
"Jadi ... kira-kira resep apa yang akan kamu kembangkan lagi, Nak Calya?" tanya Bu Nugraha saat mereka duduk di meja makan untuk mencicipi semua makanan hasil eksperimen tadi.
"Untuk satu paket makanan yang bisa mengenyangkan dan tidak membosankan, harganya murah, tentu saja nasi pakai telur balado. Pelengkapnya bisa pakai irisan timun. Bagaimana, Bu? Lagipula, rasa telur balado buatan Ibu berbeda dari biasanya. Racikan sambalnya enak sekali," sahut Calya.
"Hmm ... pilihan yang bagus. Enak dan murah meriah," ucap Bu Nugraha.
"Sebentar ya, Calya foto dulu," ucap Calya.
Ia pun bergegas menata satu paket nasi telur balado itu di piring dan mengambil gambarnya.
"Nah, malam ini kita sudah bisa coba-coba posting untuk promosi. Kalau ada yang order, besok pagi sudah bisa dibuat," ujar Calya dengan semangat.
"Hmm ... kamu wanita yang penuh semangat, sangat mirip dengan mendiang ibu Praba," ujar Bu Nugraha.
"Ibu dan mendiang ibu Praba saling mengenal?" tanya Calya.
"Ya, tentu saja. Dia adalah sahabat saya. Kami saling mengenal dengan baik. Sampai saat kami sama-sama menikah, dia sudah memiliki seorang putra, sedangkan Ibu dinyatakan oleh dokter tak bisa memiliki anak karena kandungan yang tidak subur. Karena hal itulah, Ibu diceraikan oleh suami. Miris sekali, Ibu menjadi janda tanpa memiliki anak. Kemudian, Ibu Praba yang saat itu sedang sakit, meminta pada Ibu agar mau menikah dengan suaminya, dan merawat putranya. Karena itulah, Ibu menjadi ibu sambung bagi Praba. Namun, Ibu sangat mencintainya seperti anak kandung Ibu sendiri." Bu Nugraha bercerita dengan binar mata yang seakan ikut berbicara.
Mendengar hal itu, Calya tertegun. Ia merasa memiliki nasib yang sama dengan ibu sambung Praba itu. Namun, setidaknya ia lebih beruntung karena pada akhirnya tudingan tentang kemandulannya telah terbantahkan.
Mengingat hal itu, perlahan Calya mengelus perutnya. Memberi isyarat pada sang anak bahwa ia akan selalu ada untuknya. Seperti apa pun rintangan yang akan mereka hadapi nanti.
***
Di sebuah homestay.
Dirga sedang merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Sementara sang istri, Haira, sedang berada di kamar mandi.
Pikiran Dirga menerawang seiring dengan tatapan matanya di awang-awang kamar penginapan itu. Ia teringat bagaimana tadi melihat Praba di bandara. Selanjutnya, tentu saja ia akan bertemu lagi dengan teman itu setiap hari. Namun, dengan apa yang pernah terjadi antara mereka, ia tak yakin dengan keakraban hubungan mereka kelak.
__ADS_1
Mengingat Praba, Dirga sontak teringat pada Calya. Batinnya masih bertanya-tanya di mana mantan istrinya itu berada kini. Ia pun teringat bagaimana kedua orang tua Calya mencari putri mereka itu.
Saat mengingat-ingat kemungkinan tujuan kepergian Calya, Dirga pun teringat pada Myesha, adik Calya yang kuliah di kota ini.
"Myesha ...," desis Dirga. "Apa mungkin Calya menemui Myesha di sini? Calya tidak punya siapa-siapa lagi. Tak ada sahabat dekat. Hanya adik satu-satunya itu yang mungkin jadi tujuannya." Dirga masih berucap seorang diri.
Sampai beberapa detik kemudian, Haira keluar dari kamar mandi, dan ikut berbaring di sisi sang suami.
"Lagi mikirin apa sih?" tanya Haira.
"Mikirin besok mau makan apa," sahut Dirga seadanya sambil memiringkan badannya, memunggungi Haira.
Menyadari perilaku sang suami yang seakan enggan mengobrol dengannya, Haira pun memilih untuk memiringkan badan ke arah yang lain. Mereka tidur saling memunggungi.
***
Keesokan harinya, Calya mulai sibuk merekap orderan yang masuk. Telur balado juga menjadi menu yang dibuat hari ini. Rupanya semalam sudah ada beberapa pelanggan yang mengorder menu baru itu.
Sementara itu, Pak Nugraha memilih untuk mengurusi tanaman yang ada di halaman untuk mengisi kegiatan. Apalagi setelah Praba berangkat ke kantor, ia menjadi tak ada teman untuk mengobrol.
***
Di kantor.
Karena ini adalah hari pertama Dirga masuk kantor, ia datang lebih pagi. Setelah menghadap pada pimpinan kantor untuk melaporkan kedatangannya, ia pun ditugaskan untuk memasuki ruangan tempatnya akan bekerja.
Di depan ruangan itu, Dirga melihat plang nama yang tergantung. Praba Satya Nugraha menjadi nama yang tertera di situ. Artinya, Dirga kembali akan berada di ruangan yang sama dengan kawannya itu. Ia pun melangkah masuk, dan menempati sebuah meja yang kosong. Beberapa pegawai lainnya kemudian datang. Mereka pun saling berkenalan.
"Pak Praba sebentar lagi datang kok," ujar seorang pegawai pria.
__ADS_1
Dirga hanya terdiam menanggapi hal itu. Sampai beberapa menit kemudian, Praba memasuki ruangan. Saat melangkah melewati meja yang ditempati oleh Dirga, ia sontak berhenti. Sejenak, kedua pria itu saling beradu pandang.
"Selamat datang, Dirga Mahendra. Selamat bertemu dan bekerja sama lagi. Semoga kali ini tak seperti dulu lagi. Semoga saya tidak lagi lebih sering mengerjakan semua pekerjaan sendiri, bahkan harus meng-handle pekerjaan kamu juga," ujar Praba kemudian.
"Tenang saja, Prab ... sekarang tidak ada persoalan yang harus membuat saya sering meninggalkan pekerjaan," sahut Dirga.
"Oh baguslah. Berarti sekarang hidupmu lebih terarah dan bahagia," ucap Praba lagi.
"Ya ... begitulah," balas Dirga.
"Hmm ... apalagi sebentar lagi istrimu sudah akan melahirkan anak pertama kalian, kamu pasti lebih semangat lagi. Oke ... saya masuk dulu, selamat bekerja," ucap Praba sambil berlalu menuju sebuah ruangan kecil yang ada di situ. Ruangan yang memisahkan mejanya sebagai pimpinan ruangan itu dengan meja pegawai lainnya.
Dirga bergeming. Mendengar perkataan Praba tadi, ia tak mampu berkata-kata. Perkiraan Praba tentang saat kelahiran anaknya bersama Haira adalah hal yang salah. Sebabnya pasti, Praba tak mengetahui kejadian pahit yang menimpa Dirga dan Haira.
"Pak Dirga sekarang tinggal di mana?" Suara seseorang yang duduk di meja sebelahnya, membuat Dirga tersentak dari lamunannya.
"Eh ... sementara ini, saya dan istri masih tinggal di homestay," jawab Dirga.
"Oh ... rencananya sampai kapan tinggal di homestay, Pak?"
"Ya, sampai dapat rumah kontrakan. Em ... apa Mas bisa bantu saya untuk mencari rumah kontrakan?" tanya Dirga pada pegawai laki-laki yang bernama Arya itu.
"Rumah kontrakan? Em ... kayaknya di perumahan dekat sini masih ada yang kosong deh. Rumah di perumahan itu lumayan berat, dua lantai dan ada tiga kamar tidur. Jadi kalau misalnya ada keluarga yang datang ya kamarnya ada. Harganya memang agak lumayan, tapi seimbang lah dengan rumahnya," ujar Arya.
"Wah ... boleh sih. Kapan Mas Arya bisa nemenin saya untuk lihat rumah itu?" tanya Dirga.
"Em ... nanti siang pas jam istirahat juga bisa, Pak," sahut Arya.
"Oke, nanti siang ya," gumam Praba menyetujui usul Arya.
__ADS_1
***