bahwa panggilannya telah ditolak, merasakan sesuatu yang membuatnya semakin khawatir.
__ADS_1
Lelaki itu seakan merasakan sesuatu yang memanggil jiwanya untuk mengetahui kabar berita sang mantan istri. Sebuah ikatan batin yang menghubungkan dirinya dengan wanita yang pernah mendampinginya itu.
***