
"Praba ...." Calya terkejut melihat kedatangan Praba.
Sontak ia menoleh pada Myesha. Ia tahu bahwa sang adik lah yang pasti menghubungi pria itu.
"Eh, Nak Praba. Kok tumben pagi begini ke sini?" ujar Pak Darmawan.
"Iya, Pak. Praba dengar kalau Calya mau pindah rumah lagi, jadi saya datang membantu," jawab Praba.
"Wah jadi merepotkan," sahut Pak Darmawan lagi.
"Saya sudah menghubungi kendaraan untuk mengangkut barang-barang, sebentar lagi akan datang. Rumah kontrakannya juga sudah siap," sambung Praba.
"Rumah kontrakan?" tanya Calya.
"Iya, kebetulan beberapa hari yang lalu saya sudah mendapatkan sebuah rumah untuk saya tempati. Selama ini, saya kan masih menumpang di rumah keluarga Bagas. Rencananya, Sabtu besok baru mau pindahan. Tapi ... sekarang rumah itu untuk kalian tempati saja. Saya bisa mencari lagi rumah yang lain nanti," ujar Praba.
Calya tampak akan menyahutinya. Akan tetapi pria itu segera menghampiri tumpukan barang dan mengangkatnya menuju ke luar rumah.
"Ayo, Gas, bantuin angkat ke luar!" seru Praba pada Bagas.
Bagas pun menuruti perkataan Praba. Bergegas membantunya menuntaskan pekerjaan itu. Calya kini mengurungkan niatnya untuk menyela perkataan Praba tadi.
Entah mengapa, ia mampu menurut pada lelaki itu. Semua kebaikan yang diberikannya seakan tak bisa ia tolak seperti yang dilakukannya pada Raindra.
Sampai semua barang kini telah diangkut ke dalan mobil, dan semua orang bersiap untuk berangkat. Pak Darmawan dan istrinya menumpang pada mobil pengangkut barang itu. Sementara Myesha menumpangi motor Bagas, dan begitu juga Calya menjadi penumpang di motor Praba.
Selama perjalanan, Calya sangat ingin berbicara pada Praba. Namun, sekali lagi diurungkannya karena pergolakan nuraninya sendiri. Batinnya tak bisa berdusta, ia merasakan kenyamanan saat bersama lelaki itu.
Di depan sebuah rumah minimalis berlantai dua yang berada di kompleks perumahan, semua kendaraan itu berhenti. Seluruh penumpangnya pun turun. Praba kemudian membuka pintu rumah.
Satu per satu barang mulai diturunkan.
"Wah, rumah ini jauh lebih bagus," sahut Myesha dengan semangat.
Di dalam rumah, Praba mulai menunjukkan ruangan-ruangan yang ada. Rumah itu memiliki tiga kamar tidur. Dua di lantai bawah, dan satu di lantai atas. Kamar yang di atas memiliki kamar mandi sendiri. Selain itu, di atas juga terdapat sebuah ruang keluarga dan teras balkon.
"Myesha dan Calya bisa tidur terpisah sekarang," ujar Praba.
"Lalu ... bagaimana dengan Nak Praba sendiri?" tanya Pak Darmawan.
"Untuk sementara, saya masih bisa menumpang di rumah Bagas," jawab Praba.
"Tidak, bagaimana kalau Nak Praba juga tinggal di sini saja. Nak Praba bisa menempati kamar yang di lantai atas," ujar Pak Darmawan.
"Iya, kami juga kan tidak akan selamanya berada di sini. Ya anggap saja kalau ini adalah rumah kontrakan yang kalian bertiga sewa. Jadi, pembayarannya bisa dibagi," timpal Bu Darmawan.
Sejenak Praba terdiam, lalu melempar pandangannya pada Calya. Di dalam hati ia berpikir bahwa yang dikatakan oleh orang tua Calya memang ada baiknya. Kondisi Calya yang sedang mengandung pasti membutuhkan bantuan untuk melakukan banyak kegiatan.
Calya yang mendapati tatapan Praba berlabuh padanya hanya bergeming. Entah mengapa, ia tak menuturkan kata-kata penolakan. Sebaliknya, ia mengharapkan sebuah persetujuan terlontar dari mulut lelaki itu. Calya merasakan sesuatu di hatinya. Kenyamanan dan keinginan untuk selalu bersamanya. Namun, perasaan itu belum mampu diterjemahkan maknanya. Sejauh ini, ia hanya bisa mengartikan sebagai sebuah persahabatan.
"Em ... tidak, saya hanya akan merepotkan." Suara Praba menghentikan lamunan Calya.
"Merepotkan siapa?" lirih Calya.
__ADS_1
"Kamu ... kamu tak marah?" tanya Praba.
Pertanyaan yang membuat Calya menjadi gagap. Ia merasa seakan terjebak dalam kata-katanya sendiri.
"Ini kan rumahmu," sahut Calya.
"Em ... jadi?"
"Jadi apa?" tanya Calya, tak mengerti akan pertanyaan Praba.
"Jadi ... kamu mau?"
"Mau apa?"
"Tinggal sama saya?"
"Hah?"
"Em ... maksudnya, apa kamu tidak marah kalau saya juga tinggal di rumah ini?" tanya Praba.
"Seperti kata Bapak, anggap saja kita tinggal di sebuah rumah kontrakan yang disewa bersama. Tinggal di kamar masing-masing, dan akan berbagi pembayaran," sahut Calya.
Praba tersenyum mendapat jawaban itu.
"Baiklah," sahutnya.
Semua orang menanggapi persetujuan Praba dengan bahagia. Pekerjaan berbenah rumah pun dilanjutkan.
Tempat tidur dan lemari sudah ditata di sana. Calya berniat meletakkan kopernya di atas lemari. Tanpa memberi tahu Praba, ia naik ke atas sebuah kursi plastik sambil mengangkat koper itu.
Naas, keseimbangan tubuhnya hilang. Calya nyaris terjatuh. Namun, tepat di saat itu, Praba melihat ke arah Calya. Seiring dengan pekikan wanita itu, Praba dengan sigap menangkap tubuhnya. Selanjutnya, mereka mendarat bersama di atas tempat tidur dengan posisi Calya berada di atas tubuh Praba.
"Ma maaf," desis Calya.
"Bukan maaf, tapi terima kasih," sahut Praba.
"Em ...."
Sementara itu, kedua tangan Praba masih membelit tubuh Calya.
"Lepas ... saya mau bangun," ujar Calya.
Praba menggeleng. "Lepas apa?"
"Tangan."
"Tangan apa?"
"Praba!" Calya meninggikan nada suaranya.
Membuat Praba spontan melepaskan pautan tangannya dari pinggang Calya.
Calya pun beranjak bangun, diikuti oleh Praba.
__ADS_1
"Mana?" tanya Praba setelah berdiri.
Calya menoleh pada lelaki itu. Padahal sebelumnya, ia telah berjalan hendak ke luar kamar.
"Apa?"
"Ucapan terima kasihnya," sahut Praba.
Calya diam sejenak untuk berpikir. Memang benar, seharusnya dia berterima kasih pada lelaki itu, sebab ia tak hanya menyelamatkan dirinya, tetapi juga bayi yang sedang dikandungnya.
"Em ... iya, terima kasih," ujar Calya.
"Bisa dalam bentuk yang lain?" tanya Praba.
"Hah? Apa?"
"Sesuatu yang bisa menghangatkan," sahut Praba.
Mendengar perkataan Praba, wajah Calya memerah. Ia sedang memikirkan arti yang tak biasa atas pernyataan itu.
Calya pun langsung memutar tubuhnya, tak ingin mendengar kelanjutan permintaan Praba.
"Eh ... mau ke mana?" tanya Praba sambil menahan pundak Calya.
"Kamu sudah mulai aneh, sih!" celetuk Calya.
"Aneh apanya? Saya kan cuma mau minta dibuatkan teh hangat. Apanya yang aneh?" gumam Praba.
"Teh hangat?"
"Iya, haus nih. Dari tadi kan sudah ngangkat-ngangkat," ujar Praba.
"Oh." Calya mengembalikan ekspresi wajahnya seperti semula. Ia pun merasa malu atas prasangka sebelumnya.
"Ya sudah, saya buatkan dulu ke dapur," ujar Calya.
"Em tunggu ...." Praba kembali menahan langkah Calya.
"Apa lagi?" celetuk Calya.
"Yang manis ya ... seperti kamu."
Kontan, Calya membesarkan bola matanya.
"Apaan!"
Praba pun terbahak. Ekspresi kemarahan Calya justru mengundang tawa baginya.
"Dasar orang gila!" gerutu Calya sambil berlalu pergi.
Sementara itu, Praba terus mengamati langkah wanita itu sampai benar-benar menghilang dari pandangannya.
***
__ADS_1