
Hambar. Mungkin itulah kata yang bisa mendefinisikan suasana pernikahan Dirga dan Haira
kini. Meskipun Haira sudah berusaha sebisa mungkin untuk melayaninya sebagai
seorang istri. Cinta. Kata itu seakan tak membingkai rumah tangga itu lagi.
Pagi ini, Dirga duduk di bangku yang ada di depan rumahnya. Ia memandangi burung-burung di atas
pohon yang beterbangan dari ranting yang satu ke ranting yang lainnya.
Pikirannya pun melayang jauh ke masa di mana ia bertemu Calya. Wanita sederhana
yang mampu mencuri hatinya, meyakinkan dirinya untuk membina rumah tangga
bersama.
Dahulu, meskipun tanpa kehadiran seorang anak, Dirga merasa tak kesepian. Hatinya tetap
utuh karena masih terisi cinta Calya. Namun, kini hatinya kosong tanpa cinta.
Sepi pun bergentanyangan menghantui hari-harinya.
"Dir... barusan Papa telepon," seru Haira yang baru saja keluar dari dalam
rumah.Wajahnya tampak semringah.
Dirga menoleh. "Kenapa?"
"Papa bilang kalau dia sudah mengurus kepindahan kita ke Jawa," ujar Haira.
"Jawa mana?" tanya Dirga.
"Entahlah, Papa bilang yang penting di Pulau Jawa supaya mereka bisa mengunjungi kita kapan saja," jawab Haira.
Dirga kembali melempar pandangannya ke atas pohon, sedangkan Haira kini sudah berada
di dekat Dirga. Wanita itu pun meletakkan pantatnya di samping sang suami.
"Kamu kok kelihatan biasa saja?" tanya Haira.
"Memangnya harus bagaimana?" tanya Dirga tanpa berpaling pada Haira.
"Ya harusnya senang dong, bisa bertugas di Pulau Jawa," ujar Haira.
"Saya kan sudah hiasa bertugas di luar Jawa, Ra, jadi ya biasa saja. Dulu, Calya
tidak pernah mengeluh, bertugas di mana saja, dia pasti akan ikut."
Mendengar perkataan Dirga, Haira membesarkan bola matanya. "Apaan sih kamu, Dir?
Sampai kapan kamu akan terus menyebut nama perempuan itu? Apa kamu lupa kalau
dia itu perempuan yang jahat? Yang mau menyakiti aku dan anak kita? Perempuan
yang justru berselingkuh di belakangmu?"
Dirga terdiam sejenak. Bayang-bayang kejadian yang memicu dirinya untuk menceraikan
Calya itu kembali terlintas. Namun, di dalam hati dia bertanya-tanya, 'Apakah
hal itu memang benar terjadi? Apakah Calya memang telah mengkhianatinya kala
itu? Ataukah hatinya yang terlalu senang akan kehadiran anak yang akan
diberikan oleh Haira, sehingga menganggap Calya begitu buruk dan tak berarti''.
Dirga memejamkan kedua matanya beberapa saat, kemudian berdiri. "Aku mau
mandi," ujarnya sambil berlalu memasuki rumah.
***
Dua minggu kemudian, surat mutasi Dirga sudah berada di tangannya.
“Yogyakarta...,” desis Dirga setelah melipat kembali kertas berwarna kuning yang dibacanya
tadi.
Tak lama kemudian telepon genggan Dirga berdering. Nama sang ibu tertera di layarnya.
“Halo, Bu,”sapa Dirga.
“Nak, Ibu dengar dari Bu Broto katanya kalian akan pindah ke Pulau Jawa?”
__ADS_1
“Iya, Bu. Dirga baru saja menerima surat mutasi,” sahut Dirga.
“Oh ya? Syukurlah kalau begitu, Nak. Di Jawa mana? Surabaya kah?”
“Bukan, Bu. Jogja,” jawab Dirga.
“Jogja? Oh ... tidak apa-apa lah, Nak. Jogja pun bagus. Kalian bisa pulang ke Surabaya
kapan pun. Ibu dan Bapak merasa senang sekali mendengarnya.”
“Iya, Bu. Ibu dan Bapak sehat-sehat saja kan?” tanya Dirga.
Bu Edy hening sejenak. Ia menyadari bahwa hidup mereka kini sedang tak baik-baik saja.
Apa yang telah terjadi pada Haira telah membawa keadaan mereka menjadi seperti
itu.
“Iya, Nak. Bapak dan Ibu baik-baik saja. Kamu sendiri bagaimana?”
“Entahlah, Bu. Secara fisik Dirga memang baik-baik saja, tapi tak tahu dengan batin Dirga.”
“Apa maksudmu, Nak?” lirih suara Bu Edy.
“Ibu tahu apa maksud Dirga.”
Bu Edy tak mampu berkata lagi. Hanya bulir bening yang kini menetes dari matanya,
sebab ia tahu bahwa putranya sedang tak bahagia.
***
Hari ini, Dirga dan Haira telah bersiap untuk berangkat. Sebelum menuju Yogyakarta,
mereka akan pulang ke Surabaya dulu. Bu Heri dan Bu Dito datang ke rumah dinas
mereka untuk mengucapkan salam perpisahan. Namun, tentu juga dengan tujuan yang
lain.
“Bu Dirga, tas-tas dan baju-bajunya dibawa semua ya?” tanya Bu Heri.
“Oh tidak kok. Ada juga yang saya tinggalkan untuk Bu Heri dan Bu Dito,” ujar Haira
itu.
“Wah ... terima kasih ya Bu Dirga. Semoga makin banyak rezekinya, dan juga segera
diberikan momongan lagi,” ujar Bu Heri.
“Iya dong, Bu Heri. Bu Dirga yang ini kan subur, buka sitik langsung jos. Gak kayak
Bu Dirga yang sebelumnya, yang katanya mandul itu. Iya kan, Bu Dirga?” timapl
Bu Dito.
Mendengar percakapan ibu-ibu itu, Dirga pun menghampiri mereka.
“Apa? Siapa yang bilang istri pertama saya mandul? Dokter tidak pernah mengatakan hal
itu, lalu mengapa kalian bilang begitu?” ujar Dirga geram.
“Waduh, Pak Dirga kok begitu. Lha kenyataannya kan begitu. Lagipula yang bilang kan
istri Bapak sendiri, Bu Dirga yang baru ini,” sahut Bu Heri.
“Iya, katanya karena Bu Dirga yang dulu itu mandul, makanya Bapak menikahi Bu Dirga
yang sekarang. Lalu ... katanya juga, Bu Calya itu berselingkuh ya? Punya pria
idaman lain begitu?” timpal Bu Dito.
Dirga menoleh pada Haira. Ia tak mampu berkata lagi, hanya beranjak mengambil
kopernya lalu membawanya ke luar dan memasukkannya ke dalam mobil yang akan
mereka sewa menuju bandara.
“Em ... Ibu-ibu, terima kasih ya sudah datang. Sekarang kami akan pergi,” ucap Haira.
“Oh iya, baiklah. Hati-hati ya, semoga tiba dengan selamat di tempat tugas yang baru.”
Bu Heri dan Bu Dito bergantian memeluk Haira.
__ADS_1
“Oh iya, satu lagi, Bu Dirga,” ujar Bu Dito.
“Apa lagi, Bu Dito?” tanya Haira.
“Pak Praba juga kemarin kan pindah ke Jogja. Kalau bertemu dengan dia, tolong
sampaikan salam kami ya. Pak Praba itu kan duda keren dan ganteng, Bu. Dia juga
sangat baik dan ramah. Uh ... jadi kangen deh sama dia,” sahut Bu Dito.
“Ya ampun, Bu Dito ini. Malu-maluin saja deh!” gerutu Bu Heri.
“Ah, bilang saja kalau Bu Heri juga pengen disampaikan salamnya,” ujar Bu Dito.
“Hehehe ... iya sih,” gumam Bu Heri.
Dirga yang telah kembali ke dalam rumah untuk mengambil tas yang lain, mendengar
obrolan tentang Praba itu. Ia pun teringat bahwa memang benar bila Praba juga
sekarang bertugas di kota itu. Ia teringat bagaimana pertengkarannya dengan
lelaki itu. Bagaimana ia mencurigainya telah menjalin hubungan dengan Calya,
mantan istrinya.
“Ayo, Ra. Sudah waktunya berangkat,” ujar Dirga sambil kembali mengangkat sebuah tas,
lalu berjalan memasuki mobil.
Haira pun kembali berpamitan dengan kedua temannya itu, lalu berjalan mengikuti Dirga
memasuki mobil yang membawa mereka ke bandara, dan selanjutnya pergi
meninggalkan kota itu dengan pesawat terbang menuju ke Surabaya.
Sambil menatap ke arah jendela pesawat, Dirga memandangi kota kecil yang baru saja ia
tinggalkan itu, seiring semakin menukik tingginya laju pesawat.
Ia masih ingat, bagaimana ia pertama kali menginjakkan kaki di kota itu bersama Calya.
Wanita yang dinikahinya itu telah mengantarnya pada jenjang karir yang baik.
Namun, di kota kecil itu juga jalinan ikatan pernikahan mereka harus berakhir.
Dirga menghela napas berat. Meninggalkan kota kecil itu seakan meninggalkan luka yang
begitu dalam baginya. Sebuah luka yang membawanya pada kerinduan akan masa
lalu. Seandainya waktu bisa diputar kembali, maka lelaki itu ingin mengulang
semua kejadian. Kembali ke masa bahagia yang pernah direngkuhnya bersama Calya.
Namun, semua telah terjadi, meski di hati kecilnya rasa rindu itu belum benar-benar
padam.
Kini, di sisinya telah ada wanita lain. Wanita yang mau tidak mau harus tetap diakuinya
sebagai seorang istri, bagaimana pun keadaannya.
Beberapa jam perjalanan akhirnya mengantarkan mereka sampai di bandara Surabaya. Pak
Broto lah yang menjemput dan hendak membawa mereka ke rumahnya. Namun, di
perjalanan Dirga meminta untuk diantarkan ke rumah orang tuanya saja.
“Dirga akan tinggal di rumah orang tua Dirga, Pa. Terserah Haira bila dia mau tinggal
di rumah Papa,” ujar Dirga.
Mendengar ucapan sang suami, sejenak Haira terdiam. Untuk kenyamanannya, ia pasti lebih
memilih untuk tinggal di rumah orang tuanya. Akan tetapi, demi untuk bisa mendapatkan
hati dan cinta sang suami lagi, maka ia harus mengikut di mana imamnya itu
berada.
“Haira akan ikut bersama Dirga, Pa,” sahut Haira.
***
__ADS_1