
Pak Edy dan Bu Edy telah tiba di rumah sakit. Bergegas mereka menuju ke ruang rawat inap Haira. Sementara itu, Bu Broto sudah tak ingin dirawat lagi. Ia ingin bisa mendampingi sang putri.
Di ruang rawat inap itu, Pak Broto dan keluarganya masih terus menghibur Haira yang bersedih setelah kehilangan bayinya. Namun, mereka masih belum mengatakan perihal Haira yang telah kehilangan rahimnya.
Tok tok tok
Pak Edy dan Bu Edy muncul dari balik pintu.
"Haira ...," gumam Bu Edy sambil berlari menuju tempat tidur Haira
"Bagaimana keadaanmu, Nak?" tanya Bu Edy pada Haira.
"Bayi Haira, Bu ...." Haira tak mampu melanjutkan kata-katanya, tangisan lah yang kembali terdengar.
"Ada apa dengan bayimu? Katakanlah, Nak," tanya Bu Edy lagi.
"Haira kehilangan bayinya." Pak Broto yang menjawab.
Pak Edy dan sang istri terkejut mendengar hal itu. Rasanya tak percaya bila keturunan yang sudah lama dinanti, kini telah pergi. Padahal, baru saja kebahagiaan itu akan mereka rengkuh, tetapi sekarang harus berganti nestapa.
"Innalilahi wa innailaihi raji'un," ucap Pak Edy.
"Saya harap, kita semua bisa menerima kenyataan ini. Jangan menjadikannya hal yang justru bisa membuat Haira semakin terpuruk," gumam Pak Broto.
"Iya, benar ... sekarang yang terpenting adalah kesembuhan Haira. Kita semua harus mendukung Haira supaya tetap semangat agar segera pulih."
"Di mana Dirga?" tanya Haira.
"Dia sudah dalam perjalanan. Sore nanti, Dirga akan sampai. Sekarang berisitirahat lah dulu, tenangkan hatimu, Nak," ucap Pak Edy pada Haira.
***
Sesampai di bandara, Dirga langsung mengambil taksi menuju ke rumah sakit. Hari sudah sore, tetapi semua orang masih lengkap berada di situ untuk menunggu kedatangan Dirga.
Terdengar suara pintu dibuka. Dirga muncul dan segera masuk menghampiri tempat tidur Haira.
"Apa yang terjadi?" tanya Dirga.
"Kak Haira kecelakaan di mall," sahut Mirna.
__ADS_1
"Mall?" tanya Dirga.
"Iya, semalam aku dan Kak Haira ke mall," jawab Mirna.
"Apa?" tanya Bu Edy kaget.
Saat itu juga Mirna tersadar bahwa ia telah mengungkapkan sesuatu yang tak diketahui oleh kedua orang tua Dirga.
"M maaf, Bu ...," ujar Mirna.
"Sudahlah, kecelakaan itu sudah terjadi. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana supaya Haira segera sembuh," sahut Pak Broto.
Pak Edy dan Bu Edy pun terdiam. Mereka menyadari bahwa semalam Haira telah berdusta pada mereka. Namun, memang benar, tak ada gunanya mempermasalahkan hal itu sekarang.
***
Seminggu dirawat di rumah sakit, Haira sudah diperbolehkan untuk pulang. Dirga dan Mirna yang menjemputnya, sedangkan orang tua mereka menunggu di rumah.
Malam ini, keluarga Broto mengadakan makan malam dalam rangka menyambut kepulangan Haira yang disertai dengan kesembuhannya. Di dalam kamar, Pak Broto dan Bu Broto sedang bersiap-siap.
"Pa ... apakah kita akan mengatakan semuanya pada Haira, Dirga dan orang tuanya?" tanya Bu Broto pada sang suami.
Pak Broto tergugu. Ia hanya bisa menarik napas, tanpa tahu harus berkata apa.
"Sepertinya ... sekarang bukanlah waktu yang tepat, Ma. Haira masih shock dengan kehilangan bayinya. Sekarang kita harus membahagiakan hatinya dulu. Jangan malah membuat dia semakin depresi," sahut Pak Broto.
Sang istri pun mengangguk. Ia menyetujui saran sang suami. Bagaimanapun, mereka sudah berjuang terlalu banyak untuk kesembuhan dan kebahagiaan putri mereka itu, sampai-sampai harus mengorbankan perasaan wanita lain.
Acara makan malam pun berlangsung.
"Ayo, Nak Haira harus makan yang banyak supaya kondisinya cepat pulih dan bisa kembali ke tempat tugas Dirga lagi," ucap Pak Edy dengan senyum ramahnya.
"Iya, benar ... nanti di sana kalian kan bisa bulan madu lagi. Terus, Haira bisa hamil lagi," timpal Bu Edy.
Haira tersenyum mendengar hal itu.
"Tentu saja, Bu, Pak. Setelah ini Haira pasti akan segera mengandung lagi. Haira pasti akan memberikan keturunan untuk Dirga," sahut Haira.
Pak Edy dan Bu Edy menyambut ucapan Haira dengan decak girang. Sementara Pak Broto dan Bu Broto saling berpandangan dalam kebimbangan dan kekhawatiran.
__ADS_1
"Sebaiknya ... kita tidak perlu membahas masalah anak dulu. Soal anak, bukankah itu urusan Yang Maha Kuasa. Bila ... setelah ini Dirga dan Haira tak langsung diberikan momongan, bukankah sebagai manusia kita hanya bisa bersabar dan menerimanya?" Pak Broto berujar.
"Ya ampun, Pak Broto, kalau soal kesabaran, kami sudah melaluinya saat Dirga menikah dengan istri pertamanya. Dua tahun kami menunggu kehadiran cucu, tapi dia tak juga memberikannya. Sementara Haira, begitu menjadi istri Dirga, bisa langsung mewujudkan mimpi kami," sahut Bu Edy.
"Benar ... Haira mungkin adalah menantu yang dikirimkan oleh Tuhan untuk memberikan penerus keluarga kami," timpal Pak Edy.
"Tentu saja ... Haira pasti akan melahirkan anak yang banyak untuk menjadi cucu Ibu dan Bapak," sambung Haira.
"Berhentilah membicarakan hal itu!" Bu Broto bersuara.
"Mama?" desis Haira.
"Putri kami bukanlah mesin pencetak cucu bagi kalian. Putri kami adalah menantu yang seharusnya kalian sayangi bagaimanapun keadaannya. Mau melahirkan anak atau tidak, Haira sudah menjadi istri sah Dirga. Dirga harus tetap menyayangi dan menjaga Haira sampai kapan pun, meski dengan atau tanpa anak," Bu Broto berucap dengan emosi yang membuncah.
"Ma ...," desis Pak Broto.
"Iya, kita memang harus mengatakan itu. Anak kita ini manusia, bukan mesin seperti yang mereka harapkan," sahut Bu Broto.
"Mama kok jadi sensi begini sih?" gerutu Haira.
"Sebenarnya, ada apa dengan Bu Broto?" tanya Bu Edy.
"Kami ini keluarga terpandang, semestinya Haira menjadi menantu kalian saja, kalian sudah senang. Jadi, tidak usahlah mengharap yang lebih lagi padanya," ujar Bu Broto.
"Apa maksud Bu Broto? Memangnya apa yang kami harapkan? Cucu adalah hal yang wajar diinginkan oleh para orang tua," sahut Bu Edy.
"Tapi nyatanya Haira sudah tidak bisa lagi memberikan cucu untuk kalian!" Bu Broto berteriak.
Teriakan yang mengguncang perasaan banyak orang yang ada di meja makan itu.
"Mama!" pekik Pak Broto.
"Sudahlah, Pa ... bilang saja, bilang sama mereka. Mereka mau apa kalau mengetahui hal ini? Yang jelas mereka tidak akan bisa begitu saja menyingkirkan Haira seperti yang mereka lakukan pada menantu mereka yang sebelumnya," ucap Bu Broto.
"Ma ... Pa ... sebenarnya apa yang sedang kalian bicarakan?" Haira bersuara.
"Kak ... ayo kita ke kamar saja. Kakak masih perlu istirahat." Mirna menghampiri kursi sang kakak.
"Tidak, Mir. Aku benar-benar bingung dengan perkataan Mama. Apa kamu juga tahu sesuatu? Apa kalian sedang menyembunyikan sesuatu dariku? Apa yang sebenarnya terjadi? Katakan!" Haira memekik.
__ADS_1
Sejenak, suasana menjadi hening. Pak Broto tak sanggup untuk mengatakan kenyataan bahwa sang putri tidak akan pernah bisa melahirkan seorang anak pun.
***