Sengketa Hati (CALYA)

Sengketa Hati (CALYA)
Menang dan Kalah


__ADS_3

"Halo, Ma ... Haira membawa kabar gembira. Haira menang, Ma," ucap Haira setelah teleponnya terhubung.


"Halo, Sayang ... kabar gembira apakah itu? Kedengarannya kamu senang sekali," sambut sang ibu.


"Tidak lama lagi, Haira akan menjadi istri satu-satunya, Ma."


"Apa?"


"Iya, Ma. Dirga akan menceraikan Calya. Istri tak bergunanya itu."


"Astaga? Benarkah itu, Sayang?" tanya sang ibu memastikan.


"Benar, Ma. Dirga baru saja mengatakannya."


"Oh, syukurlah, Nak. Mama turut bahagia. Semoga saja proses perceraian itu berjalan secepatnya. Mama akan menyampaikan kabar ini pada Papamu, Mirna dan juga kedua mertuamu. Mereka juga pasti senang mendengar kabar ini."


"Iya, Ma."


"Lalu ... bagaimana dengan kandunganmu?" tanya Bu Broto lagi.


"Baik-baik saja, Ma. Apalagi saat ibunya sedang bahagia seperti ini, bayinya sudah pasti akan bahagia juga."


"Baguslah, Sayang. Jangan lupa untuk selalu mengabari kami ya."

__ADS_1


"Tentu saja, Ma," sahut Haira sebelum menutup teleponnya.


Sementara itu, di kantor Dirga hendak memasuki ruangan Pak Bambang saat Praba datang dan berpapasan dengannya.


Aduan mata mereka saling menyiratkan perlawanan. Kecemburuan Dirga pada Praba serta ketidaksenangan Praba atas perlakuan Dirga pada Calya.


Akan tetapi, Dirga segera memalingkan pandangannya dan bergegas menuju ruangan sang pimpinan.


"Permisi, Pak," ucap Dirga setelah membuka pintu.


"Ya? Pak Dirga mari masuk," sambut Pak Bambang.


"Terima kasih kasih, Pak," sahut Dirga sambil berjalan masuk dan duduk di sebuah kursi di hadapan Pak Bambang.


"Sebelumnya saya minta maaf, Pak, atas kejadian menyangkut nama saya yang terjadi belakangan ini. Namun, hari ini saya terpaksa menghadap Bapak lagi untuk meminta izin," ujar Dirga memulai maksudnya.


"Izin? Pak Dirga mau ke mana?" tanya Pak Bambang sehubungan dengan kata izin yang diucapkan Dirga.


"Maksud saya bukan izin untuk tidak masuk kantor, Pak, tapi ...."


Dirga berhenti untuk berpikir sejenak.


"Tapi apa, Pak Dirga?" Pak Bambang agak mencondongkan badannya untuk memastikan arah pembicaraan Dirga.

__ADS_1


"Tapi izin untuk bercerai, Pak," lanjut Dirga.


"Apa? Bagaimana bisa begitu, Pak? Bukankah Bapak bilang bahwa pernikahan dan rumah tangga Pak Dirga dan Bu Calya baik-baik saja?"


"Iya, Pak. Sebelumnya memang begitu, tapi tidak untuk saat ini."


"Apakah Bu Dirga sudah tidak sanggup dengan poligami yang Pak Dirga lakukan?" selidik Pak Bambang lagi.


"Mungkin seperti itu, Pak. Saya sudah menjatuhkan talak padanya. Namun, yang pasti, istri saya sudah tak setia."


"Maksud Pak Dirga?"


"Istri saya sudah memiliki lelaki lain."


Roman muka Pak Bambang terlihat serius. Dalam hati ia bertanya-tanya, apakah hal yang diungkapkan oleh Dirga ini benar adanya atau hanya bagian dari rekayasa yang dilakukan oleh Dirga.


"Baiklah, hadirkan Bu Dirga di sini untuk saya mintai keterangannya," ucap Pak Bambang yang diiyakan oleh Dirga.


Sekembalinya Dirga di ruangannya, ia segera mengirim pesan pada Calya untuk datang ke kantor dan memenuhi panggilan pimpinan kantor ini. Calya yang menerima pesan itu hanya menarik napas untuk mencoba mengontrol emosi dan kesedihannya lagi.


Calya sudah merasa cukup untuk menangis. Langkahnya pasti kini, melepaskan diri dari jeratan pernikahan yang tak lagi sehat ini. Pernikahan yang hanya menjadi belenggu kebahagiaannya.


Meskipun pengundurannya menjadi tanda kekalahan, Calya merasa itu menjadi lebih baik. Ia mungkin kalah pada takdir saat ini, tetapi tidak untuk esok hari.

__ADS_1


***


__ADS_2