
Dirga kembali termenung. Pikirannya melayang ke saat terakhir ia menyentuh sang mantan istri. Tentu saja ia masih mengingat malam itu. Saat ia melepas kerinduan pada sang istri setibanya kembali ke kota itu bersama Haira.
Namun, kedekatan Calya dengan Praba kembali mengusik pikirannya. Bisa saja kecurigaannya waktu itu memang lah benar.
"Bisa jadi itu adalah anak pria yang menemanimu saat ini," desis Dirga tajam.
Calya terhenyak. Begitu juga dengan Myesha. Namun, saat Calya melihat Myesha mencoba untuk berbicara, ia memberi kode agar adiknya itu berhenti.
"Terserah apa pun anggapan kamu. Saya tidak perlu memaksakan kamu untuk mengakui anak ini. Yang pasti, saya hanya pernah melakukannya dengan satu orang pria yang statusnya adalah suami saya." Calya berkata dengan suara yang masih bergetar.
Dirga masih termangu. Langkahnya seakan menjadi berat. Ia tak mampu maju atau pun mundur. Karena itu, ia memilih untuk beringsut turun dan bersimpuh di lantai. Sejurus kemudian, ia meremas rambutnya dengan semua jemari tangannya. Bulir-bulir bening pun mendesak keluar dari pelupuk matanya.
Dirga menangis.
"Untuk apa menangis?" tanya Calya lirih.
"Apakah aku telah melakukan kesalahan?" ucap Dirga.
"Pikirkanlah sendiri. Yang pasti, semua tuduhan yang pernah kau sangkakan tidak lah benar. Saya tidak pernah sengaja ingin menyakiti Haira atau apa pun yang ada di dalam pikiranmu. Saya bukan lah perempuan yang tak berguna karena tak bisa memberikan keturunan. Dan, saya tidak pernah berselingkuh di belakangmu. Hanya saja, mungkin Tuhan menyayangi saya, sehingga tak membiarkan semua pesakitan itu lebih lama lagi menimpa saya."
Mendengar ucapan Calya, Dirga kembali berdiri. Kemudian melangkah mendekat pada Calya. Dalam jarak satu langkah, ia berhenti di depan wanita itu.
"Calya ... maafkan lah aku .... Kalau anak itu memang anakku, maka itu akan menjadi alasan bagi kita untuk rujuk," gumam Dirga sambil menatap nanar pada Calya.
"Maaf?" lirih Calya.
"Izinkan aku untuk membawamu dalam hidupku lagi. Kita akan memulainya dari awal lagi. Rumah tangga yang bahagia, bersama anak kita," ujar Dirga penuh keyakinan.
"Rujuk?" desis Calya lagi.
Dirga mengangguk, kemudian hendak melangkah lebih dekat pada Calya.
Namun, wanita itu justru memilih untuk memundurkan langkahnya.
__ADS_1
Calya menggeleng. "Tidak, Ga. Kamu sudah memiliki seorang istri, yang telah lebih dulu memberimu seorang anak. Kedua orang tuamu pun menyayangi dan memilihnya sebagai menantu."
Dirga kembali terdiam sejenak untuk meresapi perkataan Calya. Apa yang terjadi pada Haira pastilah belum diketahui oleh Calya. Dirga kembali menyadari tentang karma. Tentu saja, apa yang diketahuinya hari ini adalah bagian dari karma yang diterima boleh dirinya dan keluarganya. Mereka telah melepaskan Calya karena sebuah tudingan yang tidak benar. Kini, hal yang mereka tudingkan itu telah berbalik pada diri mereka sendiri. Keturunan itu tidak akan pernah mereka dapatkan lagi dari Haira.
"Tidak, Cal ... anak yang kamu kandung itu butuh seorang ayah. Kamu tidak boleh memberikan ayah lain untuknya. Aku lah yang akan tetap menjadi ayahnya." Dirga kembali berkata.
"Kamu memang adalah ayahnya, sampai kapan pun akan begitu. Tapi itu bukan berarti bahwa kita harus rujuk. Kita sudah bercerai, dan selamanya akan begitu. Sekarang lebih baik kamu pulang. Ada seorang istri dan anak yang menunggumu di rumah," ujar Calya.
Dirga menggeleng, kemudian kembali berusaha untuk maju, mendekat pada Calya. Namun, suara pekikan Myesha menghentikan langkahnya.
"Mas Dirga! Tolong pergilah sekarang juga! Kalau tidak, Myesha akan teriak lebih keras supaya semua tetangga mendengar, termasuk istri Mas Dirga."
Dirga menoleh pada Myesha. Tatapan gadis itu sangat tajam. Menegaskan bahwa ia tak sedang bermain-main dengan kata-katanya. Menjadikan tak ada pilihan lain bagi Dirga kini, selain menuruti perintah mantan adik iparnya itu.
Namun, sebelum beranjak pergi, Dirga kembali menoleh pada Calya.
"Ini belum selesai, Cal. Aku masih belum akan berhenti. Kita ... harus bersama lagi."
***
Setelah Dirga pergi, Myesha pun menutup rapat pintu rumah itu. Sekembalinya di ruang makan, Myesha segera memeluk sang kakak yang tengah berderai air mata itu.
"Mbak ... sudah lah, jangan menangis. Laki-laki itu tak perlu ditangisi. Dia memang hanya akan menyakiti hati Mbak Calya saja," bujuk Myesha.
"Ini tangisan kelegaan, Sha. Mbak merasa lega karena sudah mengungkap semuanya pada Dirga. Dia memang berhak untuk tahu. Namun, Mbak tidak menghendaki niatnya untuk mengajak Mbak rujuk. Itu tidak lah mungkin. Mbak tidak akan sanggup lagi bila harus menjalani poligami itu," ujar Calya.
"Itu tidak akan terjadi, Mbak. Bapak dan Ibu juga tidak akan membiarkan kalau Mbak Calya sampai rujuk dengan Mas Dirga. Kesalahan Mas Raindra masih jauh lebih bisa dimaafkan dari pada perbuatan yang dilakukan oleh Mas Dirga," sahut Myesha.
Calya menggeleng. "Jangan sebut nama mereka berdua lagi, Sha."
"Tentu saja, Mbak, karena sekarang hanya akan ada satu laki-laki yang akan selamanya bersama dengan Mbak Calya," ucap Myesha.
Calya mendongak. Myesha memahami maknanya. Sang kakak sedang mempertanyakan maksud ucapannya.
__ADS_1
"Mas Praba," ujar Myesha.
***
Satu jam berlalu, Praba sudah kembali ke rumah. Calya sedang berbaring di kamar untuk menenangkan diri, sedangkan Myesha menyambut Praba dengan menyiapkan makanan untuknya.
"Mbak Calya lagi istirahat, Mas," ujar Myesha saat ia melihat Praba menengok ke sana ke mari.
"Oh. Tapi dia sudah makan?" tanya Praba sambil duduk di kursi makan.
"Nanti Myesha anterin ke kamar," sahut gadis itu.
"Tapi dia baik-baik saja kan?" tanya Praba lagi.
"Em ... Mas, tadi Mas Dirga ke sini," ujar Myesha.
Praba yang baru saja menyendok sayur sontak mengehentikan gerakan tangannya untuk makan.
"Em ... aduh, maaf. Mas Praba makan saja dulu. Nanti setelah makan baru kita ngobrol lagi," ucap Myesha gugup.
"Kamu bilang apa tadi, Sha?" tanya Praba. Konsentrasinya seakan tak bisa memikirkannya hal lain setelah mendengar perkataan Myesha tadi.
"Aduh, Mas... please, Mas Praba makan saja dulu. Mbak Calya pasti marah sama Myesha kalau Mas Praba sampai tidak makan."
"Saya pasti akan makan, tapi kamu perjelas dulu perkataan yang tadi" gumam Praba.
"Em ... itu, tadi setelah Mas Praba pergi mengantar Ibu dan Bapak, Mas Dirga datang ke sini. Myesha sudah mencoba menahan supaya dia tidak masuk, tapi Mas Dirga memaksa."
"Lalu?" Praba membesarkan bola matanya, seakan sedang menahan sebuah rasa didl dadanya.
"Lalu, di sini dia bertemu dengan Mbak Calya. Dan ... Mas Dirga akhirnya tahu kalau Mbak Calya sedang hamil."
***
__ADS_1