Sengketa Hati (CALYA)

Sengketa Hati (CALYA)
Mencari Jejak Sang Putri


__ADS_3

"Sekarang kita mau ke mana, Pak?" tanya Bu Darmawan pada suaminya di dalam taksi.


Lelaki baya itu tampak memandang ke depan dengan sinar mata menerawang, kemudian berkata pada sopir taksi itu, "Bawa kami ke bandara, Pak."


Bu Darmawan pun tak bertanya lagi. Wanita itu hanya menurut pada kehendak sang suami.


Setiba di bandara, Pak Darmawan menuju ke loket maskapai yang ada di sana. Ia meminta bantuan untuk merubah tiket penerbangannya, yang tadinya akan berangkat ke Yogyakarta seminggu ke depan, dipercepat menjadi hari ini.


Setelah urusan tiket pesawat selesai, mereka pun menuju ruang keberangkatan.


Perjalanan yang mereka tempuh cukup lah jauh, sehingga mengharuskan untuk melakukan transit semalam di kota lain. Selanjutnya, keesokan paginya penerbangan ke Yogyakarta.


Pukul sembilan pagi pesawat sudah mendarat. Pak Darmawan dan istrinya berjalan turun hingga ke luar bandara. Dengan menggunakan taksi, mereka pun menuju kamar kos milik Myesha.


"Jam segini, Myesha pasti sedang ke kampus, Pak," ucap Bu Darmawan saat mereka sudah berada di depan pintu , dan mendapatkan tak ada orang yang menyahuti salam mereka.


"Iya, Bu," sahut Pak Darmawan.


"Bapak sih, tidak mau kalau Ibu menelepon dan mengabari Myesha kalau kita akan datang," ujar Bu Darmawan lagi.


"Bapak punya maksud, Bu."

__ADS_1


"Maksud apa, Pak? Mau ngasih kejutan buat Myesha? Kejutan dalam keadaan batin kita yang seperti ini?"


"Bukan begitu, Bu. Entah kenapa, Bapak yakin kalau Calya ke sini. Bapak hanya takut, kalau kita mengabari Myesha, Calya akan pergi dari sini. Dia pasti akan menyuruh Myesha untuk tidak mengatakan apa pun pada kita."


"Iya ya, Pak. Benar. Lantas, sekarang kita mau bagaimana? Paling tidak Myesha pulang siang nanti." tanya Bu Darmawan.


"Ya, sudah, kita titip barang-barang kita dulu ke rumah Ibu kos itu, terus kita jalan-jalan dulu sambil cari sarapan," ajak Pak Darmawan.


Sang istri pun menyetujui ide itu. Setelah menitipkan barang, mereka pun berjalan kaki menyusuri gang dan keluar menuju poros jalan utama.


Setelah berjalan beberapa menit, Pak Darmawan melihat sebuah cafe. Ia pun mengajak sang istri untuk mampir di sana.


"Kalo di cafe, kita kan bisa duduk agak lama, Bu," sahut Pak Darmawan.


Bu Darmawan hanya mengangguk, lalu turut berjalan di samping suaminya. Akan tetapi, saat tiba di pelataran parkir cafe itu, sebuah mobil masuk dan berhenti di situ. Seorang pria kemudian turun dan berjalan menuju pintu masuk cafe.


Tepat beberapa meter di depan pintu, ketiga orang itu pun bertemu. Raut keterkejutan sekonyong-konyong terpampang di wajah mereka. Tentu saja karena saling mengenal satu sama lain.


"Bapak, Ibu?" gumam pria itu.


"Nak Raindra?" sahut Pak Darmawan dan istrinya.

__ADS_1


"Bapak dan Ibu juga ada di sini?" tanya Raindra.


"Kami baru saja sampai. Dan ... kamu sendiri?" ujar Pak Darmawan.


"Raindra ... sudah lama tinggal di Yogya, Pak."


"Sudah lama?"


Raindra mengangguk pelan. "Iya, sudah tiga tahun."


"Artinya ... kamu meninggalkan Calya dan datang ke kota ini?"


Raindra kembali mengangguk. "Raindra juga sudah pernah bertemu Calya di sini," ucapnya kemudian.


"Apa?" Bertemu Calya di sini?" Bu Darmawan yang bersuara. Antara kaget dan senang karena dugaan suaminya memang benar, Calya berada di kota ini.


"Em ... bagaimana kalau kita ngobrol di dalam saja, Bu, Pak?" tawar Raindra.


Sejenak, sepasang suami-istri itu saling memandang, lalu mengangguk, mengiyakan tawaran Raindra. Bagaimanapun, Pak Darmawan merasa perlu tahu dengan arti perkataan Raindra tadi. Dia bertemu dengan Calya dalam rangka apa? Disengaja atau tidak.


***

__ADS_1


__ADS_2