
Selama proses perceraian, tak sekali pun Dirga kembali ke rumah dinas itu. Juga tak sekali pun menghubungi Calya lewat telepon. Setelah melalui beberapa kali persidangan, tibalah saatnya untuk mendengarkan putusan perceraian ini.
Di ruang sidang, Calya duduk berhadapan dengan Dirga. Tanpa kata, pun tanpa saling memandang.
Jauh, mereka mencoba melempar pandangan. Berjibaku dengan alam pikiran masing-masing.
Sampai akhirnya, palu pun diketuk. Kedua insan itu sudah dinyatakan tak memiliki ikatan pernikahan lagi. Janda dan duda pun menjadi predikat mereka.
Calya mencoba mengembuskan napas. Menghempaskan semua beban yang tertumpuk dan menimbun di hatinya.
Keikhlasan dan kesabaran sudah berujung di titik ini. Kebebasan hatinya.
Tanpa saling bicara, sepasang manusia yang pernah saling mencinta itu keluar dari gedung pengadilan agama itu. Menuju ke tempat tujuan masing-masing.
Sesampai di rumah dinas, Calya kembali melihat isi rumah itu. Memastikan semua barang rumah tangga tertata rapi di tempatnya.
Di kamar tidur, ia telah membuka seprai yang pernah dipakainya untuk tidur bersama Dirga, lalu dibungkus ke dalam kantong plastik. Foto-foto pernikahan dan kebersamaannya dengan Dirga pun telah dimasukkan ke dalam sebuah kardus. Sebelumnya, ia telah meminta bantuan Praba untuk membuang barang-barang itu nanti.
Setelah itu, Calya pun menarik kopernya ke luar rumah. Sesaat ia kembali menoleh pada rumah itu. Seketika, membangkitkan kenangan ketika ia pertama kali memasukinya bersama sang suami.
Calya mendesah pelan. Kemudian kembali berpaling menuju ke halaman luar. Namun, tiba-tiba langkahnya kembali terhenti. Ada sebuah dorongan yang dirasakannya untuk kembali memasuki rumah itu.
Dengan langkah cepat, Calya masuk ke dalam rumah, membuka kardus yang berisi foto lalu mengambil salah satu foto pernikahannya bersama Dirga, lengkap dengan seluruh anggota keluarga mereka.
Di dalam hati, Calya merasa perlu untuk tetap menyimpan foto itu. Meski dengan alasan yang tak dapat dijelaskan.
***
Dengan diantar sebuah kendaraan umum yang disewanya, Calya memutuskan untuk singgah sejenak di tepi pantai. Di sebuah kursi panjang yang menghadap ke arah laut, Calya duduk dengan tatapan yang melayang jauh.
"Mengapa duduk sendiri di sini?" Sebuah suara dari arah belakang membuat Calya tersentak.
"Praba ... " gumam Calya.
"Boleh saya temani?" tanya Praba.
Calya mengangguk. Memberi persetujuan pada Praba untuk turut duduk di sampingnya.
"Kamu akan pergi?" tanya Praba setelah duduk.
"Iya, tentu saja. Tak mungkin saya terus tinggal di sini. Itu sama saja dengan bunuh diri secara perlahan," jawab Calya.
Praba terkekeh pelan. Kemudian berkata, "Kamu adalah wanita hebat ke-tiga yang pernah kutemui."
__ADS_1
"Hah?"
"Ya. Wanita hebat pertama adalah ibuku, lalu yang kedua adalah Mayla, mendiang istriku. Dan ke-tiga kamu."
"Hal apa yang membuatmu memasukkan namaku dalam daftar wanita hebat itu? Kalau ibu dan istrimu, sudah pasti kamu mengenali mereka, sedangkan saya?"
"Bagaimana saya tidak mengatakan kamu adalah wanita yang hebat, kamu mengalami luka bertubi-tubi, tetapi masih mampu berdiri tegar. Hak mu dirampas, dan kamu tak menuntut dengan pembalasan."
"Hebat atau lemah?" lirih Calya sembari memandang pada Praba.
Praba membalas tatapan Calya, lalu menjawabnya, "Hebat."
Calya tersenyum kecil, kemudian bangkit berdiri. Namun, saat itu ia tiba-tiba merasakan pusing dan membuat pandangannya buram. Calya mencoba untuk memegang kepalanya, tetapi rasa pusing itu semakin menjadi, hingga pandangannya semakin gelap, dan tubuhnya mulai terhuyung ke belakang.
"Calya!" Praba memekik.
Kemudian bergegas menangkap tubuh wanita itu. Dengan sigap, Praba menggendongnya dan membawanya masuk ke mobil angkutan umum yang masih menunggu di situ.
"Antar ke rumah sakit, Pak!" seru Praba.
***
Di ruang UGD, seorang dokter memeriksa keadaan Calya. Perlahan, wanita itu mulai membuka matanya.
"Bagaimana, Dok?" tanya Praba. Kemudian setelah melihat Calya sadar, Praba pun bertanya padanya, "Bagaimana perasaanmu, Cal? Apa merasakan sakit?"
"Pak, Ibu ini hanya butuh istirahat yang cukup, serta makan dengan teratur. Mungkin Ibu kelelahan, sampai tekanan darahnya begitu rendah. Padahal, saat tri semester pertama, Ibu hamil harus lebih banyak istirahat," sahut sang dokter.
"Apa?!" Calya dan Praba berucap bersama.
"Ma- maksud Dokter?" tanya Praba.
"Oh, rupanya Bapak dan Ibu belum tahu ya? Ibu ini sedang mengandung, itu hasil yang saya dapatkan setelah memeriksanya barusan," jawab dokter itu.
"Hamil?" lirih Calya.
Dokter itu mengangguk. "Selamat ya, Bu, Pak."
Calya mengatup mulutnya dengan kedua telapak tangan. Entah perasaan apa yang harus ditunjukkannya. Bahagia atau bersedih.
Selama dua tahun, ia menantikan kehamilan ini. Namun, karena tak kunjung mendapatkannya, ia harus menelan pil pahit dengan menerima pernikahan kedua suaminya yang kini berujung pada perceraian.
Sekarang, benih Dirga sedang bersemai di rahimnya. Ya, Calya tahu dengan pasti bila anak yang dikandungnya ini adalah milik Dirga. Ia masih ingat, kapan terakhir kali mereka memadu kasih. Dua bulan lalu, sekembalinya Dirga bersama Haira ke kota ini.
__ADS_1
Akan tetapi, saat ini statusnya bukan lah lagi istri lelaki itu. Calya telah menyandang status janda. Calya menutup kedua matanya rapat. Mencoba membayangkan tentang masa depan sang anak kelak. Bagaimana ia bisa menghadapi takdir terlahir sebagai anak tanpa seorang ayah.
Tanpa terasa, bulir bening mengalir dari kedua sudut matanya. Calya menangis.
"Baiklah, silakan istirahat sebentar, ini resep obatnya. Bila sudah merasa lebih baik, Ibu bisa langsung pulang. Jangan lupa untuk tetap istirahat di rumah, makan teratur dan minum vitaminnya," gumam sang dokter lagi, sebelum berlalu pergi.
Praba mendekat pada Calya, mengusap air mata yang merembes di pipi wanita itu.
"Mengapa menangis?" tanya Praba.
"Kamu tahu alasannya," jawab Calya.
"Anak adalah kebahagiaan, rezeki yang tak terhingga, mengapa ditangisi?" lanjut Praba.
"Ia tak memiliki ayah lagi."
"Kau bisa memberi tahu ini pada Dirga kan?"
Calya terdiam sejenak.
"Bila ku beri tahu, apa semua akan berubah? Tidak kan? Wanita itu juga sedang mengandung. Hal ini justru hanya akan membuat Dirga semakin merasakan dilema. Lagi pula, saya bukan lah istrinya lagi."
"Kamu yakin?" tanya Praba memastikan keputusan Calya.
Wanita itu bangkit untuk duduk, kemudian mengangguk.
"Saya akan pergi hari ini juga. Saya akan melahirkan anak ini tanpa pernah diketahui oleh ayahnya. Saya akan membesarkannya dengan sekuat tenaga." Sengau suara terucap dari mulut Calya yang bergetar karena isak tangisnya.
"Ke mana?" tanya Praba.
"Ke tempat yang nyaman untuk memulai hidup baru," jawab Calya.
"Pulang ke rumah orang tuamu?"
Calya menggeleng. "Tidak. Mereka belum mengetahui perceraian ini."
"Kamu sekuat itu?"
Calya menatap lekat pada Praba. "Sekarang saya memiliki tujuan hidup yang baru. Masa depan anak ini."
Perlahan, Praba mengusap lembut rambut dan wajah Calya. Seakan membantu wanita itu untuk melepaskan kesedihannya, masa lalunya. Membimbing wajah itu untuk menyunggingkan seutas senyum. Menuju masa depan yang diimpikannya.
***
__ADS_1