Sengketa Hati (CALYA)

Sengketa Hati (CALYA)
In Memorial


__ADS_3

Praba dan Calya sudah duduk di kursi antrian pasien. Praktek dokter kandungan ini dibuka mulai pukul tujuh malam. Seusai mengobrol dengan orang tuanya, Calya dan Praba pergi untuk memeriksakan kandungan wanita itu.


"Nyonya Calya," ucap seorang perawat memanggil pasien.


Calya dan Praba pun berdiri, lalu masuk ke dalam ruangan praktek itu.


"Ini pertama kali periksa ya, Bu?" tanya dokter wanita itu setelah Calya dan Praba duduk di depannya.


"Iya, Dok," sahut Calya.


Kemudian, setelah itu dokter mulai menanyakan tanggal menstruasi terakhir, lalu keluhan yang dialaminya.


"Kita USG dulu ya, Bu," ucap dokter itu sambil mempersilakan Calya berbaring di atas tempat tidur pemeriksaan.


Calya menurut pada titah sang dokter. Kemudian, sambil menggerak-gerakkan sensor USG itu, dokter itu juga menunjukkan letak janin yang berada di dalam rahim Calya melalui layar monitor USG nya.


"Usia janinnya dua belas minggu ya, Bu. Mari Pak, silakan dilihat, ini janinnya. Ini jantungnya, berdetak dengan baik," jelas dokter itu.


Praba pun melangkah mendekati layar monitor itu. Entah mengapa ia merasa bahagia melihat janin itu berada di sana.


Calya yang tertegun menyaksikan gambar bayinya, seketika meneteskan air mata. Rasa haru tak bisa dibendungnya. Tudingan mandul tentu saja sudah terbantahkan untuk tersemat padanya. Meskipun bayi itu mungkin tak akan pernah bertemu dengan ayah kandungnya, Calya tetap merasa bahagia karena memilikinya.


"Ini resep vitaminnya, Ibu masih boleh beraktivitas seperti biasa, tetapi jangan lupa untuk beristirahat. Selain itu, makanannya harus diperhatikan, supaya berat badan bayi bisa ikut bertambah dengan baik," papar sang dokter.


"Baik, Dok. Terima kasih," sahut Calya.


"Bapak juga, harus terus mengawasi Ibu ya. Ada yang namanya suami siaga, siap antar jaga." Dokter itu beralih pada Praba.


Praba tersenyum sesaat lalu berkata, "Tentu saja, Dok. Itu sudah pasti akan saya lakukan."


Setelah itu, dia kembali berpaling pada Calya. Sementara wajah wanita itu tampak gamang membalas tatapannya. Tentu saja karena Calya tertegun dengan jawaban yang diberikan oleh Praba pada dokter itu.


Sambil menunggu panggilan untuk pengambilan obat di apotek, Calya dan Praba duduk sambil menikmati panganan terang bulan.


"Kamu kok ngaku-ngaku tadi?" tanya Calya tiba-tiba.


"Ngaku-ngaku apa?" sahut Praba.


"Tadi waktu di ruang periksa."


"Oh, ngaku jadi suami kamu?"


Calya tak menjawab.


"Kan dokter itu yang mengira kalau saya adalah suamimu. Saya hanya menyahuti saja. Ya, dari pada cerita menjadi lebih panjang kalau saya mengaku hanya sebagai teman yang mengantar," ujar Praba sambil mengunyah makanannya.


Calya berpikir sejenak, mengiyakan penuturan Praba. Sampai beberapa menit kemudian, resep obat miliknya telah selesai diproses, dan petugas memanggil namanya.


Setelah mengambil obat itu, mereka pun berlalu pergi.


***


Cling. Sebuah pesan masuk ke gawai Calya Minggu pagi ini. Wanita itu baru saja usai mandi pagi dan sedang berada di kamarnya.


[Hari ini kamu libur kan?]


[Iya.] balas Calya singkat.


Setiap dua minggu sekali, dia memang mendapat jatah libur sehari.


[Jalan-jalan yuk]


Calya tersenyum kecil membaca pesan balasan Praba itu.


[Ke mana?]


[Ke kebun binatang]


[Ngapain?]


[Lihat teman-teman kamu.]


Kali ini, Calya tak hanya tersenyum, tetapi juga tertawa.


[Saya jemput sekarang ya.] Belum juga Calya membalas pesan yang tadi, Praba sudah mengirim pesan susulan.


[Oke.]


Persetujuan Calya tentu saja menggerakkan Praba untuk segera memacu motornya menuju ke rumah Calya, mengajaknya untuk menikmati hari libur di kebun binatang Gembira Loka.


Kedua orang tua Calya tentu saja melepas kepergian putri mereka dengan senyuman bahagia. Mereka seakan tahu dan turut merasakan kenyamanan Calya berada di sisi lelaki itu.


Di kebun binatang, Calya dan Praba berjalan-jalan sambil melihat hewan-hewan yang ada di sana. Sesekali mereka akan saling mengejek, membandingkan satu sama lain dengan hewan yang ada di sana.


Setelah berjalan beberapa meter, Praba pasti akan meminta Calya untuk duduk dan beristirahat. Seperti yang sedang mereka lakukan saat ini.


"Capek?" tanya Praba.


"Lumayan, tapi senang," sahut Calya.


"Senang karena bertemu teman-teman ya?" ledek Praba.

__ADS_1


"Hmm ... senang karena ini pertama kalinya saya ke kebun binatang," ujar Calya.


"Pertama kali?" tanya Praba memastikan.


"Iya ... waktu kecil kalau nonton tv dan melihat kebun binatang, saya ingin sekali ke situ. Tapi, di kota kami kan tidak ada yang namanya kebun binatang," jawab Calya.


"Lantas setelah menikah? Kamu kan pasti pernah diajak sama Dirga ke Pulau Jawa, kenapa tidak minta diajak ke kebun binatang?" cecar Praba.


Calya terdiam sejenak lalu menggeleng. "Dirga tidak pernah mau kalau saya minta diajak ke kebun binatang. Katanya, ngapain ke tempat yang cuma mau lihat hewan saja, masih banyak tempat lain yang lebih menarik."


"Hmm ... berarti saya adalah orang yang telah mewujudkan mimpi kamu," gumam Praba.


"Em ... iya sih. Terima kasih ya," ujar Calya.


"Cuma terima kasih?" tantang Praba.


"Lalu? Mau apa?" tanya Calya.


Praba berpikir sejenak, lalu mengangkat telunjuknya dan mengarahkan ke pipinya.


"Hah? Gila kamu!" pekik Calya.


"Lha ... memangnya apa?"


"Kamu minta dicium kan?"


"Memangnya saya bilang begitu?"


"Lha itu tunjuk-tunjuk ke pipi?" Calya memanyunkan bibirnya karena kesal.


"Ya ampun, ini tunjuk ke pipi artinya pipi saya gatal, pengen digarukin," ujar Praba sambil tertawa.


"Ntar saya panggilkan monyet dulu untuk bantu garuk ya," sahut Calya.


"Iya, tapi monyetnya kamu," celetuk Praba, membuat Calya berang dan memukul lengan Praba.


Mendapat serangan itu, sambil tertawa Praba mencoba menangkap tangan Calya. Akan tetapi, tepat di saat ia memegang tangan Calya, tenaganya yang lebih besar justru menarik tubuh wanita itu ke dalam dekapannya.


Menyadari tubuhnya telah terengkuh, Calya melempar pandangannya pada Praba. Hal yang sama dilakukan oleh pria itu. Alur mata mereka telah bertemu kini.


"Praba ... lepaskan saya ...," desis Calya.


Membuat lelaki itu tersentak dan perlahan melonggarkan rengkuhannya.


"Em ... maaf," ujar Praba.


"Lebih baik kita lanjut saja, yuk!" ajak Calya.


***


Di depan sebuah rumah minimalis berlantai dua yang berada di kompleks perumahan, semua kendaraan itu berhenti. Seluruh penumpangnya pun turun. Praba kemudian membuka pintu rumah.


Satu per satu barang mulai diturunkan.


"Wah, rumah ini jauh lebih bagus," sahut Myesha dengan semangat.


Di dalam rumah, Praba mulai menunjukkan ruangan-ruangan yang ada. Rumah itu memiliki tiga kamar tidur. Dua di lantai bawah, dan satu di lantai atas. Kamar yang di atas memiliki kamar mandi sendiri. Selain itu, di atas juga terdapat sebuah ruang keluarga dan teras balkon.


"Myesha dan Calya bisa tidur terpisah sekarang," ujar Praba.


"Lalu ... bagaimana dengan Nak Praba sendiri?" tanya Pak Darmawan.


"Untuk sementara, saya masih bisa menumpang di rumah Bagas," jawab Praba.


"Tidak, bagaimana kalau Nak Praba juga tinggal di sini saja. Nak Praba bisa menempati kamar yang di lantai atas," ujar Pak Darmawan.


"Iya, kami juga kan tidak akan selamanya berada di sini. Ya anggap saja kalau ini adalah rumah kontrakan yang kalian bertiga sewa. Jadi, pembayarannya bisa dibagi," timpal Bu Darmawan.


Sejenak Praba terdiam, lalu melempar pandangannya pada Calya. Di dalam hati ia berpikir bahwa yang dikatakan oleh orang tua Calya memang ada baiknya. Kondisi Calya yang sedang mengandung pasti membutuhkan bantuan untuk melakukan banyak kegiatan.


Calya yang mendapati tatapan Praba berlabuh padanya hanya bergeming. Entah mengapa, ia tak menuturkan kata-kata penolakan. Sebaliknya, ia mengharapkan sebuah persetujuan terlontar dari mulut lelaki itu. Calya merasakan sesuatu di hatinya. Kenyamanan dan keinginan untuk selalu bersamanya. Namun, perasaan itu belum mampu diterjemahkan maknanya. Sejauh ini, ia hanya bisa mengartikan sebagai sebuah persahabatan.


"Em ... tidak, saya hanya akan merepotkan." Suara Praba menghentikan lamunan Calya.


"Merepotkan siapa?" lirih Calya.


"Kamu ... kamu tak marah?" tanya Praba.


Pertanyaan yang membuat Calya menjadi gagap. Ia merasa seakan terjebak dalam kata-katanya sendiri.


"Ini kan rumahmu," sahut Calya.


"Em ... jadi?"


"Jadi apa?" tanya Calya, tak mengerti akan pertanyaan Praba.


"Jadi ... kamu mau?"


"Mau apa?"


"Tinggal sama saya?"

__ADS_1


"Hah?"


"Em ... maksudnya, apa kamu tidak marah kalau saya juga tinggal di rumah ini?" tanya Praba.


"Seperti kata Bapak, anggap saja kita tinggal di sebuah rumah kontrakan yang disewa bersama. Tinggal di kamar masing-masing, dan akan berbagi pembayaran," sahut Calya.


Praba tersenyum mendapat jawaban itu.


"Baiklah," sahutnya.


Semua orang menanggapi persetujuan Praba dengan bahagia. Pekerjaan berbenah rumah pun dilanjutkan.


Kali ini, Praba membantu mengangkat barang-barang Calya ke kamar yang akan ditempatinya bersama Myesha.


Tempat tidur dan lemari sudah ditata di sana. Calya berniat meletakkan kopernya di atas lemari. Tanpa memberi tahu Praba, ia naik ke atas sebuah kursi plastik sambil mengangkat koper itu.


Naas, keseimbangan tubuhnya hilang. Calya nyaris terjatuh. Namun, tepat di saat itu, Praba melihat ke arah Calya. Seiring dengan pekikan wanita itu, Praba dengan sigap menangkap tubuhnya. Selanjutnya, mereka mendarat bersama di atas tempat tidur dengan posisi Calya berada di atas tubuh Praba.


"Ma maaf," desis Calya.


"Bukan maaf, tapi terima kasih," sahut Praba.


"Em ...."


Sementara itu, kedua tangan Praba masih membelit tubuh Calya.


"Lepas ... saya mau bangun," ujar Calya.


Praba menggeleng. "Lepas apa?"


"Tangan."


"Tangan apa?"


"Praba!" Calya meninggikan nada suaranya.


Membuat Praba spontan melepaskan pautan tangannya dari pinggang Calya.


Calya pun beranjak bangun, diikuti oleh Praba.


"Mana?" tanya Praba setelah berdiri.


Calya menoleh pada lelaki itu. Padahal sebelumnya, ia telah berjalan hendak ke luar kamar.


"Apa?"


"Ucapan terima kasihnya," sahut Praba.


Calya diam sejenak untuk berpikir. Memang benar, seharusnya dia berterima kasih pada lelaki itu, sebab ia tak hanya menyelamatkan dirinya, tetapi juga bayi yang sedang dikandungnya.


"Em ... iya, terima kasih," ujar Calya.


"Bisa dalam bentuk yang lain?" tanya Praba.


"Hah? Apa?"


"Sesuatu yang bisa menghangatkan," sahut Praba.


Mendengar perkataan Praba, wajah Calya memerah. Ia sedang memikirkan arti yang tak biasa atas pernyataan itu.


Calya pun langsung memutar tubuhnya, tak ingin mendengar kelanjutan permintaan Praba.


"Eh ... mau ke mana?" tanya Praba sambil menahan pundak Calya.


"Kamu sudah mulai aneh, sih!" celetuk Calya.


"Aneh apanya? Saya kan cuma mau minta dibuatkan teh hangat. Apanya yang aneh?" gumam Praba.


"Teh hangat?"


"Iya, haus nih. Dari tadi kan sudah ngangkat-ngangkat," ujar Praba.


"Oh." Calya mengembalikan ekspresi wajahnya seperti semula. Ia pun merasa malu atas prasangka sebelumnya.


"Ya sudah, saya buatkan dulu ke dapur," ujar Calya.


"Em tunggu ...." Praba kembali menahan langkah Calya.


"Apa lagi?" celetuk Calya.


"Yang manis ya ... seperti kamu."


Kontan, Calya membesarkan bola matanya.


"Apaan!"


Praba pun terbahak. Ekspresi kemarahan Calya justru mengundang tawa baginya.


"Dasar orang gila!" gerutu Calya sambil berlalu pergi.


Sementara itu, Praba terus mengamati langkah wanita itu sampai benar-benar menghilang dari pandangannya.

__ADS_1


***


__ADS_2