
Malam ini di rumah keluarga Edy Sudrajat akan diadakan makan malam bersama. Mereka juga mengundang keluarga Broto Hadikusumo. Tepat pukul tujuh malam, kedua orang tua Haira telah datang. Begitupun dengan Mirna, adiknya. Haira menyambut mereka dengan bahagia.
Bu Edy sudah menata hidangan dengan sempurna di atas meja. Sementara di ruang tamu, Pak Edy tengah menemani tamunya dengan obrolan-obrolan ringan. Dirga dan Haira pun turut serta di situ. Hingga beberapa saat kemudian Bu Edy muncul dan mengatakan bahwa hidangan makan malam sudah siap.
Di ruang makan kedua keluarga itu pun menikmati makan malam dengan suasana yang penuh keakraban. Hanya Dirga yang tampak kurang menunjukkan ekspresi senang, hingga beberapa kali ibunya yang duduk tepat di depannya memberikan kode padanya untuk tersenyum.
"Nak Haira, makanlah yang banyak. Asupan gizi yang cukup diperlukan untuk pertumbuhan janin dalam kandunganmu," ucap Bu Edy seraya menyendokkan sup ayam ke mangkuk kecil milik Haira.
"Terima kasih, Bu," sahut Haira yang malam ini tampil cantik dengan hijab sifon berwarna toska.
"Selain makanan yang bergizi, kondisi psikologis yang stabil juga sangat penting bagi ibu hamil," ucap Bu Broto.
"Iya, benar itu," timpal Bu Edy.
"Makanya, seorang ibu yang sedang hamil harus selalu mendapat perhatian dan kasih sayang, terutama dari suaminya," lanjut Bu Broto.
"Jangan khawatir Bu Broto, kami di sini akan selalu memperhatikan dan menyayangi Haira," ujar Bu Edy.
"Kalau hal itu, tentu tidak kami ragukan Bu Edy. Namun yang kami khawatirkan karena Haira tidak bisa selalu bersama dengan Dirga, suaminya ... ayah dari bayi yang dikandungnya." Bu Broto berucap sembari melirik ke arah Dirga.
Sementara itu, Dirga hanya terus menunduk, menatap piring makannya. Rasanya, makanan lezat itu terasa hambar baginya kini. Obrolan yang sedari tadi didengarnya hanya seputar Haira dan kandungannya saja.
"Untuk hal itu juga, Bu Broto tidak perlu khawatir, karena Dirga akan sering-sering datang untuk menengok Haira," tutur Bu Edy.
"Apa benar begitu, Nak Dirga?" tanya Bu Broto pada Dirga.
Dirga tersentak saat mendengar namanya disebut. Sedetik kemudian ia menoleh pada Bu Broto dan berujar, "Bila ada waktu lowong, saya akan mengusahakannya."
"Tidak, aku tidak mau hanya di tengok sewaktu-waktu. Aku mau setiap saat selalu bersama suamiku." Haira tiba-tiba menyela.
Semua orang menoleh pada Haira. Ada raut tanya dari setiap wajah yang ada di situ. Sebab mereka tahu bagaimana posisi Haira yang hanyalah istri kedua tak bisa membuatnya untuk selalu bersama Dirga.
"Aku akan ikut ke tempat tugas Dirga." Haira menuntaskan ucapannya.
Mendengar perkataan Haira, semua orang saling berpandangan. Seakan saling menyiratkan tanya yang sama.
__ADS_1
"Apa maksudmu, Ra? Sudah kukatakan kalau hal itu tidak mungkin terjadi." Dirga bergumam kesal.
"Kenapa tidak mungkin, Dir? Aku istrimu dan sedang mengandung anakmu," jawab Haira.
"Please, stop sebut-sebut tentang anak itu!" Dirga menyentak Haira.
"Dirga!" Kali ini Pak Edy yang menyentak Dirga.
Membuat Dirga menoleh pada ayahnya.
"Apa maksudmu dengan anak itu? Itu anakmu, darah dagingmu, penerus keturunanku. Anak itu yang selama ini kami impikan, yang tidak bisa diberikan oleh Calya." Pak Edy melanjutkan.
"Ayah ... tolong jangan katakan itu." Dirga meradang mendengar nama Calya disebut seperti itu.
"Itu kenyataannya, Nak. Kamu adalah anak kami satu-satunya. Tentu saja kami sangat mengharapkan seorang cucu sebagai penerus nama keluarga kita. Dan sekarang, Haira akan memberikannya untuk kita. Ayah sudah memutuskan, benar kata Haira, sebaiknya dia memang ikut denganmu ke tempat tugasmu." Pak Edy berucap sembari menatap tajam pada putranya.
"Apa maksud Ayah memutuskan? Ini kehidupan rumah tangga Dirga, Dirga lah yang berhak memutuskan. Kehadiran Haira di sana hanya akan menambah luka hati Calya. Dirga tak ingin hal itu terjadi," sergah Dirga.
Mendengar ucapan Dirga, Haira merasa dadanya panas. Kata-kata Dirga seperti peluru yang menghujam jantungnya. Begitu pedulinya Dirga pada Calya sehingga mengabaikan dirinya yang jauh lebih baik segalanya. Secara fisik, Haira merasa lebih cantik. Begitupun dengan nama baik keluarganya. Papanya adalah seorang pejabat pemerintahan yang terpandang di kota ini. Ditambah lagi sekarang, ia memiliki cinta dari kedua orang tua Dirga. Haira merasa memiliki segalanya yang tak dimiliki oleh Calya.
"Aww ...." Haira memegang dadanya.
"Haira ... kamu kenapa, Nak?" Pak Broto segera berdiri dan bergegas menghampiri Haira.
Begitupun dengan Bu Broto dan Mirna.
Tak lama kemudian tubuh Haira melemas, dan akhirnya pingsan. Dirga yang berada di samping Haira seketika menangkap tubuh wanita itu.
"Ayo cepat bawa ke rumah sakit." Pak Edy dan Bu Edy pun tampak khawatir.
Bergegas mereka berlari keluar rumah. Dirga menggendong tubuh Haira. Bagaimanapun ada rasa khawatir di hatinya. Kondisi kesehatan Haira terdahulu dengan riwayat penyakit jantungnya ditambah dengan kehamilannya kini mengusik Dirga untuk peduli pada Haira saat ini.
***
Di UGD rumah sakit, Haira segera mendapat pertolongan. Semua orang menunggu hingga tindakan selesai diberikan, dan Haira dipindahkan ke ruang rawat inap.
__ADS_1
Ruangan VIP itu dapat menampung ke enam orang yang sedang menunggu Haira sadar itu. Kondisinya baik-baik saja. Itulah yang dikatakan dokter tadi.
Bu Broto, Bu Edy dan Mirna berdiri di sisi tempat tidur Haira, sementara ketiga pria itu duduk di sofa.
"Kakak sudah sadar?" seru Mirna saat melihat Haira membuka mata.
Semua orang sontak mendekat di sisi tempat tidur Haira.
Tak lama kemudian, terdengar suara sesenggukan. Haira menangis.
"Sayang, kamu kenapa, Nak? Kok nangis?" tanya Bu Broto sambil mengusap wajah putrinya.
"Kenapa Haira harus diselamatkan bila hanya untuk disakiti, Ma?" Haira berujar sembari terus menangis.
"Apa maksudmu, Nak? Siapa yang menyakitimu? Semua orang yang ada di sini sayang sama kamu." Bu Broto menenangkan Haira.
"Tidak, Ma ... Dirga tidak menyayangi Haira. Dirga tidak sayang sama anak yang sedang Haira kandung. Dia tidak menginginkannya." Haira masih terisak.
Dirga tercengang. Ditambah lagi ayah dan ibunya menatapnya lekat.
"Sayang ... siapa bilang Dirga tak menyayangi kamu dan anak kalian?" Bu Edy mendekat pada Haira.
"Kenyataan, Dirga tidak mau bila kami dekat dengannya. Memangnya apa salahnya bila aku ikut dengannya ke tempat tugas? Aku juga tidak akan tinggal serumah dengan istrinya yang satu. Tapi setidaknya jarak antara aku dan Dirga tidak terlalu jauh. Kami bisa bertemu kapanpun. Aku dan anaknya membutuhkan dia, tapi Dirga tak menginginkan kami." Haira berucap dengan di sela-sela senggukannya.
Semua orang terdiam. Hening sesaat. Sampai akhirnya Dirga mengeluarkan suara.
"Baiklah ... bila itu yang kamu inginkan."
Senyum terurai di wajah Haira. Kemudian ia memeluk erat tubuh mama dan ibu mertuanya bergantian. Tentu saja semua orang menyambut persetujuan Dirga dengan bahagia.
Namun, dibalik kesediaan itu, nurani Dirga berkecamuk. Tentu saja keputusan ini akan memicu kepelikkan hubungan antara dirinya dan Calya.
Dirga hanya bisa mengembuskan napas kasar untuk membuang jauh-jauh kegalauan hatinya kini.
***
__ADS_1