Sengketa Hati (CALYA)

Sengketa Hati (CALYA)
Akhir Cerita


__ADS_3

Calya memandang wajah lelaki yang ada di depannya itu. Kesungguhan yang terpancar dari manik matanya membuat Calya terkesiap.


Wanita itu seakan tak mampu berkata, hanya sebuah anggukan yang diberikannya disertai binar mata yang berkaca-kaca.


"Artinya?" tanya Praba memastikan arti bahasa tubuh itu.


"Iya ... saya bersedia ... saya mau menjadi pendamping hidupnya. Bukan lagi sebagai sahabat, tetapi lebih dari itu, saya mau mendampinginya hingga nanti," sahut Calya.


"Sungguh?"


Calya kembali mengangguk.


Saking bahagianya, Praba bergegas merengkuh tubuh wanita itu, membawanya ke dalam pelukannya.


***


Acara akikah bayi Andaka pun berlangsung. Dirga, Haira, dan kedua orang tua mereka turut hadir. Seperti bayi yang baru lahir, bersih tak bernoda, begitu lah suasana yang terjadi kini. Baik Calya maupun Dirga tak lagi saling menyimpan rasa apa pun. Mereka hanya menempatkan diri sebagai orang tua bagi Andaka.


Hingga saat acara selesai, di depan orang tuanya, keluarga Calya, dan keluarga Dirga, Praba pun mengungkapkan tentang niatnya untuk memperistri Calya.


"Saya dan Calya akan segera melangsungkan pernikahan," ujar Praba sambil meraih jemari Calya.


Sejenak, semua orang tampak kaget. Namun, tak berselang lama, keriuhan karena ekspresi bahagia tampak di wajah mereka.


Bu Darmawan bergegas menghampiri putrinya dan memeluknya. Wanita itu sudah pasti yang paling bahagia dengan keputusan sang putri yang akan mengakhiri masa jandanya.


***


Di kota lain, pagi ini Raindra yang sedang mempersiapkan bukanya warung kopinya tiba-tiba kaget dengan kehadiran sebuah mobil bak terbuka yang berhenti tepat di samping kediamannya itu. Lelaki itu pun berjalan ke luar untuk melihat apa yang terjadi.


Beberapa orang turun dari mobil yang bermuatan berbagai perabotan rumah tangga itu. Sejurus kemudian mereka bergegas mengangkat barang-barang yang ada di sana ke dalam rumah yang berada tepat di samping rumah Raindra.


Raindra pun berpikir bila ada penghuni baru di rumah yang memang dikontrakkan itu. Penghuninya baru saja pindah ke kota lain beberapa hari yang lalu.


Namun, saat dia hendak masuk kembali ke dalam warung kopinya, Raindra terkesiap atas kedatangan seorang wanita dengan menggunakan sepeda motor. Raindra pun menghentikan langkahnya, kemudian menoleh pada sosok yang baru datang itu.


"Anela?" desis Raindra saat melihat wanita itu melepaskan helm-nya.


Raindra pun kembali melangkah ke luar rumah.


Menyadari kedatangan Raindra, Anela pun melihat ke arah lelaki itu.


"Hai, Rain ...!" seru Anela.

__ADS_1


"Kamu ... kamu akan tinggal di rumah itu?" tanya Raindra.


Anela mengangguk. "Iya. Kebetulan setelah beberapa lama mencari rumah, ya ketemu iklan rumah ini," sahut Anela.


"Oh ...," ucap Raindra.


Lelaki itu kembali melihat ke arah orang-orang yang sedang mengangkat barang-barang itu, kemudian menoleh pada Anela.


"Aku masuk dulu ya," ujarnya kemudian sebelum berlalu pergi.


***


Setelah beberapa hari menempati rumah barunya, Anela tampak sibuk dengan kegiatan menata rumah. Apalagi, dia berencana untuk membuka sebuah usaha kuliner di rumah itu. Dengan bekal pengalaman membuka sebuah kafe, Anela merasa usaha kuliner lah yang bisa dilakukannya di tempat perantauannya itu.


Akan tetapi, usaha kuliner kali ini berbeda dengan sebelumnya. Bila dulu ia bisa membuka kafe berukuran besar dengan hidangan menu kelas menengah ke atas, maka kini Anela hanya akan berjualan makanan rumahan yang menyerupai sebuah warteg.


Sampai saat semuanya telah siap, Anela pun mulai membuka warung makannya itu. Berhubung karena lokasi perumahan itu memang terbilang cukup ramai, maka tak perlu waktu lama bagi Anela hingga warung makannya itu dikenal oleh masyarakat sekitar.


Sampai dua minggu kemudian, saat Anela akan menutup warungnya, Raindra datang ke rumah Anela.


"Gimana warungnya?" tanya Raindra.


"Eh ... Rain, ayuk masuk dulu, ngobrol di dalam," ujar Anela.


"Di luar saja, Nel, sambil duduk-duduk menghirup udara malam," ucap Raindra.


"Jadi gimana warungnya?" tanya Raindra lagi.


"Ya lumayan, Rain. Kebanyakan kan pada bungkus buat lauk di rumah. Ya, kan yang saya jual menu sehari-hari, kayak tahu tempe, ikan, sayur nangka, tumis kangkung, sambal goreng, jadi ya yang makan di sini jarang, kebanyakan dibawa pulang. Kayaknya ibu-ibu lagi pada jarang masak di rumahnya, jadi pada beli,"


"Kamu memasak dan ngelayani pembeli sendiri?" tanya Raindra.


"Iya, masaknya gak banyak-banyak juga kok, untuk setiap menu," ujar Anela.


"Kamu gak capek? Di kafe kan tinggal perintah saja, banyak pekerja," ucap Raindra lagi.


Anela menggeleng. "Sama sekali tidak. Justru entah kenapa, rasanya begitu menyenangkan."


"Oh ya?"


Anela bisa merasakan keraguan Raindra saat mengatakan hal itu.


"Semua orang bisa berubah kan, Rain?" ujar Anela.

__ADS_1


Raindra menoleh pada Anela.


"Aku hanya ingin menjadi lebih baik lagi. Berusaha dari awal lagi. Menjadi manusia yang lebih bersyukur. Keuntungan yang saya dapatkan memang tidak seberapa, tapi entah kenapa rasa syukur yang aku rasakan sungguh luar biasa," ucap Anela lagi.


"Hmm ... ya, memang seperti itu. Aku juga merasakan begitu," sahut Raindra.


"Kafe-mu juga tambah ramai saja ya? Kebanyakan yang datang cewek-cewek ABG," ujar Anela.


Raindra tertawa kecil. "Iya ... mereka pengen ketemu sama Anton kayaknya."


"Em ... Anton apa kamu?" goda Anela.


"Ah ... ada-ada saja," ujar Raindra.


"Yang punya warkop keren sih," ujar Anela lagi.


"Tidak lama lagi, di warung kamu juga bakal banyak dikunjungi sama pembeli cowok," ujar Raindra.


"Ya, gak mungkin lah. Jualan aku kan menu untuk emak-emak," sahut Anela.


"Ya, bisa saja kan pada modus," sahut Raindra.


"Modus? Buat apa?" tanya Myesha bingung.


"Ya supaya bisa ketemu sama yang jualan," ujar Raindra.


"Hmm ...." Anela hanya berdehem.


Tak lama kemudian, mereka berdua tertawa bersama.


"Sekarang kita kok jadi aneh ya?" gumam Raindra kemudian.


"Aneh bagaimana?" tanya Anela.


"Em ... ya aneh saja. Kayak baru kenal gitu," sahut Raindra.


"Ya ... anggap saja begitu. Bukannya malah lebih baik?" ucap Anela.


Raindra kembali menoleh pada Anela. Kemudian mengangguk.


"Ya ... benar."


Kedua insan itu mengobrol hingga malam semakin larut. Seakan baru saling mengenal, mereka memperbincangkan banyak hal, layaknya sepasang kawan baru.

__ADS_1


Seperti itu lah hubungan yang mereka pilih. Tak ada lagi beban akan kisah masa lalu. Sebuah lembaran hubungan baru telah sepakat mereka buka, dan mengisinya bersama dengan rangkaian cerita pertemanan.


Ya ... malam ini, mereka telah sepakat untuk menjalin hubungan pertemanan biasa tanpa memaksakan rasa satu sama lain. Selanjutnya, mereka menyerahkan pada waktu dan takdir, yang entah kapan akan memberi jawaban, akan berakhir seperti apa hubungan itu.


__ADS_2