
"Apa yang kalian lakukan?" hardik Dirga.
"Tidak, kami tidak melakukan apa pun," sahut Praba.
"Apa? Tidak melakukan apa pun? Kalian kira aku tak bisa melihat?!"
"Saya hanya mencoba menenangkan Calya-"
"Menenangkan? Tengah malam begini?" Tatapan Dirga semakin nyalang. Tak bisa dipungkiri bila dia merasakan cemburu pada temannya itu.
"Kamu sudah menyakiti Calya. Apa kamu tidak sadar? Dia terus menangis, dan aku mencoba untuk membuatnya lebih tenang. Tak ada yang lain." Praba masih berusaha membela diri.
"Tempatkan dirimu pada batasan, Praba. Ini adalah masalah rumah tanggaku." Dirga justru semakin marah.
"Kamu terlalu jahat sebagai seorang suami, Dir!" balas Praba.
"Kamu sudah terlalu jauh mencampuri urusanku!"
"Laki-laki egois! Calya juga berhak untuk bahagia, dan kamu hanya menjadi racun yang terus menyakitinya."
"Brengsek kamu, Praba!" Dirga mencengkeram kerah baju Praba.
Tangannya sudah mengepal hendak meninju wajah Praba. Namun, Calya dengan cepat menarik tubuh Dirga
"Hentikan, Ga! Jangan lakukan apa pun padanya!" pekik Calya.
__ADS_1
Dirga melihat pada Calya dengan pandangan penuh kemarahan. Berbagai rasa bercampur aduk di benaknya. Pelukan yang dilakukan oleh Calya dan Praba tadi sudah cukup membakar hatinya, dan kini Calya justru membela lelaki itu.
"Kamu membelanya, Cal?" gumam Dirga pada Calya.
"Praba tidak bersalah. Dia benar, dia hanya ingin membantu saya melewati kesedihan ini," sahut Calya.
"Apa yang sebenarnya terjadi antara kalian? Apakah selama ini kalian menjalin hubungan di belakangku? Kalian berselingkuh?" hardik Dirga.
"Tidak, Ga. Itu tidak mungkin!" balas Calya.
"Kamu pasti bohong, Cal. Mana ada seorang istri berpelukan dengan pria lain di tengah malam saat suaminya tak ada. Ayo bilang, sudah berapa lama kalian menjalin hubungan di belakangku?"
Plak!
Tepat di akhir kalimatnya, pipi Dirga mendapat tamparan. Calya yang sangat geram dengan tudingan sang suami seakan tam mampu lagi menahan diri untuk tak menghentikannya dengan tamparan itu.
Namun, saat dia hendak maju pada Calya, Praba menarik tangan Dirga.
"Jangan sentuh dia," gumam Praba.
Dirga kembali berpaling pada Praba. "Oh, berarti memang benar, kalian telah berselingkuh!"
"Selama ini, kamu hanya berpura-pura teraniaya atas pernikahan keduaku. Nyatanya, kamu menikmati hubungan spesial dengan lelaki lain. Perempuan murahan kamu, Cal!" Dirga kembali menghardik Calya.
"Cukup, Ga! Saya bilang cukup!" seru Calya.
__ADS_1
"Oke, cukup. Pernikahan kita cukup sampai di situ, Cal," ujar Dirga. Masih dengan manik mata yang berkilat nyalang.
"Apa maksudmu, Ga?" lirih Calya. Suaranya parau setengah merintih.
Ada kekalutan yang kini melanda sanubari Calya. Ucapan Dirga tentang akhir dari pernikahan mereka bagai anak panah yang sedang ditujukan ke jantungnya.
"Kita cerai!" pekik Dirga
"A- apa? Ga ... kamu ...."
"Ya! Calya Janalin, detik ini juga, saya - suamimu, Dirga Mahendra menjatuhkan talak padamu!" seru Dirga.
Saat ini juga, Calya merasa bila anak panah tadi telah benar-benar menancap di jantungnya. Sangat menyakitkan.
Tak hanya itu, langit pun seakan runtuh dan menghantam kepalanya. Kilatan petir menyambar raganya.
Calya merasa benar-benar hancur.
"Kamu menjatuhkan talak padaku, Ga? Kamu begitu tega?" Air mata telah tumpah, membasahi wajah wanita itu.
"Kamu pantas mendapatkannya. Ini yang kamu inginkan kan? Setelah perceraian kita, kalian bisa bebas memadu kasih."
"Kamu sudah gila, Dir!" Praba yang juga terkejut atas talak yang dijatuhkan oleh Dirga bersuara.
"Kamu sudah puas kan? Ambillah perempuan murahan itu! Aku sudah merasa jijik padanya. Dan padamu juga!"
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, Dirga kembali menuju motornya yang terparkir di halaman. Menyalakan mesinnya lalu menancap gas dan pergi meninggalkan rumah dinas itu.
***