Sengketa Hati (CALYA)

Sengketa Hati (CALYA)
Hati yang Lapang


__ADS_3

Dirga bersama kedua orang tuanya bergegas menuju ke kamar Haira. Sesampai di sana, mereka mendapati Haira sedang meringkuk di atas tempat tidurnya dengan air mata yang berlinangan.


"Haira ... Haira ... ada apa denganmu?" ujar Dirga sambil menghampiri istrinya itu.


"Nak Haira, apa kamu sakit?" tanya Bu Edy.


Sementara itu, Haira tak menjawab. Dia masih saja terus menangis.


"Haira ... bicaralah, apa yang terjadi? Bukankah kita bisa membicarakannya baik-baik?" bujuk Dirga lagi.


Haira memalingkan wajahnya, menengok pada sang suami.


"Dir ... apakah kamu membenciku?" gumamnya lirih.


Dirga terdiam. Lelaki itu hanya membalas tatapan Haira yang nanar.


"Jawablah, Dir ... apakah kamu begitu membenciku? Karena kalau memang begitu aku tidak akan memaksamu lagi untuk terus bersamaku. Bila kamu tidak bahagia bersamaku, maka aku akan merelakan kamu. Aku siap berpisah darimu," ujar Haira.


"Tidak, Nak Haira, jangan bicara begitu," ujar Pak Edy.


"Bukankah Bapak dan Ibu juga menginginkan agar Dirga bahagia dan memiliki istri yang bisa memberikan keturunan?" ungkap Haira pada kedua mertuanya.


Pak Edy dan istrinya pun saling berpandangan sesaat.


"Nak Haira ... semua manusia pasti pernah melakukan kesalahan. Akan tetapi, bila sampai melakukan satu kesalahan yang sama untuk kedua kali, artinya dia tidak belajar dari pengalaman itu," ujar Bu Edy.


"Apa maksud Ibu?" tanya Haira.


"Kami tidak akan melakukan kesalahan yang sama lagi, Nak. Hanya karena keinginan kami untuk memiliki keturunan sehingga mengorbankan pernikahan anak kami. Apa pun yang terjadi padamu sekarang, kamu tetap lah menantu kami. Sampai kapan pun. Dirga tidak akan pernah meninggalkan kamu," sahut Bu Edy.


Mendengar ucapan ibu mertuanya, Haira membesarkan bola matanya. Ada rasa tak percaya terpatri di wajahnya. Sesaat kemudian, ia berpaling pada Dirga, seakan menyiratkan tanya akan tanggapan sang suami atas pernyataan ibunya.


Dirga pun membalas tatapan kelu sang istri. Nurani lelaki itu berkecamuk. Ia tengah memikirkan kata-kata sang ibu, juga mencoba untuk menelisik perasaannya sendiri.


"Iya, Haira. Yang dikatakan Ibu dan Bapak adalah benar. Kita sudah menikah, dan aku bertanggung jawab padamu sebagai seorang suami. Kita bisa memulai semuanya dengan baik, dari awal lagi," lirih Dirga.


"Dir ... apa kamu bersungguh-sungguh? Apa kamu tidak hanya sedang menghiburku?" tanya Haira lagi.


"Ra ... seperti kata Ibu, biarlah pengalaman menjadi pelajaran bagi kita untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi. Kita harus bisa saling menerima kelebihan dan kekurangan satu sama lain," ujar Dirga.


Mata Haira kembali berair, membingkai kaca-kaca yang memantulkan cahaya keharuan. Sejenak, ia memalingkan wajah pada kedua mertuanya lagi. Dua orang yang dituju pun mengangguk padanya.


Haira merasakan kebahagiaan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Jauh lebih membahagiakan ketika dia menjadi istri lelaki itu. Bila dahulu ia hanya mendapatkan raganya, kini sepenuh hati dan ketulusan pria itu telah merengkuhnya.


Haira bergegas memeluk tubuh Dirga.


"Terima kasih, Dir ... terima kasih, suamiku. Aku berjanji, akan menjadi istri yang baik untukmu. Aku akan mendampingi kamu dalam keadaan apa pun," gumam Haira di sela-sela keharuannya.

__ADS_1


"Haira ... aku juga berharap bila kamu pun bersedia menerima apa yang menjadi bagian dari masa laluku. Aku tak mau di kemudian hari ada keributan akibat hal itu. Kamu tahu bila aku memiliki seorang anak dari Calya. Aku berharap, kamu bisa menerima anak itu ada dalam hidupku dan juga hidup Bapak dan Ibu," ucap Dirga.


Haira melepas rengkuhannya pada Dirga.


"Kalau kamu saja mau menerima dan mencintai kekuranganku, mengapa aku tidak bisa menerima apa yang menjadi bagian dari hidupmu? Kalau Calya saja bisa berbesar hati berbagi cinta dari anaknya kepada kalian, mengapa saya tidak bisa ikut mencintai anak itu?" gumam Haira.


"Ra ... kamu ...," lirih Dirga.


Haira mengangguk.


Pelukan pun kembali terjadi. Sementara itu, Pak Edy dan Bu Edy mengusap sudut mata mereka yang telah melelehkan air mata.


***


Di rumah Calya, kebahagiaan terus mencerahkan suasana. Sejak kehadiran putra Calya, decak tawa selalu terdengar di sela-sela suara tangis bayi mungil itu.


Praba menghendaki nama tengahnya-Satya- disematkan dalam nama sang bayi. Calya pun menyetujuinya. Andaka Satya Darmawan adalah nama yang diberikan Calya untuk putranya itu.


Hingga satu pekan kemudian, Dirga bersama Haira, Pak Edy dan Bu Edy kembali mengunjungi rumah Calya untuk menengok mereka. Di saat itu lah, Haira meminta maaf pada Calya atas semua kesalahan yang pernah dilakukan pada wanita itu.


Calya pun dengan besar hati memaafkan Haira, sebab ia sudah berniat untuk melepaskan semua beban masa lalu, dan menggapai masa depan yang lebih indah dengan hati yang lapang.


"Bukankah kamu sangat mencintai Dirga, Haira? Maka jaga dan dampingi lah dia selamanya," ucap Calya pada Haira.


"Kamu bahagia tanpa dia, Cal?" tanya Haira.


"Kamu ... kamu sangat baik, Cal ...," lirih Haira.


Adegan itu pun berakhir dengan pelukan di antara kedua mantan madu itu. Pelukan yang menandai kebebasan beban keduanya.


***


Empat puluh hari setelah kelahiran Andaka, Calya dan keluarganya mengadakan acara akikah untuk sang putra.


Di dalam kamar, Calya sedang memoles dirinya agar terlihat pantas menjamu para tamu yang datang. Dia telah memakai gamis berwarna putih, lengkap dengan jilbab berwarna senada yang menutup kepalanya.


Hari ini, bukan hanya hari di mana ia bersyukur atas kelahiran sang putra dengan menggelar akikah untuknya. Akan tetapi juga menjadi hari di mana ia memutuskan untuk hijrah dalam penampilan. Calya akan mulai mengenakan hijab.


"Cal ... ayo, tamu-tamu sudah berdatangan," ujar Praba di balik pintu.


Namun, saat lelaki itu melihat penampilan Calya yang anggun dan memesona, gerakannya terhenti. Terpaku di pijakan.


"Calya ...," desis Praba.


Menyadari bila lelaki itu menatapnya tak berkedip, Calya pun mendekat padanya.


"Kamu kenapa, Prab?" tanya Calya.

__ADS_1


"Kamu ... kamu cantik sekali, Cal. Kamu cantik dengan gamis dan hijab itu," gumam Praba.


"Ah ... gombal kamu!" gerutu Calya.


"Gombal? Mana pernah saya berkata gombal sama kamu?" ujar Praba sambil mendekatkan tubuhnya pada Calya.


"Iihh ... apaan sih?" gerutu Calya lagi.


"Hehehe ...." Praba terkekeh.


"Sudah ah, ayo keluar," ujar Calya.


Akan tetapi, Praba seketika membentangkan tangannya menutup jalan keluar dari pintu itu.


"Cal ... sebelum kita keluar, saya mau bicara serius sama kamu," gumam Praba.


"Hah? Apa sih?" tanya Calya heran.


Apalagi setelah Praba mengubah mimik mukanya menjadi benar-benar serius.


"Cal ... saya sayang sama kamu," ujar Praba.


"Itu kan ... em ... saya kan sudah tahu," sahut Calya.


"Saya cinta kamu. Cinta Andaka, dan cinta keluargamu."


Praba kemudian meraih jemari Calya dengan satu tangannya, kemudian tangan yang lain meraih sesuatu dari saku celananya.


Sebuah kotak berwarna merah keluar dari sana, lalu Praba membuka kotak itu, dan meraih sebuah cincin emas bertahtakan sebutir permata.


Dengan lembut, Praba menyematkan cincin itu di jari manis Calya sambil berkata, "Calya Janalin, maukah kamu menjadi istriku?"


Calya termangu untuk sesaat. Dia sedang berpikir tentang waktu yang pernah dimintanya pada lelaki itu.


Apakah kini telah tiba saatnya untuk menerima pernyataan cinta lelaki itu?


💝💝💝


Huhuyyyy ... menjelang ending season satu, Author akan menampilkan visualisasi dari tokoh Calya Janalin.


Ya ... sebenarnya agak pusing juga sih, tapi Author mencoba untuk menggambarkan Calya dalam bentuk Laudya Chintya Bella.


Bagaimana?



Episode setelah ini episode kenangan lagi ya sebelum memasuki dua episode akhir. Ok?

__ADS_1


__ADS_2