Sengketa Hati (CALYA)

Sengketa Hati (CALYA)
Kenangan Kedekatan 2


__ADS_3

Suara teriakan Calya terdengar sampai ke telinga Praba. Dengan segera, pria itu berlari keluar dari rumahnya, menuju sumber suara itu. Rumah Calya.


"Astaga!" seru Praba setelah membuka pintu rumah.


"Ibu Dirga, ada apa?" ucapnya lagi.


Tubuh Calya sedang meringkuk di sudut ruang tamu. Praba segera menghampirinya. Mengguncang-guncang tubuh Calya untuk mengembalikan kesadarannya.


Teriakan histeris Calya pun terhenti, kini yang tersisa hanya isak tangis kepiluan.


Praba merengkuh tubuh Calya. Memeluknya.


***


Saat ini Calya sedang terbaring di tempat tidurnya. Praba masuk ke kamar itu dengan membawakan secangkir teh hangat.


"Minumlah ini," ucap Praba.


Calya meraih cangkir itu, "Terima kasih."


"Ada apa?" gumam Praba.


"Bila kuberi tahu, apa yang bisa kau lakukan?" tanya Calya lirih.


"Ada kalanya kita memerlukan seseorang untuk mendengarkan. Setidaknya itu akan mengurangi beban yang menumpuk di dalam hati," jawab Praba.


"Apakah aku bisa mempercayaimu?" tanya Calya lagi.


"Apakah aku terlihat seperti orang yang tidak bisa dipercaya?" balas Praba.


"Kita baru saling kenal."


"Perlukah mengenal lama untuk dapat saling percaya?"


Calya tertegun. Ucapan Praba seperti menyadarkannya pada sesuatu. Tentang kepercayaan. Tentang hubungan.


Dirga adalah suaminya, orang yang sudah lama bersamanya. Mengenalnya luar dan dalam.


Tapi nyatanya ... Dirga telah membohonginya. Dirga tak jujur padanya. Pun tak menepati janjinya.


Sesaat kemudian Calya mengangkat kepalanya, memandang wajah Praba.


"Apakah kamu pernah merasakan dibohongi?" tanya Calya.


"Pasti pernah."


"Oleh orang yang kau percaya?"


"Ya."


"Orang yang kau cintai?"


Praba terdiam. Lalu menggeleng, "Bukan."


"Lalu bagaimana aku bisa berbagi rasa denganmu?" tanya Calya lirih.


"Aku pernah merasakan kehilangan. Tak ada rasa yang lebih menyedihkan dari itu."


Calya terdiam. Ucapan Praba menegunkannya. Dia tersadar, Praba pernah kehilangan istrinya. Bahkan kehilangan untuk selamanya dan tak akan mungkin bertemu lagi di dunia ini.


***


Calya sudah tak berharap banyak dengan telepon genggamnya. Nomor Dirga sudah benar-benar tak bisa dihubunginya.


Calya sedang menatap wajahnya di cermin pagi ini saat suara ketukan pintu terdengar. Calya pun beranjak membuka pintu.


"Pak Praba?" desisnya sembari memperhatikan pria yang datang itu.


Dua buah kantong plastik menjadi tentengannya.


"Em ... saya baru dari pasar berbelanja. Kalau boleh, saya mau memasak di dapur Bu Dirga. Ya ... sekalian masak buat Bu Dirga juga," gumam Praba.


"Memangnya Pak Praba bisa memasak?" tanya Calya.


"Tentu saja. Tidak percaya?"


Calya berpikir sejenak. "Oke, let's see!" seru Calya kemudian.


Praba pun mengikuti langkah Calya menuju dapur. Setibanya di sana, Praba meletakkan barang bawaannya di meja.


"Memangnya Pak Praba belanja apa saja?" tanya Calya sambil mengambil beberapa wadah dari rak piring.


"Ikan nila, berbagai sayuran, tempe dan tahu," sahut Praba.


Calya pun mendongak untuk melihat barang belanjaan yang sudah dikeluarkan oleh Praba dan sedang ditempatkan ke dalam wadah yang diberikan oleh Calya tadi.


'Pintar juga pria ini berbelanja,' guman Calya dalam hati. Sementara Dirga memang tak pernah melakukan hal itu.


"Terus mau dimasak bagaimana bahan-bahan itu?" tanya Calya lagi.


"Sayur asem, tempe tahu goreng, nila goreng tepung dan sambal terasi," jawab Praba.


Calya tersenyum lalu berkata, "Oke, ayo kita mulai."


Mereka berdua pun mulai menyiangi bahan-bahan masakan itu, mencucinya dan menyiapkan bumbu-bumbu. Karena begitu asyik Praba tak sadar bila tangannya menyentuh alas panci yang berwarna hitam. Saat mengelap peluhnya, warna hitam itu pun berpindah ke wajahnya.


Calya yang melihat wajah Praba tercoreng seperti itu sontak tertawa.


"Apa yang Bu Dirga tertawakan?" tanya Praba.


"Itu," sahut Calya sambil menunjuk wajah Praba.


"Memangnya wajah saya kenapa?" tanya Praba bingung.


Naasnya, Praba malah mengusap wajahnya lagi yang membuat noda hitam itu semakin bertambah.


"Aduh, jangan dipegang lagi wajahnya, Pak! Coba sini saya bantu," ujar Calya sembari mengambil beberapa lembar tisu dan membasahinya dengan sedikit air.


Sesaat kemudian Calya sudah menyapu tisu itu ke wajah Praba. Praba hanya terdiam mendapat perlakuan itu. Sesaat napasnya seperti tertahan. Sentuhan Calya membuat nuansa berbeda dirasakannya saat ini.


Wajah Calya yang begitu dekat dengannya kini membuat darahnya seketika berdesir. Tatapannya tak berkedip pada wajah Calya yang tampak serius melap noda di wajahnya.


"Nah, sudah," gumam Calya.


Namun Calya seketika tersadar sesuatu saat ada bau menyengat diciumnya. Ternyata ikan yang tadi sedang digorengnya sudah menggosong.


"Aduh, ikannya!" pekik Calya lagi.


Praba pun ikut panik. Bergegas dia mematikan kompor, sedangkan Calya tengah berusaha mengangkat ikan yang sudah berwarna hitam itu.


"Yaahhh! Ikannya gosong deh," gerutu Calya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Bu. Walaupun gosong, kalau dimakan dengan setulus hati pasti tetap enak," celetuk Dirga.


Calya menatap Praba, yang dibalas dengan mengangkat alis oleh Praba. Lalu berakhir dengan decak tawa mereka berdua.


Praba dan Calya kini tengah menikmati makan siang hasil jerih payah mereka. Sayur asem, tahu dan tempe goreng, sambal terasi dan ikan nila goreng gosong.


Duduk berhadapan di meja makan rumah Calya, keduanya tampak menikmatinya dengan lahap.


Praba tertegun sejenak. Ada perasaan tenang di hatinya kini. Setidaknya hari ini dia telah memastikan bahwa Calya mengisi perutnya dengan baik, serta yang terpenting adalah hari ini Calya tertawa.


***


Brembembem ... brembembem ....


Lamunan Calya buyar saat mendengar suara erangan motor Praba memasuki halaman.


'Hujan-hujan begini dia dari mana?' Batin Calya bertanya-tanya.


Praba kini sudah memarkir motornya di teras dan masuk ke dalam rumah. Akan tetapi bunyi bersin Praba masih sempat terdengar oleh Calya.


Malam ini hujan telah reda, dan Calya masih duduk menghadap jendela. Namun, kali ini dia tak lagi mengingat tentang Dirga. Kepulangan Praba di tengah hujan deras tadi lah yang kini menggelitik pikirannya.


Calya mengambil gawainya, mencari kontak Praba dan mulai mengirimkan pesan WhatsApp.


[Pak ....]


Terkirim, centang dua abu-abu. Hingga beberapa menit Calya tak jua mendapat balasan.


Calya mulai gelisah. Entah mengapa perasaannya mulai tak tenang. Setelah berpikir sejenak, ia pun bergegas keluar dari rumahnya, menuju rumah Praba.


Sesampai di depan pintu, tangannya segera mengetuk. Namun tak jua ada jawaban. Rasa penasaran mendorong Calya untuk mencoba membuka pintu.


Ceklek. Pintu terbuka. Calya melangkahkan kaki memasuki rumah Praba. Di dalam tampak sepi, bahkan hingga ia memasuki dapur.


'Di mana dia?' gumam Calya dalam hati.


Calya melihat pintu kamar sedikit terbuka. Mulanya ada keragu-raguan di benaknya untuk melihat ke dalam kamar itu. Namun, rasa cemas yang membuatnya tak tenang akhirnya mendorong langkahnya perlahan menuju kamar itu.


Perlahan didorongnya pintu. Setelah melihat ke dalam, Calya tersentak. Praba sedang terbaring di tempat tidur.


Calya mencoba mendekat. Dilihatnya wajah Praba yang tampak pucat. Hati Calya mulai curiga bila Praba sedang tak baik-baik saja. Sesaat kemudian punggung tangannya sudah menyentuh dahi Praba.


"Astaga! Panas sekali ...." desis Calya pelan.


Dengan cepat Calya berlari keluar kamar, menuju ke dapur. Mengambil wadah dan mengisinya dengan air hangat. Namun, karena bingung mencari kain untuk mengompres di rumah Praba, Calya segera berlari ke rumahnya untuk mengambil sapu tangan miliknya. Juga minyak gosok dan beberapa butir bawang merah.


Setelah kembali berada di kamar Praba, wanita itu pun segera mengompres dahi Praba. Calya menduga bila Praba mengalami demam akibat kehujanan tadi.


Sesaat kemudian Calya pergi ke dapur untuk memarut bawang merah yang dibawanya tadi. Lalu menyimpannya ke dalam mangkuk yang kemudian dilumuri dengan minyak gosok.


Calya telah kembali ke dalam kamar dan mulai melumuri badan Praba dengan ramuan yang dibuatnya tadi. Setelahnya Calya kembali merapikan pakaian Praba dan kini duduk di samping tempat tidur pria itu.


Beberapa menit sekali, Calya mengganti kompresan di kepala Praba sembari sesekali memeriksa suhu tubuhnya dengan punggung tangannya.


Malam semakin larut, namun suhu tubuh Praba tak jua menurun. Rasa kantuk mulai menerjang mata Calya, namun sekuat tenaga berusaha dilawannya. Dia merasa harus tetap bangun untuk memastikan air kompresan berganti di dahi Praba.


Hingga setelah melewati sepertiga malam, pertahanan Calya akhirnya runtuh juga. Kepalanya telah terhuyung di tepi tempat tidur Praba dengan posisi masih duduk di kursinya.


***


Sinar matahari pagi menyusup masuk melalui celah-celah ventilasi kamar itu. Praba yang dapat merasakan hangatnya bias cahaya itu perlahan membuka matanya. Seketika dia terkejut saat merasakan ada orang lain di sekitarnya.


Begitu hendak bangun, sapu tangan kompresan yang ada di dahinya pun terjatuh. Praba seketika teringat akan hal yang dialaminya kemarin. Saat ia pergi untuk membeli hadiah ulang tahun untuk Calya, hujan deras tiba-tiba turun. Karena merasa perlu untuk segera pulang menyiapkan kejutan ulang tahun untuk Calya, ia pun menerobos derasnya air yang jatuh dari langit itu.


Dan Praba pun menyadari bila wanita yang sedang tertidur itu adalah Calya. Selain itu, ia juga menyadari bila wanita itu berada di kamarnya semalaman dan mengompresnya serta membalur tubuhnya dengan minyak bercampur dengan bawang merah. Praba melihat mangkuk berisi ramuan itu di meja. Pun ia meyakinkan diri dengan mencium aroma tubuhnya.


***


Praba beranjak bangkit. Mengangkat tubuh Calya ke tempat tidur. Memposisikannya agar tidur dengan nyaman. Setelah itu, ia berlalu ke dapur untuk membuat sarapan.


Beberapa menit kemudian sebuah omlet sudah tersaji. Dua gelas teh juga telah bertahta di meja. Praba meletakkan sebuah kotak di tengah-tengah meja.


Mencium aroma masakan serta merta membuat Calya membuka mata. Ia kaget saat menyadari sedang tertidur bukan di kamarnya sendiri. Calya beringsut bangkit.


Lalu ... perlahan ia menyadari sedang berada di rumah Praba. Bergegas ia keluar dari kamar, menuju dapur.


"Pak Praba ...." gumam Calya saat melihat Praba sedang mencuci perkakas.


"Eh ... Bu Dirga sudah bangun?" tanya Praba.


"M- maaf ... saya ketiduran di ...."


"Terima kasih," sahut Praba.


"Ya ... em ... semalam saya datang mencari Pak Praba, tapi tak ada jawaban. Rupanya pintu masih terbuka, jadi ... saya masuk dan melihat Pak Praba sedang demam. Lalu ...."


"Terima kasih, Bu Dirga" ucap Praba sembari berjalan menuju meja makan dan membuka kursi. "Silahkan duduk," lanjutnya.


"Hem? Pak Praba sudah sehat?" tanya Calya bingung.


"Apakah Bu Dirga masih melihat saya sakit?" balas Praba.


Calya menggeleng.


"Kalau begitu sekarang duduklah," ujar Praba.


Calya pun melangkah menuju kursi itu dan duduk.


"Sekarang kita sarapan," ucap Praba setelah turut duduk di kursi depan Calya.


"Pak Praba yang menyiapkan ini? tanya Calya.


"Apakah Bu Dirga melihat ada orang lain di sini?" lirih Praba sembari menengok ke sana kemari.


Calya tertawa.


"Sekali lagi ... terima kasih, sudah merawatku semalaman," desis Praba.


"Sama-sama .... Bukankah Pak Praba yang lebih banyak menolong saya?" sahut Calya.


"Mungkin ... kita memang ditakdirkan untuk saling menolong," ucap Praba.


"Ya, mungkin ... walaupun dengan awal pertemuan yang lucu ...."


"Bu Dirga masih mengingatnya?"


"Tentu saja. Dan ... begitu mengetahui bila Pak Praba adalah atasan Dirga di kantor, saya jadi malu sendiri," ujar Calya.


"Oh ya?" Praba menaikkan sebelah alisnya.


"Sudah ah, jangan diingat lagi kejadian itu." Calya menundukkan wajahnya karena malu.

__ADS_1


"Oke, kalau begitu ayo kita sarapan," ajak Praba.


Calya pun mengangguk lalu mulai menyeruput tehnya. Sepotong omlet sudah berpindah ke piring mereka masing-masing.


"Em ... ini apa, Pak?" tanya Calya saat pandangannya jatuh pada kotak yang berada di tengah meja itu.


"Bukalah!" sahut Praba sambil menyuapkan sesendok omlet ke mulutnya.


"Maksud Bapak?" tanya Calya bingung.


"Kalau ingin tahu isinya, ya buka saja," jawab Praba.


Perlahan Calya meraih kotak itu lalu membukanya. Sebuah kalung emas dengan liontin berbentuk bundar.


"Ini kalung milik siapa, Pak?" tanya Calya.


"Selamat ulang tahun," gumam Praba.


"Apa?! Ulang tahun? Saya ...." Calya mengingat-ingat tanggal hari ini.


Dan benar saja, hari ini adalah peringatan hari kelahirannya ke dua puluh tujuh tahun.


Calya kembali menatap Praba. Pertanyaan berkecamuk di benaknya. Mengapa Praba bisa mengetahui hari kelahirannya itu..


"Bagaimana Bapak-"


"Bisa tahu?" Praba memotong ucapan Calya.


Calya mengiyakan dengan anggukan.


"Kemarin di kantor, saya tidak sengaja melihat data milik Dirga, dan di sana ada pula data istrinya. Mengetahui hari ini adalah ulang tahun Bu Dirga dan ... suaminya sedang tak ada di sini, saya terpikir untuk membuat kejutan kecil untuk Bu Dirga agar tak merasa sendiri di hari bahagia ini. Namun ... hujan deras membuat saya harus demam semalam. Jadi yang tadinya saya berencana memberikan kejutan di tengah malam, malah tak jadi," jelas Praba.


Calya terdiam sejenak. Batinnya berkecamuk. Mengapa Praba bisa peduli pada hari ulang tahunnya? Sementara Dirga, suaminya, orang yang semestinya ada bersamanya untuk merayakan hari ini, justru entah berada dimana saat ini.


Dari kursinya Praba telah berdiri, berjalan ke arah wanita di hadapannya. Ia meraih kalung yang ada di tangan Calya. Lalu melingkarkannya ke leher wanita yang masih duduk dengan perasaan yang tak bisa dijelaskan itu.


"Liontin kalung ini berbentuk bulat seperti bulan. Bila Bu Dirga merasa sedang sendiri dan sedih, genggam lah ini," ucap Praba setelah kalung itu terlingkar di leher Calya.


Calya menggenggam liontin itu lalu menoleh pada Praba, "Terima kasih atas kebaikan Pak Praba ...."


Praba membalas tatapan Calya. Ada rasa yang entah sedang berkecamuk di hati pria itu. Rasa yang tak mungkin bisa diungkapkan karena sebuah status.


Namun yang pasti, Praba tak ingin Calya berlarut-larut dalam penderitaan batinnya yang entah sampai kapan akan terjadi itu.


***


Pagi ini Calya pergi ke pasar untuk berbelanja bahan makanan. Setelah perayaan ulang tahunnya tadi bersama Praba, ia seolah tak ingin berlarut dalam kesedihan lagi. Bila orang lain saja mau berbagi bahagia bersamanya, mengapa dia harus menyiksa dirinya sendiri dalam kesedihan. Bila suaminya sendiri saja sudah berdusta padanya, untuk apa dia merutuk dirinya sendiri dalam kesengsaraan.


Calya memutuskan untuk memasak sup ayam hari ini. Semua bahan yang dibutuhkan sudah ada dalam kantong plastik yang ditentengnya kini. Calya sudah sampai di depan pagar rumah dinas. Namun saat berjalan masuk ke halaman ia terkaget, Praba sedang duduk di bangku yang ada di halaman itu dengan mengenakan seragam kerjanya.


"Pak Praba?" tanya Calya.


"Hufh ... rupanya ke pasar ya?" tanya Praba.


"Iya ... memangnya kenapa?"


"Saya khawatir Bu Dirga pergi ke tempat yang tidak-tidak," sahut Praba.


"Maksudnya ke tempat yang tidak-tidak itu apa ya?" tanya Calya bingung.


"Hmm ... maksudnya, em ... saya khawatir kalau Bu Dirga masih sedih lalu frustasi dan ... ya begitulah."


"Ya ampun! Berarti tadi Pak Praba mengecek keberadaan saya di rumah, lalu karena saya tidak ada, Pak Praba menunggu di sini?" tanya Calya lagi.


"Begitulah ...."


Calya menepuk dahinya. "Sepulang dari rumah Pak Praba tadi saya mandi lalu berangkat ke pasar. Sudah ah, saya mau masuk. Mau masak dulu," ucap Calya sembari berjalan maju.


Namun baru beberapa langkah ia berhenti dan menoleh pada Praba.


"Pak Praba sudah benar-benar sehat dan yakin akan ke kantor?" tanya Calya.


"Ya," sahut Praba.


"Kalau begitu ... Pak Praba tidak usah masak hari ini ya! Nanti saya bagi sup ayam yang mau saya masak," ucap Calya.


"Oh ... iya ... iya. Hmm ... saya ke kantor dulu, ya. Nanti siang saya pulang untuk makan siang. Rasanya ... sudah tidak sabar makan sup ayam buatan Bu Dirga," sahut Praba sambil sedikit menggaruk kepalanya.


Calya tersenyum lalu kembali berjalan masuk ke dalam rumahnya. Sementara Praba menaiki motornya yang terparkir di halaman dan berlalu menuju kantor.


***


Tok ... tok ... tok ....


Pintu rumah Calya terketuk. Calya berlalu membuka pintu.


"Ya ampun, Pak Praba ... kok baru datang? Ini kan sudah hampir jam tiga sore," sambut Calya.


"Iya maaf, tadi pekerjaan saya banyak sekali. Maklum, Dirga belum kembali, jadi semua harus saya tangani sendiri," sahut Praba.


"Oh ... saya kira Pak Praba lupa janji untuk pulang mencicipi sup ayam buatan saya. Terus ... Pak Praba sudah makan belum?" tanya Calya.


"Ya belum. Jangankan untuk makan, bernapas saja kayak tak ada waktu lantaran menumpuknya pekerjaan. Emm ... saya tidak mungkinlah melupakan janji pada Bu Dirga. Jujur saja ... sup ayam itu selalu terbayang-bayang saat saya bekerja tadi," gumam Praba.


Calya dan Praba terkekeh bersama.


"Ya sudah, mari masuk. Pak Praba makan di sini saja ya. Kasihan kalau makan di rumah, nanti Pak Praba mesti cuci piring lagi padahal masih lelah," ucap Calya sambil mempersilahkan Praba ikut dengannya ke dapur.


Setelah Praba duduk di kursi makan, Calya mulai menyiapkan peralatan makan untuk Praba. Sup ayam itu sudah tersaji di meja. Praba pun mulai menyendokkan makanan itu ke piringnya dan mulai menikmatinya.


"Bagaimana enak tidak, Pak?" tanya Calya.


"Hmm ... gimana ya? Apa saya harus jujur?" balas Praba.


"Ya harus dong," ujar Calya.


"Tapi Bu Dirga tidak boleh marah lho ...."


"Ya tidaklah. Justru kalau memang ada yang harus dikoreksi ya saya akan lebih senang lagi, supaya besok-besok rasa masakan ini lebih sempurna," sahut Calya.


"Oke ... menurut saya ... Bu Dirga sudah bisa buka warteg," gumam Praba.


"Maksudnya?" tanya Calya.


"Ya karena rasa masakan ini enak, jadi Bu Dirga sudah bisa buka warteg," ucap Praba.


"Kok warteg sih, Pak. Kerenan sedikit dong, rumah makan apa restoran begitu ...." gerutu Calya.


"Hum ... jangan ngambek dong. Iya deh, nanti kita joint untuk buka restoran bersama. Bu Dirga kokinya, saya pelayannya," ujar Praba.


Mendengar perkataan Praba, sontak Calya tergelitik dan tertawa terbahak-bahak. Begitupun Praba yang juga geli dengan ucapannya sendiri.

__ADS_1


***


__ADS_2