
Calya masih meringkuk di atas tempat tidurnya. Air mata yang tak terbendung mengalir membasahi seluruh wajahnya. Ia benar-benar merasa menjadi wanita yang lemah kini. Tak berdaya menghadapi takdir hidupnya.
Calya tak tahu akan membagi derita ini pada siapa. Orang tuanya pasti akan lebih bersedih bila mendengarkan berita ini. Kesehatan ayahnya sedang tak baik. Ibunya sendiri harus fokus merawatnya. Tak akan adil bila mesti menambah beban pikiran mereka dengan permasalahan yang dihadapi oleh Calya saat ini. Satu-satunya yang tersisa adalah adik perempuannya, Myesha, yang kini sedang kuliah di kota Yogyakarta.
Sampai telepon genggamnya tiba-tiba berdering. Perlahan Calya meraihnya. Nama Praba tertera di layarnya. Calya tertegun. Ia merasakan bahwa Praba selalu hadir saat dirinya sedang terpuruk. Diseretnya tombol menerima panggilan telepon itu.
"Halo ...." sapa Calya.
"Halo ... Bu Dirga, em apa Dirga ada di rumah? Sudah sesiang ini dia belum juga sampai di kantor," ujar Praba.
"Dirga ...? Hmm ... Dirga sedang ke Surabaya, Pak," sahut Calya.
"Lho ... dalam rangka apa? Setahu saya, Dirga tak ada tugas ke sana dan tak mengambil cuti," gumam Praba.
"Ibunya datang menjemputnya, ada urusan keluarga yang harus diselesaikan," ujar Calya.
"Oh .... Berarti, Bu Dirga sendiri lagi ya?" tanya Praba.
Calya tersenyum kecil lalu berkata, "Saya sudah biasa, Pak."
Praba menutup teleponnya dengan raut wajah gusar. Kekhawatiran menyeruak di benaknya. Batinnya bertanya-tanya apakah semua ini ada hubungannya dengan kehamilan istri kedua Dirga. Apakah kedatangan ibunya menjemput Dirga adalah untuk menemui istri keduanya yang sedang mengandung itu?
'Apakah Calya sudah mengetahui bila Dirga akan memiliki anak dari istri keduanya?' batin Praba.
Ia bergegas menyelesaikan pekerjaan yang harus segera tuntas hari ini. Rasanya Praba ingin segera pulang. Tidak, bukan rumahnya lah tujuannya, tapi rumah Calya. Hati Praba tak tenang bila ia tak memastikan Calya baik-baik saja.
***
Sore ini tepat setelah jam kerja berakhir, Praba segera beranjak dari kursinya. Laju jalannya tergesa, menuju parkiran motornya. Dengan cepat ia menyalakannya dan memutar gas, membawa motor itu melaju.
Sebuah toko kue menjadi tujuannya. Setelah membeli beberapa potong kue, ia mampir ke sebuah rumah makan, membeli dua porsi makanan. Lalu kembali melanjutkan perjalanan menuju kompleks rumah dinasnya.
Di depan rumah Calya ia berhenti. Sembari menenteng barang bawaannya, Praba menuju pintu rumah Calya lalu mengetuknya.
Calya yang masih mengurung diri di kamar beranjak keluar setelah mendengar suara ketukan pintu. Setelah mengintip dari balik tirai jendela dan mengetahui bila yang datang adalah Praba, ia pun membuka pintu.
"Sudah saya katakan, Dirga tidak ada, Pak," gumam Calya setelah berhadapan dengan Praba.
"Saya tidak mencari Dirga," sahut Praba.
"Lalu?" tanya Calya.
__ADS_1
"Saya membawakan ini untuk Bu Dirga," ucap Praba sembari menyerahkan dua bungkusan yang dibawanya.
"Apa ini?" tanya Calya.
"Makanan," jawab Praba.
"Mengapa membawakan saya makanan?" tanya Calya lagi.
"Saya hanya mau memastikan agar Bu Dirga makan," jawab Praba.
"Maksud Bapak?"
"Mata Bu Dirga sembab," gumam Praba.
Calya sontak memegang kedua matanya. Tentu saja matanya sembab, sejak semalam air mata terus bergulir dari kedua manik itu.
"Ini ... mungkin karena semalam saya begadang," lirih Calya.
"Saya tahu semuanya," gumam Praba.
"Apa?!" Calya tersentak. Ia bingung dengan arti perkataan Praba.
Calya bertanya-tanya di relung hatinya, 'Sejauh apakah Praba mengetahui prahara rumah tangga antara aku dan Dirga? Rasanya tak mungkin bila Dirga bercerita padanya."
"Bolehkah saya masuk?" pinta Praba membuyarkan lamunan Calya.
"I- iya, silakan," ucap Calya tergagap.
Praba melangkahkan kakinya, memasuki ruang tamu itu. Sejurus kemudian ia duduk di sebuah kursi yang ada di sana. Calya pun turut melakukan hal yang sama. Ia memilih kursi yang berada di sisi lainnya.
"Maaf ... sebenarnya, pada hari itu, dimana Dirga dan kamu ... berseteru di pekarangan belakang, saya mendengarnya ...." Praba berucap sembari menunduk.
Sementara di depan sana wajah Calya malah mendongak. Bola matanya membesar. Kaget.
"Jadi ... Pak Praba tahu bila Dirga ... berpoligami?" tanya Calya lirih.
Praba mengangguk pelan, lalu berkata, "Bahkan saya tahu bila istri keduanya kini sedang mengandung."
Calya menarik napas. "Dirga yang mengatakannya?"
Praba menggeleng. "Saya tidak sengaja mendengar ketika ibunya Dirga menelepon."
__ADS_1
Mata Calya menjadi sayu. Sendu. Wajahnya kini merunduk. Praba mengangkat wajahnya, memandang wanita yang mulai terlihat rapuh itu.
"Apa yang akan kamu lakukan?" lanjut Praba.
Calya kembali menoleh pada Praba.
"Saat ini ... saya seorang diri. Tidak ada yang akan berpihak pada saya Begitu juga dengan keadaan. Yang bisa saya harapkan sekarang hanyalah cinta Dirga. Sampai saat ini, saya masih yakin bila Dirga hanya mencintai saya meskipun ia telah melanggar janji. Mengkhianati saya dengan menyentuh wanita itu." Calya memejamkan mata saat mengingat hal yang diucapkannya.
"Artinya ... kamu akan tetap bertahan dengan pernikahan ini meskipun menyakiti hatimu?" Praba menatap miris pada Calya.
Calya kembali membuka matanya. Sesaat kemudian ia menghela napas.
"Betapa buruknya nasibku bila harus menyandang status janda tanpa anak."
Praba terdiam. Ia menjatuhkan pandangannya ke bawah. Entah mengapa ia merasa dadanya begitu panas. Praba dapat merasakan keperihan hati Calya. Namun lebih menyakitkan lagi bagi pria itu karena Calya tampak tak berdaya.
"Nasibmu tak buruk. Ini hanyalah bagian dari drama hidup yang harus kamu lalui. Sama sepertiku, yang harus melalui satu masa pahit, kehilangan seorang yang kucintai untuk selamanya," ucap Praba masih dengan tertunduk.
"Kamu seorang pria, pasti lebih tegar menghadapi kesendirian ...." balas Calya.
Praba mengangkat kepala, menatap lekat mata Calya. "Pria juga punya hati. Saya pun mengalami kesedihan. Saya pun tak sanggup melewati hari tanpanya. Namun ... hidup belum berakhir. Masih ada banyak hal yang bisa kita lakukan. Masih ada banyak orang yang menunggu tawa kita. Itulah yang akhirnya membuatku bangkit. Lagipula ... menurutku, wanita justru lebih kuat dari pria."
"Apa ... maksud ucapanmu adalah agar saya berani mengambil keputusan? Apa menurutmu ... saya harus mundur dan merelakan Dirga dan wanita itu bersatu selamanya. Apa saya harus menyerahkan milik saya begitu saja?" Calya menatap tajam pada Praba.
"Tidak ... bukan begitu. Tolong jangan marah .... Saya hanya tidak ingin kamu kecewa terlalu lama. Saya tidak mau kamu terus bersedih," sahut Praba.
"Kenapa?" tanya Calya.
"Karena ...." Praba menghentikan ucapannya. Ia menarik napas, seakan tengah menyadarkan dirinya untuk berhenti berbicara.
"Karena apa?" Calya menyentak.
"Karena orang-orang yang menyayangimu pasti tak akan senang bila tahu kau seperti itu. Bukankah masih ada orang lain selain Dirga yang menyayangimu? Orang tuamu misalnya ...."
Calya tertegun atas perkataan Praba. Tubuhnya melemas, memberi isyarat bahwa ucapan itu benar adanya.
Hidup dalam bayang-bayang istri kedua suaminya pastilah akan memercikkan api kesedihan sepanjang hidupnya. Dan cepat atau lambat, keluarganya pasti akan mengetahui hal itu.
Lalu, keputusan apakah yang akan diambil oleh Calya? Sanggupkah hatinya menahan semua keperihan itu? Ataukah ia memang harus mundur dari hubungan pelik ini?
***
__ADS_1