Sengketa Hati (CALYA)

Sengketa Hati (CALYA)
Pengungkapan Rasa


__ADS_3

Pintu kamar itu terbuka. Sang pemilik kamar pun menampakkan dirinya. Ia menatap Calya yang berdiri di hadapannya.


"Ada apa?" tanya lelaki itu.


"Kamu baik-baik saja?" balas Calya.


"Memangnya kenapa?"


"Kenapa tidak turun untuk makan malam?"


"Oh ... tadi saya agak lelah dan ngantuk, jadi baring-baring sebentar dulu Lagian juga belum begitu lapar," sahut Praba. Kalian sendiri, sudah makan kan?"


Calya mengangguk.


"Sudah minum vitaminnya?" tanya Praba lagi.


Namun, kali ini Calya menggeleng.


"Lho kenapa? Apa mau diminumin sama saya?" goda Praba sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


"Apaan sih?" gerutu Calya.


"Ya makanya, kalau sudah waktunya minum vitamin itu ya langsung diminum," celetuk Praba.


"Ya tadinya juga habis makan, saya mau langsung minum vitaminnya, tapi Myesha minta supaya saya ke sini untuk ngecek kenapa kamu tidak turun-turun. Myesha khawatir kalau kamu kenapa-napa," jelas Calya.


"Myesha?" tanya Praba.


Calya mengangguk.


"Saya tidak yakin," ujar Praba.


"Maksudmu?"


"Ya, saya tidak yakin kalau Myesha yang mengkhawatirkan saya. Em ... sebaiknya kamu ngaku saja, kalau yang sebenarnya khawatir sama saya itu kamu," ucap Praba sambil mengedipkan sebelah matanya pada Calya.


"Ih ... apaan sih?" gerutu Calya lagi.


"Ya sudah kalau begitu, saya mau lanjut tidur lagi," ujar Praba sambil membalikkan badannya.


" Eh ... makan dulu dong," pekik Calya.


Praba pun kembali menoleh padanya.


"Bilang dulu kalau kamu mengkhawatirkan saya," ujar Praba lagi.


"Praba ... jangan kayak anak kecil begitu deh," gerutu Calya.

__ADS_1


"Ya sudah," gumam Praba sambil berbalik.


"Iya iya! Saya khawatir kalau kamu tidak makan. Saya ki  jhbhawatir kamu jadi sakit!" teriak Calya.


Membuat Praba kembali menoleh padanya lagi.


"Sungguh? Kenapa?" desis Praba.


"Kenapa? karena ... karena kalau kami sakit, pasti akan merepotkan saya," ujar Calya yang disertai derai tawa, kemudian membalikkan tubuhnya dan dengan cepat berjalan menuruni tangga.


Calya tahu bila perkataannya tadi akan membuat Praba berang.


Praba hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Perlahan, ia kembali masuk ke dalam kamar dan merebahkan tubuhnya di atas kasur. Pikiran lelaki itu menerawang pada kejadian siang hari tadi di kantornya. Saat Praba masuk ke ruangan sekretaris pimpinan kantor, sebuah surat dinas datang. Sang sekretaris yang membukanya, kemudian membaca bahwa itu adalah surat mutasi seorang pegawai yang pindah ke kantor itu. Praba tersentak saat sekretaris itu menyebutkan nama Dirga Mahendra yang tertera di surat itu. Sejak saat itu, ia menjadi tak fokus bekerja. Perasaannya menjadi gelisah, tak tenang.


Praba merasa sangat khawatir dengan kehadiran Dirga di kota ini. Yang ia khawatirkan tentu saja perasaan Calya. Praba tak ingin melihat Calya menjadi tertekan lagi. Ia belum bisa memastikan bila wanita itu telah benar-benar melupakan seluruh perasaan yang pernah ada untuk sang mantan suami.


Satu hal lagi, kebersamaannya dengan Calya saat ini pasti juga akan diketahui oleh Dirga. Terlebih ia dan Calya juga tinggal serumah. Dirga pastilah akan semakin memandang rendah pada wanita itu. Mengingat hal itu, Praba menutup kedua matanya dengan telapak tangan.


Lelaki itu bangkit untuk duduk. Ia merasa kebahagiaannya bersama Calya saat ini akan terusik. Lebih dari itu kebahagiaan Calya lah yang akan lebih terganggu. Praba kini bangkit berdiri lalu keluar dari kamarnya.


Setelah menuruni akan tangga, ia mendapati Calya tengah bersiap memasuki kamarnya.


"Cal ...," panggil Praba.


Calya menoleh dan tak jadi membuka pintu kamarnya.


Praba mengangguk. "Temenin saya ya."


Calya pun berjalan menuju meja makan setelah mengangguk tanda persetujuan. Ia mengambil piring Praba dan mengisinya dengan nasi dari penanak. Sementara itu, Praba sudah duduk di kursinya. Setelah meletakkan piring berisi nasi di hadapan Praba, Calya pun membuka tudung saji.


"Lauknya ambil sendiri ya," ujar Calya.


"Kamu duduk juga dong," gumam Praba.


Calya pun menurut. Kini duduk di sebelah Praba.


"Cal ... saya punya pertanyaan. Jawab ya ...," gumam Praba sambil mengurai-urai makanannya di antara sendok dan garpunya.


"Apa?" tanya Calya.


"Kalau misalnya saat kamu bersalin nanti, ada dua orang yang mengantarkan di rumah sakit, yaitu saya dan Dirga. Lalu ... dokter meminta satu orang untuk masuk menemani kamu, maka kamu akan memilih siapa?"


Calya menoleh pada Praba sambil mendelik.


"Apa-apaan?" gumam Calya.


"Jawab saja," sahut Praba.

__ADS_1


"Pertanyaan apa itu!" gerutu Calya.


"Jawab saja deh, Cal." Praba menantap nanar pada Calya.


"Oke. Jawabannya sudah pasti saya tidak akan memilih siapa pun," kata Calya lantang.


"Kenapa? Bukankah Dirga adalah ayah anak itu?" desis Praba.


"Ya karena dua-duanya bukan muhrim saya. Meskipun Dirga adalah ayah anak yang akan saya lahirkan, tetapi dia sudah bukan lagi suami saya. Begitu juga dengan kamu, yang belum menjadi suami saya," sahut Calya.


Namun, perkataan itu justru membuat Praba bergeming, menatap Calya dalam. Sejenak kemudian, Calya pun menyadari bila ada yang salah dengan kata-katanya.


"Em ... maksud saya ...," desis Calya setengah gugup.


"Belum? Artinya ... kamu membuka kesempatan itu?" desis Praba.


"Kesempatan?"


"Cal ... apa kamu membuka kesempatan untuk saya? Kesempatan untuk masuk ke dalam hatimu?"


"Praba ... maksudnya ...."


Praba menyentuh punggung tangan Calya dengan jemarinya. Mengusapnya lembut.


"Calya ... saya sayang sama kamu. Saya ingin menjadi bagian penting dari hidupmu. Saya mau memiliki kamu. Saya akan melindungi dan menjaga kamu, juga anak yang sedang kamu kandung. Saya akan mengakuinya sebagai anak saya." Praba berucap sambil menatap lekat kedua mata wanita itu.


Calya membalas tatapan lelaki itu sesaat. Menyelami dalamnya ketulusan rasa yang diungkapkan oleh lelaki itu. Ia menyadari bahwa Praba sedang mengungkapkan perasaannya, dan menunggu jawaban darinya.


Namun, dengan cepat Calya menarik tangannya dari genggaman lelaki itu. Perlahan, ia menggeleng.


"Tidak, saya tidak bisa. Ini belum waktunya," lirih Calya.


"Kenapa?" tanya Praba. "Apa kamu pikir saya tak serius?" lanjutnya.


Calya menggeleng. "Bukan begitu. Tapi ... kamu tahu kalau saya diceraikan dalam keadaan mengandung. Maka ... biarkan saya melahirkan anak ini dulu. Biarkan Dirga tetap menjadi ayahnya," lirih Calya dengan mata berkaca.


Beberapa detik kemudian air mata Calya luruh, membasahi pipinya. Dengan cepat Praba bergerak untuk mengusap pipi wanita itu dengan jemarinya.


"Tidak, jangan menangis, Cal. Maafkan saya, bila perkataan tadi menyinggung perasaanmu."


Calya menggeleng. "Tidak. Justru saya bahagia," ujarnya.


"Bahagia?" tanya Praba.


Calya mengangguk. "Iya. Saya bahagia karena kamu menyayangi saya lebih dari seorang sahabat. Namun, saya mohon pengertianmu. Penolakan ini bukan karena saya tidak mau menanggapi perasaan itu, tetapi karena saya tidak ingin anak ini mendapatkan dampak fitnah. Begitu juga denganmu, saya tidak ingin kamu pun terkena fitnah. Biarkanlah saya melahirkan anak ini dulu. Dalam masa itu, biarlah juga hubungan kita seperti ini. Saling menjaga sebagai sahabat."


Praba menatap sendu pada wanita itu, kemudian menganggukkan kepala sebagai tanda persetujuan.

__ADS_1


"Terima kasih, Cal. Saya akan tetap menjagamu, menjaga hatimu, dan menjaga perasaan ini,hingga waktu itu tiba."


__ADS_2