Sengketa Hati (CALYA)

Sengketa Hati (CALYA)
Keyakinan


__ADS_3

Siang ini di waktu istirahat, Dirga dan Arya beranjak ke luar kantor. Seperti janji mereka tadi untuk pergi bersama mengecek rumah kontrakan yang dicari oleh Dirga.


Dengan mengendarai motor milik Arya, mereka memasuki sebuah area perumahan. Tepat di sebuah rumah, Arya mengehentikan motor.


"Sebelumnya rumah yang kosong ada dua, yang ini, sama yang di depannya itu," ujar Arya sambil menunjuk rumah yang tepat berhadapan dengan rumah tempat mereka berada kini.


"Terus yang itu sudah ada yang tempati ya?" tanya Dirga.


"Iya, Pak Praba yang menyewa. Kemarin saya juga yang mengantar beliau ke sini," sahut Arya.


Dirga terdiam sejenak. Bila ia jadi mengambil rumah ini, artinya ia akan kembali bertetangga dengan Praba.


Sesaat, ia ingin mengurungkan niat untuk menempati rumah itu. Namun, saat Arya berkata, Dirga pun kembali berpikir.


"Bisa dibilang rumah ini sewanya murah, Pak. Selain itu lokasinya juga bagus, apalagi dekat dengan kantor. Di sini juga bisa dibilang aman."


"Apa bisa masuk untuk lihat-lihat dulu, Ya?" tanya Dirga.


"Oh boleh, Pak. Kebetulan pemiliknya sebentar lagi akan ke sini. Nah kayaknya itu dia sudah datang, Pak," ujar Arya sambil menunjuk ke arah seorang pria yang datang dengan menggunakan sepeda motor.


Sesaat kemudian, mereka bertiga sudah masuk ke dalam rumah. Setelah melihat-lihat seluruh bagian rumah, Dirga pun memutuskan untuk menyewa rumah itu.


"Oke, pembayarannya akan saya transfer besok ya, Pak," ujar Dirga.


"Siap, Pak. Lantas, kapan akan mulai masuk ke rumah ini?" tanya si pemilik rumah.


"Ya, saya akan bilang ke istri saya dulu. Bagaimana juga, kami harus membeli beberapa perabotan dulu sebelum masuk," sahut Dirga.


Setelah berbincang sebentar, Dirga dan Arya pun kembali ke kantor. Di kursinya, ia menelepon Haira, mengabarkan tentang rumah yang akan mereka sewa itu.


"Di perumahan Graha Asri," ujar Dirga di sambungan teleponnya.


Tepat di saat itu, Praba baru saja keluar dari ruangannya. Ia mendengar Dirga menyebut nama komplek perumahan tempat tinggalnya.


Sesaat kemudian Praba berhenti dan menoleh pada Arya.


"Arya, bisa ke ruangan saya sekarang?"


"Oh iya, Pak," sahut Arya yang kemudian beranjak berdiri.


Praba pun kembali ke ruangannya diikuti oleh Arya. Sementara itu, Dirga masih berbicara dengan Haira di telepon. Namun, matanya sempat melirik ke arah Praba.

__ADS_1


"Arya, tadi kamu sama Pak Dirga ke mana?" tanya Praba setelah ia dan Arya tiba di ruangannya dan duduk saling berhadapan.


"Oh, itu Pak, saya temani Pak Dirga cari rumah kontrakan," sahut Arya.


"Oh ... di mana?" selidik Praba lagi.


"Kebetulan di komplek perumahan yang sama dengan Pak Praba. Pas di depan rumah Pak Praba," ujar Arya.


Mendengar hal itu, sontak saja Praba tergugu. Pikirannya mulai bercampur aduk. Bila ia tinggal bertetangga dengan Dirga dan Haira, mereka pasti akan tahu bila ia tinggal serumah dengan Calya. Hal itu tentu saja akan membenarkan prasangka yang pernah ditujukan Dirga padanya. Bahwa ia menjalin sebuah hubungan spesial dengan Calya saat mereka masih berstatus suami-istri.


"Memangnya ada apa ya, Pak?" Pertanyaan Arya membuat Praba tersadar dari lamunannya.


"Oh ... tidak, tidak apa-apa. Baguslah kalau begitu, Dirga juga sudah dapat tempat tinggal. Em ... kamu boleh pergi sekarang," ujar Praba.


Arya mengangguk lalu mengucap permisi dan keluar dari ruangan Praba.


***


Sepulang kantor, Praba mencoba mencari waktu untuk berbicara berdua dengan Calya. Bagaimana pun, ia merasa perlu untuk memberi tahu Calya tentang keberadaan Dirga dan Haira di kota ini, terlebih lagi mereka akan tinggal di depan rumah mereka. Praba tidak ingin menyembunyikan hal itu dari Calya. Ia khawatir bila Calya mengetahuinya kemudian, maka wanita itu akan marah padanya.


Sampai saat makan malam telah usai, dan Calya sedang berada di dapur, ia pun memutuskan untuk menemuinya. Kebetulan Myesha baru saja keluar bersama Bagas ke toko buku, dan kedua orang tuanya sedang berada di dalam kamar.


"Saya bantuin ya, Cal," ujar Praba sambil mengambil beberapa kotak pembungkus makanan dan meletakkannya di atas lemari.


"Ibu sama Bapak kayaknya kecapekan jadi cepat tidur ya," ujar Calya.


"Iya mungkin, atau juga kekenyangan, hehehe," gumam Praba.


"Seharian Ibu bantuin saya sih. Terus Bapak sibuk ngurusin tanaman. Jadi lebih asri di halaman rumah," ucap Calya lagi.


"Iya, mereka kelihatan senang di sini, jadi punya aktivitas. Mereka jadi kayak sudah punya menantu gitu ya, padahal kan belum," canda Praba.


"Ih ...," sahut Calya geram.


Praba kembali terkekeh kecil.


"Cal ... saya mau ngomong serius sama kamu," ucap Praba kemudian.


Calya menoleh pada lelaki itu.


"Jangan, kalau soal yang kemarin," ujar Calya.

__ADS_1


"Tidak, bukan soal itu," sergah Praba.


"Lantas?" tanya Calya sambil menatap nanar pada Praba.


"Saya harus bilang ini sama kamu. Sebelumnya, duduklah. Coba untuk tenang dan tidak khawatir," ujar Praba sambil mengarahkan Calya untuk duduk di sebuah kursi plastik.


"Ada apa sih?"


Praba kemudian mengambil satu kursi lainnya, menaruhnya di depan Calya, lalu duduk di sana.


"Cal ... Dirga dan Haira ada di kota ini." Lirih suara Praba berucap.


"A apa? Kamu bertemu mereka? Apa mereka sedang liburan di sini?" desis tanya Calya.


Perlahan Praba menggeleng. "Mereka tidak sedang liburan, tapi akan tinggal di sini."


Calya membelalak sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan.


"Kenapa? Kenapa mereka bisa tinggal di sini?"


"Praba dimutasi ke kota ini. Kami kembali sekantor sekarang. Di ruangan yang sama lagi."


Mendengar hal itu, Calya spontan berdiri. Namun, Praba kembali menahannya untuk kembali duduk.


"Duduk dulu, Cal. Masih ada yang harus saya beri tahu," ungkap Praba.


"Apa lagi, Prab? Saya sudah cukup gemetar mendengar hal yang tadi," ucap Calya.


"Tidak, Cal. Jangan seperti itu. Kemarin, saya juga mengalami hal yang sama denganmu saat mengetahui bahwa Dirga dipindahkan ke sini. Saya benar-benar galau. Saya khawatir bila kamu merasa tidak nyaman dan justru membuat pikiranmu menjadi stres. Namun, semangatmu untuk melupakan masa lalu dan menyambut masa depan, membuat saya pun yakin untuk menghadapi kenyataan hadirnya Dirga di sekitar kita lagi. Cal ... Dirga menyewa rumah di depan rumah ini."


Calya kembali mendelik.


"Apa?!" serunya.


"Cal ... saya pun merasa resah. Bagaimana pun, dia pernah mencurigai hubungan di antara kita. Namun, bila kamu meyakinkan akan tetap berada di sini, maka saya akan tetap bersamamu untuk menghadapi apa pun yang akan terjadi. Kita ... akan menghadapinya bersama." Perlahan, Praba menyentuh jemari Calya, mengaitkan dengan jemarinya erat.


Calya bergeming sesaat. Gemuruh yang dirasakan tadi karena keresahan hatinya seakan sirna, berganti rasa nyaman yang mengalir dari sentuhan tangan lelaki itu.


Perlahan Calya mengangguk.


"Ya, kita akan menghadapinya. Tak ada gunanya menghindari mereka. Inilah yang namanya takdir. Kapan pun itu, bagaimana akan terjadi, semua sudah diatur oleh-Nya. Kita hanya lah pelaku peran. Bila memang waktunya saat ini dia akan tahu tentang kehamilan ini, maka biarkan lah dia tahu." Calya berkata sembari menatap lekat mata Praba dengan penuh keyakinan.

__ADS_1


***


__ADS_2