
Dirga menatap lekat wajah Myesha yang masih tampak santai menanggapinya. Sesaat kemudian, ia kembali bertanya, "Siapa yang lebih dulu menyewa rumah ini? Kamu atau Praba?"
"Ya ampun, Mas Dirga ini kepo banget deh. Ngapain juga perlu tahu sejauh itu? Lagian Mas Dirga ini kan bukan siapa-siapa Mbak Calya lagi," sahut Myesha.
Mendengar nama Calya disebut, Haira terbelalak. Mengapa gadis itu bisa mengenali Calya adalah pertanyaan yang mengusik benak Haira kini.
Sementara itu, Dirga terdiam mendengar pernyataan Myesha yang menghujam baginya. Dia menyadari bahwa adik Calya itu begitu tak menyukainya, tampak dari sorot mata gadis itu.
"Aku hanya ingin memastikan, seperti apa hubungan Praba dan Calya. Sebelumnya mereka mengelak bila telah memiliki hubungan khusus di belakangku, tapi sekarang aku sudah bisa membuktikannya," gumam Dirga.
"APA?! Mas Dirga ini kalau ngomong dijaga ya! Sudah mencampakkan kakak saya, terus mau menuduhnya yang tidak-tidak lagi? Lagian kalau pun sekarang Mbak Calya punya hubungan dengan laki-laki mana pun, itu bukan urusan Mas Dirga lagi. Lebih baik Mas Dirga urusin hidup dan rumah tangga Mas Dirga yang baru saja deh. Hmm ... dari pada Mas Dirga menerka-nerka, nih saya kasi tahu. Jadi, setelah bercerai, Mbak Calya memang ke sini dan tinggal sama Myesha. Lalu Mas Praba itu kenal baik sama pacar Myesha. Dan waktu pindah tugas ke sini, ya secara kebetulan saja kalau Mas Praba bertemu lagi dengan Mbak Calya. Jadi tidak ada yang namanya Mbak Calya selingkuh dengan Mas Praba di belakang Mas Dirga. Tapi, kalau Mas Praba itu adalah masa depan Mbak Calya, itu adalah takdir dan hanya Tuhan yang tahu!"
Mendengar keributan yang terjadi, Pak Nugraha dan Bu Nugraha keluar dan menghampiri Myesha di depan pintu.
"Nak Myesha, ada apa ribut-ribut?" gumam Bu Nugraha.
"Eh ... Ibu ... ini ada tetangga baru mau silahturahmi," jawab Myesha.
Bu Nugraha mengamati wajah Dirga dan Haira. Ia pun mengenali Haira sebagai wanita yang tempo hari berbincang dengan mereka. Bu Nugraha dan suaminya sesaat saling memandang. Mereka pun menyadari bahwa laki-laki yang ada di situ adalah mantan suami Calya.
"Apa ada yang bisa dibantu, Pak, Bu?" tanya Bu Nugraha kemudian pada Dirga dan Haira.
"Ibu dan Bapak ini ...?" tanya Dirga.
"Kami adalah orang tua Praba," jawab Pak Nugraha.
"Oh ... kalian juga tinggal di sini?" tanya Dirga.
"Iya, kami hanya mengunjungi anak kami saja," jawab Pak Nugraha.
"Oh .. saya Dirga, teman kantor Praba. Baiklah, kami pulang saja dulu, Pak, Bu. Sampaikan salam kami untuk Praba," ujar Dirga.
Pak Nugraha dan Bu Nugraha pun memberi anggukan tanda persetujuan. Sementara Myesha masih saja memasang tampang tak suka pada mereka. Dirga dan Haira pun beranjak pergi. Kembali ke rumah mereka.
***
"Calya dan Praba tinggal bersama?" gumam Haira setelah mereka tiba di dalam rumah.
"Kamu kan dengar sendiri tadi, mereka menyewa di rumah yang sama. Myesha itu adik Calya, dan dia memang kuliah di sini," ujar Dirga.
__ADS_1
"Kamu yakin kalau tidak ada hubungan apa-apa di antara mereka?" tanya Haira lagi.
Akan tetapi, Dirga tek mau lagi membahas hal itu. Dia segera berlalu masuk ke dalam dan naik ke lantai atas. Sekali lagi, Dirga berdiri di balkon untuk melihat ke arah rumah itu. Setidaknya untuk memastikan keberadaan Calya di sana.
***
"Mas Dirga tinggal di rumah depan itu, dia pindah tugas di sini," ujar Myesha pada Calya di dalam kamar mereka.
Calya yang sedang menyetrika pakaian kering yang diambilnya tadi pun menghentikan gerakannya.
"Iya, Mbak tahu," jawab Calya.
"Hah? Mbak sudah tahu dia dan istrinya ada di sini dan berada di dekat kita?"
Calya mengangguk. "Praba yang bilang."'
"Tadi mereka ke sini. Mas Dirga ingin memastikan hubungan Mbak Calya dengan Mas Praba."
"Dia melihat saya berada di balkon tadi. Dirga memang mencurigai Mbak menjalin hubungan di belakangnya ketika kami masih tinggal di kota itu. Dirga menuduh Mbak selingkuh," ungkap Calya.
"Ya ampun, Mas Dirga memang benar-benar keterlaluan. Mbak Calya harus bersyukur karena tidak berjodoh dengan dia lagi," ujar Myesha.
Namun, Calya terdiam. Ia hanya memandangi perutnya dan mengusapnya. Melihat hal itu, Myesha pun bisa merasakan kesedihan sang kakak. Bagaimana pun, Myesha menyadari bahwa Calya sedang mengandung anak laki-laki yang kini dibenci oleh Myesha itu.
Calya mendongak pada Myesha. "Kenyataan tidak boleh disembunyikan, Sha. Dirga harus tetap tahu tentang anak ini."
"Bagaimana kalau dia tidak percaya bahwa itu adalah anaknya, Mbak?" tanya Myesha.
"Itu hak dia, Sha. Tak perlu juga untuk memaksanya mempercayai," sahut Calya.
"Tapi ... Mbak bilang kalau istri baru Mas Dirga juga mengandung, bahkan lebih dulu dari Mbak Calya. Apa dia sudah melahirkan?" tanya Myesha lagi.
"Entahlah, Sha. Mungkin saja," sahut Calya.
Myesha pun mulai berpikir untuk mencari tahu tentang hal itu. Baginya, lebih baik bila Dirga tak mengakui anak yang dikandung oleh kakaknya. Ia tak ingin bila lelaki itu terus menjadi bayang-bayang kehidupan Calya.
***
Keeskokan harinya di kantor, Dirga masuk ke dalam ruangan Praba.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Praba menyadari kehadiran Dirga.
"SepertiĀ apa hubungan kalian sekarang?" tanya Dirga sambil tetap berdiri.
"Kenapa?" balas Praba.
"Kamu dan Calya, jujur saja lah," ujar Dirga.
"Untuk apa?" sahut Praba lagi.
"Aku hanya ingin tahu," gumam Dirga.
Praba membuang napasnya. Ia seakan mencoba untuk menahan rasa kesal. Sesaat kemudian ia berdiri, lalu berjalan menghampiri Dirga.
"Apa pun yang akan terjadi pada saya dan Calya, itu bukan lah urusanmu lagi," sahut Praba.
"Berarti benar dugaanku waktu itu?" tanya Dirga sambil memicingkan matanya.
"Bila dugaanmu waktu itu benar, maka Calya tidak akan pernah pergi seorang diri. Saat ini dia semestinya sudah menjadi istri saya. Kalau kamu percaya pada takdir dan karma, dan bahwa Tuhan tidak pernah tidur, maka kamu akan mengerti apa yang sedang terjadi. Saya dan Calya bertemu kembali di kota ini, itu adalah takdir. Sebab, Tuhan tahu bahwa saya adalah kawan yang baik untuk Calya."
"Kamu menyukai Calya?" tanya Dirga sambil menatap lekat mata Praba.
"Dia wanita yang baik, manis, sempurna sebagai seorang istri. Laki-laki mana yang tidak akan merasa beruntung mendapatkan dirinya, terlebih cintanya," jawab Praba.
"Sempurna? Berhentilah sebelum kamu menyesal dan melakukan hal yang sama denganku. Setidaknya, aku tidak mau melihat Calya tersakiti lagi, terlebih oleh orang yang aku kenali," ujar Dirga.
"Apa? Kamu khawatir bila Calya tersakiti? Apa kamu mengatakan ini dalam keadaan sadar atau sedang mabuk, Dir?" sahut Praba.
"Itu lah kenyataannya. Kamu tahu keadaan Calya yang tidak bisa memiliki anak. Apa kamu siap dengan hal itu?" ucap Dirga.
"Kata siapa Calya tidak bisa memiliki anak? Bukankah kalian sudah pernah memeriksakan diri ke dokter? Bukankah dokter mengatakan bahwa keadaan kalian baik-baik saja?" balas Praba.
Dirga terdiam sejenak. "Lalu ... kamu akan tetap bersamanya? "
"Tentu saja, saya akan terus bersamanya, dan menjaganya. Saya tidak akan pernah melakukan apa yang pernah mantan suaminya lakukan padanya," ujar Praba.
"Kamu yakin? Sebagai apa? Kawan atau ...."
"Iya. Bila waktunya sudah tiba, saya pasti akan menikah dengannya."
__ADS_1
Jawaban Praba mengguncangkan nurani Dirga. Bagaimana pun, jauh di lubuk hatinya, ia merasakan sesuatu. Ada rasa tak terima bila Calya akan bersama dengan lelaki lain. Dirga merasa cemburu.
***~~~~