Sengketa Hati (CALYA)

Sengketa Hati (CALYA)
Kehadiran Anela


__ADS_3

Pagi ini, Bu Darmawan akan pergi berbelanja ke pasar. Tujuannya juga untuk mencari makanan khas kota itu untuk dibawanya saat berangkat ke Jogja nanti. Sebab, ia tahu, bahwa kedua orang tua Praba juga berniat untuk datang ke sana saat Calya akan bersalin.


Setelah usai berbelanja, Bu Darmawan kini menenteng dua keranjang di kedua tangannya. Karena merasa sedikit lelah, ia pun tak lagi sempat melihat ke kiri dan kanan saat akan menyeberangi jalan pasar itu. Dan akhirnya, sebuah motor yang tiba-tiba lewat pun menyambar Bu Darmawan hingga ia terjatuh bersama semua barang bawaannya itu.


Tepat di saat itu, seorang wanita yang sedang mengendarai motornya berhenti di tempat itu. Dia pun segera berlari menghampiri Bu Darmawan.


"Bu ... Ibu tidak apa-apa? Mari saya bantu berdiri," ujar wanita itu sambil meraih tangan Bu Darmawan dan memapahnya untuk berdiri.


"Terima kasih, Nak. Kaki Ibu hanya luka sedikit. Tapi barang-barang Ibu pada tumpah," sahut Bu Darmawan setelah berdiri.


Wanita itu pun segera memunguti barang belanjaan Bu Darmawan dan memasukkannya kembali ke dalam keranjang.


"Rumah Ibu di mana? Biar saya antar," sahut wanita itu.


"Ah ... tidak usah repot-repot, Nak. Biar Ibu pulang naik kendaraan umum saja," ujar Bu Darmawan.


"Kaki Ibu kan masih sakit, kalau naik kendaraan umum nanti Ibu malah kesulitan, apalagi dengan barang-barang sebanyak ini. Ayo, biar saya antar saja," ucap wanita itu lagi.


Bu Darmawan menatap sejenak pada wanita berparas cantik itu, lalu mengangguk.


"Baiklah, Nak. Sekali lagi terima kasih ya."


Wanita itu pun tersenyum lalu mengangkat barang-barang Bu Darmawan ke atas motornya, dan meletakkannya di bagian depan. Selanjutnya ia pun menaiki motornya, kemudian disusul oleh Bu Darmawan.


Dengan petunjuk jalan dari Bu Darmawan, wanita itu pun bergegas melajukan motornya ke rumah Bu Darmawan.


Sesampai di sana, Bu Darmawan turun dan menawari wanita itu untuk masuk. Namun, ia menolak dan berpamitan untuk pergi.


Akan tetapi, saat dia kembali naik ke motornya, pandangannya menoleh pada warung kopi yang ada di depan rumah Bu Darmawan.


"Warung kopi Raindra?" desis wanita itu.


"Ada apa, Nak?" tanya Bu Darmawan.


Wanita itu kembali menoleh pada Bu Darmawan.


"Em ... Bu warung kopi itu punya siapa ya?" tanya wanita itu.

__ADS_1


"Oh itu punya Nak Raindra. Belum lama dibuka," jawab Bu Darmawan.


"Raindra? Nama pemiliknya Raindra?" tanya wanita itu memastikan.


Bu Darmawan mengangguk. "Iya. Memangnya kenapa, Nak?"


"Oh tidak. Tidak apa-apa. Em ... Bu, maaf, apakah tawaran Ibu tadi masih berlaku? Saya sangat haus, apakah saya boleh mampu dan minta air minum?" tanya wanita itu.


Bu Darmawan kembali mengangguk.


"Iya, tentu saja, Nak. Mari masuk."


Mereka pun melangkah memasuki rumah. Wanita itu kembali membantu Bu Darmawan membawakan barang bawaannya sampai ke dalam ruang tamu.


Bu Darmawan pun masuk ke ruangan dalam untuk membuatkan minuman bagi tamunya itu. Sementara wanita itu kini berdiri sambil mengamati foto-foto yang ada di ruang tamu.


"Calya ...," desisnya setelah melihat foto Calya berada di sana.


"Raindra pindah ke sini, dan tinggal di dekat rumah keluarga Calya?" ucap wanita itu lagi seorang diri.


"Mari, silakan diminum, Nak. Kok berdiri saja, ayo duduk di sini," ujar Bu Darmawan sambil meletakkan gelas itu di atas meja.


Wanita itu pun menurut, dan duduk di sebuah sofa.


"Terima kasih ya, Bu," sahutnya sambil meraih gelas itu dan menyeruput isinya.


Bu Darmawan membalas dengan senyuman, kemudian berkata, "Oh ya, nama Mbak ini siapa ya? Saya Bu Darmawan."


"Oh ... nama saya Anela, Bu," jawab wanita yang adalah Anela itu.


"Oh iya. Lalu Nak Anela ini tinggal di mana? Kelihatannya dari dialeknya, Nak Anela ini bukan asli sini ya?" tanya Bu Darmawan.


"Anela masih tinggal di penginapan untuk sementara, Bu. Anela masih mencari-cari rumah untuk tempat tinggal dan usaha. Anela memang baru tiba di sini beberapa hari yang lalu. Sebelumnya, Anela tinggal di Jogja. Tapi ... waktu SMA, Anela dan keluarga pernah tinggal di kota ini," jelas Anela.


"Oh begitu ... lalu sekarang Anela ke sini sendiri ya? Untuk apa?" tanya Bu Darmawan lagi.


"Iya ... Anela ingin belajar hidup mandiri. Anela mau coba buka usaha di sini, karena kota ini sekarang kan sedang berkembang," ujar Anela.

__ADS_1


"Wah ... Nak Anela pindah dari Jogja ke sini meninggalkan keluarga untuk membuka usaha. Sementara anak-anak Ibu sekarang berada di Jogja dan membuka usaha di sana," ujar Bu Darmawan.


"Oh ya? Anak-anak Ibu yang difoto itu?" tanya Anela sambil menunjuk ke foto keluarga yang ada di dinding.


Bu Darmawan menyahutinya dengan anggukan.


Sementara Anela kembali teringat ke saat di mana dia mendapati Raindra sedang menyatakan perasaannya pada Calya. Hari di mana ia memecat Calya, dan bertengkar dengan Raindra. Hari kelam baginya, sebab di saat itu pria yang dicintainya itu memutuskan untuk pergi meninggalkan dirinya.


Anela tertegun sesaat, sebelum kembali berkata, "Anak-anak Ibu buka usaha apa di Jogja?"


"Usaha kuliner lewat online. Ya ... sekarang hasilnya lumayan, bisa mencukupi kebutuhan hidup mereka. Minggu depan Ibu mau ke sana, karena putri pertama Ibu akan melahirkan," sahut Bu Darmawan.


"Oh ... begitu?"


Anela kembali teringat bila Calya memang sedang mengandung. Namun, ia kembali berpikir tentang kehadiran Raindra di sini yang mengartikan bahwa Calya dan Raindra memang tidak berada di tempat yang sama.


Di dalam hati, wanita itu merasa menyesal atas kecemburuannya kala itu, sehingga dia harus kehilangan perhatian Raindra.


"Bu ... saya ingin jalan-jalan ke warung kopi di depan rumah Ibu itu. Sekalian saya permisi ya, Bu. Terima kasih untuk minumannya," ujar Anela.


"Iya, Nak. Ibu juga terima kasih atas bantuannya. Kamu ini wanita yang baik, semoga segera dapat tempat untuk usaha, dan semua berjalan lancar ya," sahut Bu Darmawan.


Anela pun beranjak pergi dari rumah itu, kemudian menyeberangi jalan menuju ke warung kopi milik Raindra.


Di sana, ia duduk di sebuah kursi. Tak lama kemudian Anton menghampirinya dan menawarkan sebuah daftar menu. Karena hari masih pagi, tentu saja pengunjung warung kopi itu belum ramai, sehingga hanya Anela yang berada di situ.


Setelah melihat sejenak, Anela pun memesan segelas jus alpukat. Sementara Anton menuju ke pantry untuk menyerahkan pesanan pada Raindra, Anela melihat-lihat ke sekeliling warung kopi itu. Dia bisa merasakan dari penataan interiornya, pemilik tempat ini adalah Raindra yang dikenalnya itu.


Tak berselang lama, Anton kembali datang untuk mengantarkan pesanan Anela. Sementara itu di pantry, Raindra baru saja usai menyiapkan bahan-bahan makanan untuk hari ini. Dia pun memutuskan untuk kembali ke meja kasir.


Dari meja itu, dia bisa melihat jelas ke meja para pengunjung. Dan kehadiran Anela di warung kopinya tentu saja membuat Raindra sedikit tersentak, meskipun dia sudah tahu bila Anela berada di kota ini.


"Anela?" desis Raindra.


Wanita itu pun menatap lurus pada Raindra, sambil mengurai senyum manisnya.


***

__ADS_1


__ADS_2