
Di rumah sederhana itu, sepasang suami istri berusia kepala lima sedang duduk berdua di teras rumah. Menikmati udara pagi serta teh dan roti yang menemani sarapan pagi mereka.
"Keadaanku sudah lebih baik, Bu. Sekarang saya malah kangen sama anak-anak," ucap sang suami.
"Jangan kepikiran, Pak. Anak-anak kan baik-baik saja," sahut sang istri.
"Saya tidak kepikiran, Bu. Justru kalau ketemu mereka, mungkin kesehatan saya akan lebih baik lagi."
"Ya, sudah, nanti kita telepon mereka."
"Tidak, Bu. Jangan ditelepon. Kita langsung kunjungi mereka saja," saran si suami.
"Maksud Bapak?" tanya wanita baya bingung pada suaminya.
"Ya, kita ke kota tugas Dirga dan Calya. Setelah menginap beberapa hari di sana, baru kita ke Yogya untuk menjenguk Myesha. Untuk ongkosnya, jual perhiasan Ibu dulu ya? Nanti pelan-pelan Bapak ganti."
Sang istri menatap suaminya dengan sorot mata menerawang. Sesaat kemudian, ia meneguk tehnya, lalu mengangguk.
"Baiklah, Pak."
Ya, mereka adalah kedua orang tua Calya dan Myesha. Sebuah keputusan telah mereka ambil, mengunjungi anak-anak mereka di perantauan. Saat ini, tentu saja yang mereka ketahui adalah bukan hal yang sebenarnya sedang terjadi.
Namun, bila takdir sudah menggariskan, tak ada yang bisa menahannya untuk terjadi.
***
__ADS_1
Pesawat yang membawa Pak Darmawan dan istrinya, kedua orang tua Calya dan Myesha, telah mendarat. Setelah tiba di pintu kedatangan, mereka pun bergegas mengambil taksi yang akan mengantar menuju ke rumah dinas perkantoran itu.
Calya pernah memberikan alamat itu pada mereka. Lagipula, tak susah juga bagi sopir taksi untuk mencari tahu alamat yang dimaksud.
Dengan membawa tas masing-masing, kedua manusia baya itu pun melenggang memasuki pekarangan rumah dinas setelah taksi yang mereka tumpangi berhenti di depan rumah itu.
Di depan pintu, mereka kini berdiri. Kemudian perlahan mengetuknya.
Jantung mereka bergetar, tak sabar menanti hasil dari kejutan ini. Terlebih, rasa rindu pada sang putri sebentar lagi akan terpuaskan.
Wanita yang berada di dalam rumah itu pun melangkah ke luar setelah mendengar suara ketukan. Lima bulan kini usia kandungannya.
Ceklek. Pintu terbuka.
Wajah-wajah bahagia di balik pintu, sekonyong-konyong berubah.
Menyadari bahwa yang membuka pintu bukan lah putri mereka, dengan senyum ramah, Bu Darmawan menyahutinya.
"Oh, maaf, Bu. Sepertinya kami salah rumah."
"Oh, sebenarnya tujuannya mau ke mana?" tanya Haira lagi sambil mengamati mereka.
"Rumah dinas kantor kejaksaan," sahut Bu Darmawan lagi.
"Oh ini memang rumah dinas kejaksaan. Bapak dan Ibu mencari rumah siapa?" sahut Haira.
__ADS_1
"Kami mau mengunjungi anak kami, Dirga dan Calya."
Jawaban Bu Darmawan membuat Haira membelalak.
"Apa maksud kalian?" hentak Haira.
"Iya, Bu. Jadi menantu kami Dirga bekerja di kantor kejaksaan kota ini, dan setahu kami, mereka tinggal di rumah dinas," jawab Bu Darmawan lagi.
"Dirga? Menantu?"
"Iya, kami orang tua Calya, istri Dirga."
Haira semakin membeliak. Sebuah kenyataan baru diketahuinya. Ternyata orang tua Calya tak mengetahui perceraian putrinya.
"Maaf ya, Bu, Pak. Saya tidak mengerti kenapa putri kalian itu tidak mengatakan yang sebenarnya pada orang tuanya," ujar Haira.
"Maksud Ibu apa ya?" tanya Bu Darmawan bingung.
"Baiklah, perkenalkan, saya Haira, istri sah dari Dirga Mahendra. Mantan menantu Ibu dan Bapak." Haira memandang penuh keangkuhan pada kedua orang di depannya itu.
"Apa?!" Pak Darmawan dan Bu Darmawan memekik bersamaan.
Tepat di saat itu juga, pandangan mereka melesat ke arah dalam rumah, jatuh di dinding di mana sebuah pigura foto berukuran besar tergantung. Sebuah foto pernikahan dengan dikelilingi keluarga utuh.
Dan mereka menyadari, di sana ada gambar Dirga beserta keluarganya. Akan tetapi, sang mempelai wanita bukan lah putri mereka. Demikian juga dengan orang tua yang mendampingi, bukan lah diri mereka.
__ADS_1
***