
Dua gelas teh hangat dan nasi goreng sudah terhidang di atas meja.
"Silakan, Bapak dan Ibu sambil makan dan minum," ucap Raindra.
"Terima kasih, Nak Raindra," jawab Pak Darmawan, kemudian menyeruput tehnya.
Hal yang sama dilakukan oleh sang istri.
"Beberapa minggu yang lalu, Calya datang ke cafe ini untuk menanyakan pekerjaan. Di situlah saya melihat dan menemuinya," ungkap Raindra.
"Berarti ... kalian memang tidak sengaja bertemu?" Pak Darmawan memperjelas pernyataan Raindra.
Raindra mengangguk. Sementara Pak Darmawan mengembuskan napas lega, sebab prasangka Dirga tentang adanya lelaki lain yang berhubungan dengan Calya masih belum terbukti.
"Saya turut prihatin dengan hal yang menimpa Calya," ujar Raindra lagi.
"Calya bercerita sama Nak Raindra?" tanya Bu Darmawan.
Raindra menggeleng. "Dia justru langsung pergi tanpa berbicara banyak."
"Lalu ... Nak Raindra tahu dari mana tentang hal yang menimpa Calya?" lanjut Bu Darmawan.
"Myesha," jawab Raindra.
"Nak Raindra sering bertemu Myesha?" tanya Bu Darmawan lagi.
"Oh tidak. Sebelumnya saya tidak pernah bertemu Myesha di kota ini. Justru setelah bertemu dengan Calya lah, saya bertemu Myesha. Bahkan, sekarang Myesha juga sudah bekerja di cafe ini," ujar Raindra.
"Apa? Myesha bekerja di sini?" Serempak Pak Darmawan dan Bu Darmawan berucap.
"Apa dia tidak bilang sama Bapak dan Ibu?" tanya Raindra.
Sepasang suami-istri itu menggeleng.
"Kedua putri kami, saling berbagi rasa bersama. Mereka pasti tidak mau menyusahkan kami. Mengetahui kakaknya sudah tidak bisa membantu biaya kuliahnya lagi, Myesha mungkin memutuskan untuk bekerja," ujar Bu Darmawan sambil menitikkan air mata.
"Calya sendiri ... setahu saya bekerja di cafe lain, milik teman saya, Rainela Cafe," lanjut Raindra.
"Di mana itu?" tanya Pak Darmawan.
"Agak jauh dari sini, mesti naik kendaraan umum, Pak," jawab Raindra.
"Ya Allah, Pak. Anak kita Calya. Dia jadi pelayan cafe?" lirih Bu Darmawan.
__ADS_1
"Iya, Bu. Sepertinya Calya memang terpaksa menjadi pelayan cafe dengan kondisinya sekarang," sahut Raindra.
"Kondisi? Meskipun seorang janda, Calya itu punya pendidikan. Masak semua perkantoran mewajibkan status gadis?" ujar Bi Darmawan.
"Maksud Raindra bukan soal kondisi status Calya, Bu, tapi tentang kehamilannya," ujar Raindra lagi.
"Apa? Hamil?!" Sontak, kedua orang tua Calya itu kembali terkejut.
"Apa maksud Nak Raindra mengatakan bahwa Calya sedang hamil? Bagaimana itu mungkin terjadi dengan statusnya sekarang?" Suara Pak Darmawan terdengar berat.
"Iya, saya juga terkejut. Tetapi, menurut Myesha, itu adalah anak mantan suaminya. Calya tidak menyadari kehamilan itu saat perceraian."
Penjelasan Raindra membuat Pak Darmawan dan sang istri termangu. Keduanya seakan tak mampu lagi berkata-kata. Hal yang dialami oleh putri mereka begitu berat.
"Saya menyesal, kemarin tidak memukul Dirga lebih keras lagi," ujar Pak Darmawan sambil menutup wajahnya dengan telapak tangan.
"Bapak habis bertemu dengannya?" tanya Raindra.
"Ya, kami baru saja dari kota tempat tugasnya. Maksud hati ingin memberi kejutan pada Dirga dan Calya, tetapi ternyata kami lah yang mendapatkan kejutan," sahut Pak Darmawan.
"Nak Raindra sendiri, sejak kapan ada di kota ini?" Bu Darmawan bertanya.
"Raindra sudah tiga tahun di sini, Bu," jawab Raindra.
Raindra pun memahami bila yang dimaksud oleh ibu mantan kekasihnya itu adalah tentang saat ia meninggalkan Calya dan menghilang tanpa kata.
"Iya, Bu," sahut Raindra.
Sama seperti Myesha, Bu Darmawan pun menanyakan alasan Raindra pergi kala itu.
"Maafkan Raindra, Bu, Pak." Hanya kalimat itu yang diutarakannya.
"Lalu ... apakah Nak Raindra sudah berumah tangga?" tanya Bu Darmawan lagi.
Raindra menggeleng serta memberikan jawaban tentang statusnya kini. Pak Darmawan dan sang istri hanya berpandangan mendengar penuturan Raindra.
Sampai akhirnya, mereka pun menghabiskan makanannya dan berpamitan untuk pulang setelah membayar bill mereka. Meskipun Raindra melarang mereka untuk melakukannya.
***
Setiba di kawasan kontrakan, Pak Darmawan dan Bu Darmawan memutuskan untuk menunggu sejenak di kediaman sang pemilik kontrakan. Beruntung, mereka disambut dengan baik sehingga bisa beristirahat sejenak.
Sampai saat waktu menunjukkan pukul lima sore, sebuah motor berhenti di depan kamar kos milik Myesha.
__ADS_1
"Wah, kayaknya Mbaknya Myesha sudah pulang, Bu, Pak," ucap ibu kos.
"Iya kah?" tanya keduanya sambil berdiri dari kursi mereka di ruang tamu rumah itu.
Sementara itu, Calya tampak sudah turun dari boncengan motornya. Sang pengemudi pun melakukan hal yang sama. Melepaskan helm lalu turun dari motor, kemudian mengikuti langkah Calya menuju pintu kamar kos itu. Namun, saat Calya masuk, si lelaki hanya duduk dan menunggu di teras.
Saat itu, Pak Darmawan dan sang istri mengembuskan napas lega. Sebabnya, karena sedari tadi jantung mereka berdebar kencang karena melihat putri mereka yang baru saja menjanda itu pulang bersama seorang lelaki. Mereka mencoba untuk mengamati lelaki yang memakai jaket kulit itu, tetapi mereka merasa tak mengenalinya.
"Kalau begitu kami permisi ya, Bu. Biar kami ke kamar kos itu saja. Anak kami kan sudah pulang." Bu Darmawan berpamitan pada si pemilik kontrakan.
Setelah itu, mereka pun bergegas menyeberangi jalan sambil membawa tas bawaannya.
"Assalamualaikum," sapa mereka setiba di depan kamar.
"Waalaikumsalam," sahut lelaki yang sedang duduk di teras itu. Melihat kedatangan sepasang suami istri itu, ia pun berdiri.
"Maaf, Bapak dan Ibu mau mencari siapa ya? tanya Praba.
Pak Darmawan dan Bu Darmawan masih mengamati lamat lelaki itu.
"Kami adalah orang tua Calya dan Myesha. Anda sendiri siapa ya?" ujar Pak Darmawan.
"Oh, ya ampun. Maaf ... maaf Pak, Bu. Saya kira tadi siapa. Saya Praba, teman Calya," sahut Praba sambil mengulurkan tangannya.
Pak Darmawan dan sang istri saling berpandangan sejenak sebelum akhirnya mengulurkan tangan menyambut salam Praba secara bergantian.
"Kebetulan, saya baru pulang kantor dan menjemput Calya di tempatnya bekerja, lalu mengantarkan pulang. Sekarang mungkin dia sedang mandi, karena setelah ini kami akan ke dokter," ucap Praba.
"Ke dokter? Calya sakit?" tanya Bu Darmawan dengan ekspresi panik.
Praba menggeleng. "Bukan, Bu. Calya ...." Praba tak melanjutkan perkataannya. Berbagai hal tiba-tiba berputar di kepalanya. Praba tak tahu pasti apakah kedua orang tua Calya telah mengetahui semua hal yang menimpa putri mereka itu.
Sampai akhirnya, Praba pun mengurungkan niatnya untuk memberikan penjelasan.
"Em ... sepertinya Bapak dan Ibu bisa masuk ke dalam untuk beristirahat. Calya mungkin masih ada di kamar mandi," ujar Praba.
"Iya, Bu. Ayo lah," ajak Pak Darmawan.
Suami istri itu pun masuk ke dalam kamar. Tepat di saat mereka berada di situ, Calya keluar dari kamar mandi, dengan mengenakan pakaian yang berbeda dari saat ia pulang tadi.
"Astaga! Bapak? Ibu?" ucap Calya sambil menjatuhkan handuk yang dipegangnya.
***
__ADS_1