
Tumpahan kemarahan yang seakan tertahan di kerongkongan membuat lelaki yang sedang termenung di pembaringannya tak dapat memejamkan mata. Setelah mendengar pengakuan dari Calya tentang apa yang telah dilakukan Dirga bersama Haira pada wanita itu, Praba tak dapat berkata apapun. Bagaimana bisa, tanpa mendengar penjelasan, Dirga bermain tangan pada sang istri. Terlebih itu dilakukannya di depan si istri kedua.
Praba menggeram. Membayangkan malam ini Calya kembali menumpahkan kesedihannya dalam tangisan. Ingin rasanya lelaki itu berlari dan memeluk tubuh istri temannya itu untuk menenangkannya. Namun, tak mungkin hal itu dilakukannya saat ini.
"Salahkah bila aku menginginkan perpisahan Dirga dan Calya?" Praba berucap lirih seorang diri.
Hingga tanpa terasa, buliran bening merembes keluar dari sudut matanya. Praba tak kuasa menahan tangis. Baginya, ini terlalu perih untuk dialami oleh seorang wanita. Seorang istri yang setia.
Malam sudah semakin larut, tetapi Praba masih juga tak dapat memejamkan mata. Kali ini, ia memutuskan untuk bangun.
Perlahan, ia berjalan menuju ke depan rumahnya. Namun, saat pandangan matanya tertuju pada jendela kamar Calya, ia dapat melihat bahwa lampu di kamar itu masih menyala.
"Calya ...." Praba berdesis.
Sesaat kemudian, ada dorongan dari hatinya untuk mendekat ke jendela itu. Hingga sesampai di sana, ia merapatkan telinganya pada kaca jendela.
Samar, didengarnya suara isak tangis seorang wanita. Ternyata, dugaannya memang lah benar. Calya kembali menangis malam ini.
"Cal ... Cal ...."
__ADS_1
Praba pun memberanikan diri untuk mengetuk jendela kamar Calya.
"Cal ... Calya ... ayo keluar."
"Si siapa?" Calya menjawab dengan suara parau.
"Ini saya, Praba."
Calya berdiri menuju jendela kamarnya. Perlahan menyibak tirai jendela itu.
Praba pun memberi kode dengan jarinya agar Calya keluar rumah.
"Ada apa malam-malam begini membangunkan saya?" tanya Calya.
"Membangunkan? Bukannya kamu memay belum tidur?" tanya Praba.
"Ini kan sudah tengah malam, Pak," gumam Calya.
"Mana ada orang yang tidur, matanya sembab dan basah begitu?" sahut Praba.
__ADS_1
Calya pun langsung meraba kedua matanya. Berusaha menghapus sisa-sisa air mata yang masih bertahan si situ.
"Kamu menangis lagi kan?" tanya Praba.
"Apa yang bisa kulakukan selain itu?"
"Bukankah pernah kukatakan, saat sedih, genggam lah liontin kalung yang kuberikan."
"Kesedihan kali ini teramat sangat, tak ada cara yang bisa menghiburku selain menangis." Saat mengucapkan itu, Calya tak kuasa menahan pelupuk matanya untuk membendung air mata yang memang telah keluar deras sedari tadi.
"Cal ...."
Sebuah dorongan hati yang kuat, mengiringi gerakan Praba untuk bergegas memeluk tubuh Calya. Sementara wanita itu pun tak kuasa untuk menolak, sebab ia memang membutuhkan sebuah sandaran untuk menumpahkan perasaan ini.
Praba mengusap lembut rambut Calya. "Menangis lah. Tumpahkan semuanya," gumamnya.
Sementara itu, sebuah motor berhenti di depan pagar. Sang penunggang kendaraan mengamati laku kedua orang yang sedang saling berpelukan itu. Matanya menyorot tajam dengan penuh kemarahan.
Hingga akhirnya ia memutuskan untuk memutar gas motornya secepat mungkin dan memasuki halaman rumah itu.
__ADS_1
Terang saja, bunyi decitan rem motor yang berhenti membuat Calya dan Praba kaget. Terlebih setelah melihat Dirga turun dari motor dengan rona muka penuh kemarahan.